International Women’s Day: Dari Aksi Buruh sampai Simbol Pergerakan Perempuan Global

Oleh Samira

International Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret sebagai hari untuk merayakan pencapaian perempuan serta memperjuangkan kesetaraan gender dan pemberdayaan. Hari Perempuan Internasional lahir dari perjuangan nyata perempuan melawan ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi, bukan sekedar perayaan simbolik, tetapi momentum sejarah perubahan. Yang secara historis IWD berakar pada gerakan buruh dan perjuangan politik perempuan pada abad ke-20.

Pada awal abad ke-20, terjadi keresahan besar di kalangan perempuan, khususnya buruh industri. Ketidakadilan seperti jam kerja panjang, upah rendah, dan tidak adanya hak politik mendorong perempuan untuk semakin aktif dalam gerakan sosial dan politik. Sejarahnya bermula di Amerika pada 1909, ketika Partai Sosialis Amerika (Socialist Party Of America) yang menyelenggarakan National Women’s Day. Yang mana kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye hak pilih perempuan yang diisi dengan pertemuan serta aksi massa di berbagai daerah. Hal Ini berlangsung hingga tahun 1913 yang kemudian menjadi fondasi bagi gerakan yang lebih luas.

Sehingga muncul gagasan untuk menginternasionalkan peringatan ini yang diinisiasi oleh seorang aktivis sosialis asal Jerman, yaitu Clara Zetkin yang juga seorang feminis dan pemimpin komunis Jerman. Zetkin memiliki peran yang sangat penting dalam gerakan buruh berikut memperjuangkan hak-hak perempuan di Eropa. Kemudian Zetkin mengusulkan pembentukkan Hari Perempuan Internasional pada Kongres Sosialis Internasional 1910. Dalam kongres tersebut usulan Zetkin disepakati, pada 19 Maret 1911 menjadi hari pertama IWD diperingati di beberapa daerah, yaitu Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss. Tercatat bahwa lebih dari satu juta orang ikut memperingati aksi tersebut yang menuntut hak politik, perlindungan sosial bagi perempuan dan juga akses pekerjaan bagi perempuan.

Mengikuti perkembangannya IWD kemudian diperingati di berbagai negara dengan tanggal yang berbeda. Tercatat bahwa ada momentum penting yang terjadi pada tanggal 8 Maret 1917 di Rusia tepatnya di Petrograd. Sebagian besar perempuan yang merupakan buruh pabrik dan juga ibu rumah tangga, melakukan aksi mogok massal dengan tuntutan “roti dan perdamaian” yang memprotes kelangkaan pangan, kondisi hidup yang memburuk serta dampak Perang Dunia I, aksi massal ini memicu gelombang protes yang kemudian semakin meluas hingga berkontribusi pada pecahnya Revolusi Rusia. Yang pada akhirnya menyebabkan Tsar Nicholas II turun tahta.

Pasca aksi tersebut, pada 1921 Konferensi Perempuan Internasional menetapkan 8 Maret sebagai peringatan Hari Perempuan Internasional. Semenjak itulah International Women’s Day menjadi agenda tahunan di berbagai negara dengan fokus isu yang terus berkembang setiap tahunnya. mengikuti perkembangan zaman. International Women’s Day tidak hanya menyoroti hak politik, namun juga perihal kesenjangan upah, kekerasan berbasis gender, akses pendidikan, kesehatan reproduksi, serta kehadiran atau partisipasi perempuan dalam pengambilan sebuah keputusan.

Meski hal ini seiring waktu tercapai, namun masih saja ada laporan bahwa ketimpangan gender masih menjadi permasalahan global, maraknya diskriminasi terhadap perempuan menjadi hal yang perlu diperjuangkan hingga kini dan seterusnya hingga terwujudnya kesetaraan yang nyata. Dan pada akhirnya International Women’s Day tidak hanya menjadi peringatan simbolik. Kemudian menjadi pengingat akan sejarah panjang perjuangan perempuan sekaligus sebagai ruang refleksi atas pekerjaan rumah yang belum selesai dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Dan itu masih berlangsung hingga sekarang.

referensi

Britannica Editors (2025, July 1). Clara Zetkin. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Clara-ZetkinBritannica Editors (2026, February 16). International Women’s Day. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/topic/International-Womens-Day

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Membangun Media Alternatif

“Apa alasan mbak aktif di organisasi gerakan buruh?” “Halah pertanyaan mu itu seperti wartawan, lihat saja di youtube klo mau tau jawabannya”. Aku mengerutkan dahi

Lagu Nusantara

“Lagu Nusantara”,  program siaran untuk lagu-lagu daerah di nusantara. Tiap hari jumat jam 8 malam sampai 10 malam. Dikelola oleh Salira Salira, bernama asli, Kurniati.

“SAHABAT PALSU” MINTEN

gambar diambil dari https://www.browngirlmagazine.com/2014/10/empowering-women-art/ Minten, Sosok buruh perempuan tinggi semampai, Sedikit ada ceria diwajahnya setelah beberapa hari lalu ia menerima uang cuti hamilnya, tanpa harus mengundurkan

Resolusi Kongres KPBI ke II

Siaran Pers, Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia, Senin 31 Januari 2022 Buruh KPBI Bulatkan Tekad Loloskan Partai Buruh dalam Pemilu 2024 Konfederasi Persatuan Buruh Inonesia (KPBI)

Marsinah, Pahlawan Rakyat

MURAL TTS 2014 MARSINAH di Lampu Merah Jl. ParangTritis Sebelum Ring Road Selatan, oleh Barisan Pengingat, 14 Maret 2014. Mural ini adalah bagian dari rangkaian