Oleh Shamira
Di sebuah sudut ruang yang sesak, cahaya proyektor membelah kegelapan, memantulkan narasi tentang tanah yang jauh: Papua. Tanggal 10 Mei kemarin, Sukabumi menjadi saksi bahwa rasa penasaran tidak bisa dipenjara. Meski bayang-bayang pembubaran oleh aparat menghantui di berbagai daerah, agenda nonton bareng (nobar) film dokumenter “Pesta Babi” tetap melaju, memicu gelombang antusiasme dari mahasiswa hingga masyarakat umum.
Fenomena ini menarik. Mengapa sebuah dokumenter tentang tradisi dan perjuangan warga di ujung timur Indonesia harus dihadapi dengan tindakan represif? Mengapa “Pesta Babi” Begitu Dicari?
Pesta Babi bukan hanya sekedar film tentang tradisi, namun juga tentang sebuah investigasi visual soal bagaimana pembangunan seringkali mengorbankan manusia dan alam demi kepentingan segelintir pihak. Dokumenter ini mencoba memotret lapisan-lapisan perjuangan tersebut, sesuatu yang selama ini jarang muncul di layar kaca televisi nasional yang cenderung seragam.
Para penonton yang memadati ruang-ruang nobar kemarin mengaku datang karena satu hal: kegelisahan.
“Kami bosan dengan narasi tunggal. Kami ingin melihat Papua dari mata orang Papua sendiri,” ujar salah satu mahasiswa yang hadir di lokasi nobar.
Ironi di Balik Pembubaran
Belakangan ini, kabar mengenai pembubaran paksa diskusi dan pemutaran film bertema Papua makin sering menghiasi lini masa. Alasannya klasik: izin keramaian hingga tuduhan provokasi.
Namun, tindakan aparat ini justru seringkali menjadi bumerang atau Streisand Effect. Semakin dilarang, publik justru semakin penasaran.Upaya mematikan layar di beberapa daerah justru memicu solidaritas di daerah lain untuk menggelar acara serupa.
Ruang Diskusi yang Menyempit
Kehadiran masyarakat umum dalam nobar ini menunjukkan bahwa isu Papua bukan lagi isu “pinggiran”. Ada kerinduan kolektif untuk memahami kompleksitas masalah di sana, mulai dari isu lingkungan, hingga martabat kemanusiaan.
Pelaksanaan nobar kemarin juga menjadi ruang pernyataan sikap, bukan hanya nobar:
- Ruang akademik dan publik harus tetap merdeka dari intervensi keamanan.
- Film dokumenter adalah media belajar, bukan ancaman stabilitas.
- Dialog adalah jalan keluar, bukan pembungkaman.
Menolak Lupa, Menolak Diam
Antusiasme yang meluap pada tanggal 10 kemarin mengirimkan pesan kuat kepada pemangku kebijakan. Bahwa ide tidak bisa dibubarkan dengan pentungan atau surat larangan. Selama masih ada ketimpangan informasi mengenai apa yang terjadi di Papua, selama itu pula layar-layar alternatif akan terus membara di ruang-ruang sempit mahasiswa dan komunitas warga.
Pada akhirnya, “Pesta Babi” bukan hanya tentang pesta atau babi itu sendir, namun juga tentang hak kita untuk melihat, mendengar, dan berempati pada sesama warga bangsa tanpa harus merasa was-was.Karena sejatinya, kegelapan di ruang sinema jauh lebih terhormat daripada kegelapan dalam berpikir.
Menembus Sekat Pembungkaman
Keberanian penyelenggara dan antusiasme penonton di Sukabumi kemarin seolah menjadi jawaban atas aksi represif yang terjadi di daerah lain. Ketika di beberapa kota, layar dipaksa gelap.
Sukabumi dan Ruang Demokrasi
Pelaksanaan nobar di Gedung Juang kemarin bukan hanya soal menonton film dokumenter, tapi soal menjaga agar ruang demokrasi di Kota yang dijuluki ‘Kota Mochi’ tetap bernafas. Di saat aparat di daerah lain kian gencar membubarkan kegiatan serupa, warga Sukabumi menunjukkan bahwa pemahaman dan dialog jauh lebih efektif daripada pelarangan.
Gedung Juang telah menjalankan fungsinya hari itu: bukan hanya sebagai museum masa lalu, namun juga sebagai ruang hidup bagi gagasan-gagasan yang menolak untuk dibungkam.











