Sajak Peluh Para Puan

Asap dan debu trotoar menyambut dengan semringah, "Puan, kau tak terlambat datang pagi ini!" 

Oleh Lies Noor

Subuh tak pernah bicara

Ia datang dengan sejumput harapan

Dan pulang mengantar mimpi yang disimpan para perempuan di laci ingatan

Lalu, saat mereka kembali menyingkap tirai yang tak lagi bercahaya bulan

Asap dan debu trotoar menyambut dengan semringah, “Puan, kau tak terlambat datang pagi ini!” 

Kemudian senyum jingga merona,

Mistis! 

Ibarat rayuan lelaki buaya

Lelah mereka (para puan), 

mendadak raib di sisa gerhana

Leburkan peluh yang lupa menjadi hujan

Dan dingin yang tak lagi menekuk jantung

Ingar-bingar,

Telunjuk di kepala ialah sarapan sebelum ritual

dan jiwa yang juga lupa cara menebus ego, 

hanya tertawa _atau_ menangis tanpa suara?

Para Puan

memintal angan dalam tikaman jelujur 

Menoreh jampi di setiap jejak jarum yang tak rapi

Berdiskusi dengan waktu

esok, lusa, atau pada saat menjelang purnama

rupiah menjelma langgam 

yang kelak akan mereka titipkan 

pada sekotak nazar

helai demi helai…

Ciater, Juni 2025

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Aliansi Perempuan Indonesia Desak DPR Setop Pembahasan RUU TNI: “Negara Jangan Main-main dengan Nyawa Perempuan!”

Aliansi mengingatkan bahwa revisi ini dilakukan dengan cara tertutup, terburu-buru, dan tanpa partisipasi masyarakat sipil. Mutiara Ika Pratiwi dari Perempuan Mahardhika mengingatkan bahwa situasi ini bukanlah persoalan sepele. “Kita bicara tentang sejarah berdarah bangsa ini. Pengalaman selama era Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, Papua, dan daerah lainnya, perempuan selalu menjadi korban kekerasan seksual sistematis sebagai alat kekuasaan militer,” jelasnya.

Obor Kemarahan Marsinah

Obor Marsinah/Ari/dok dev.marsinah.id   Oleh Lanang Jagad    22 tahun berlalu kematian marsinah Disiksa, Diperkosa, lalu dibunuh Marsinah hanya menuntut Apa yang harus Jadi miliknya

Tjitjih, Berkesenian Hingga Akhir Hayat

gambar diambil dari https://seputarteater.wordpress.com/2015/09/06/aneka-1954-memperkenalkan-sandiwara-miss-tjitjih/ Tjitjih, Gadis Seniman Multi Talenta Bila kita melewati wilayah Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Kabel Pendek, maka kita akan

Mengenal Perempuan Korban dan Penyintas KDRT Melalui Badru (Darling) dan Lesti Kejora

Badru, hanya satu dari perempuan yang yakin bahwa suaminya melakukan kekerasan akibat kecanduan alkohol. Meski hampir setiap hari lebam membiru, setiap hari pula Badru menyangkal suaminya adalah pelaku kekerasan. Ia hadirkan sejuta dalih, alkohol. Sebagai istri, Badru berkeras menyembuhkan Hamza, suaminya dari kecanduan alkohol. Ia bahkan memesan racikan obat khusus yang dimasukkan diam – diam ke makanan yang dihidangkannya untuk Hamza. Apa yang terjadi? Badru kembali menerima pukulan bertubi – tubi, menambah deretan lebam di setian jengkal tubuhnya.