Oleh Lies Noor
Subuh tak pernah bicara
Ia datang dengan sejumput harapan
Dan pulang mengantar mimpi yang disimpan para perempuan di laci ingatan
Lalu, saat mereka kembali menyingkap tirai yang tak lagi bercahaya bulan
Asap dan debu trotoar menyambut dengan semringah, “Puan, kau tak terlambat datang pagi ini!”
Kemudian senyum jingga merona,
Mistis!
Ibarat rayuan lelaki buaya
Lelah mereka (para puan),
mendadak raib di sisa gerhana
Leburkan peluh yang lupa menjadi hujan
Dan dingin yang tak lagi menekuk jantung
Ingar-bingar,
Telunjuk di kepala ialah sarapan sebelum ritual
dan jiwa yang juga lupa cara menebus ego,
hanya tertawa _atau_ menangis tanpa suara?
Para Puan
memintal angan dalam tikaman jelujur
Menoreh jampi di setiap jejak jarum yang tak rapi
Berdiskusi dengan waktu
esok, lusa, atau pada saat menjelang purnama
rupiah menjelma langgam
yang kelak akan mereka titipkan
pada sekotak nazar
helai demi helai…
Ciater, Juni 2025










