Editor: Dian Septi Trisnanti
Apa yang ada di dalam pemikiran kita tentang sosok Rosa Luxemburg? Bagi para feminis, terutama aktivis buruh perempuan mungkin sudah akrab dengan nama ini. Namun, bagi sebagian lainnya, mungkin tidak terlalu familiar. Itulah mengapa penting bagi Marsinah.id untuk membincang tentang sosok perempuan penting satu ini.
Banyak alasan untuk mengulas Rosa Luxemburg, karena perjuangannya masih sangat relevan untuk generasi anak muda atau bagi Gen-Z. Terlebih, Rosa juga bagian anak muda pada masanya, karena dia memutuskan berjuang di usianya yang masih belia.
Pemikiran Dasar Rosa Luxemburg
Dari pengalaman juangnya yang panjang, Rosa beranggapan bahwa capaian reformis bukan akhir tujuan. Hal itu karena perubahan selalu terjadi secara sistemik dan harus ada partisipasi dari akar rumput dalam prosesnya. Menurut Rosa, perubahan mendasar sudah semestinya lahir dari pengalaman harian buruh.
Kadang, pandangan Rosa berbenturan dengan tokoh-tokoh besar lainnya, termasuk tokoh gerakan kiri. Meski lahir dari gerakan kiri, Rosa tidak sungkan untuk memberikan oto kritik terhadap gerakan kiri. Rosa percaya bahwa kebebasan sejati hanya bisa hidup apabila semua punya ruang untuk bersuara.
Latar Seorang Rosa Luxemburg Rosa luxemburg
lahir di Polandia pada 5 maret 1871, di akhir abad ke-19. Sejak muda, Rosa aktif di dunia politik. Bahkan memiliki mimpi-mimpi yang sangat besar, seperti menjatuhkan peguasa Tsar di Rusia, juga menjatuhkan kekaisaran di Jerman. Selain itu, ia juga punya mimpi besar tentang keadilan sosial yang demokratis tanpa militerisme dengan kesadaran masyarakat yang anti militerisme. Dan tentu saja, anti perang.
Di usianya yang menginjak 18 tahun, Rosa sudah lihai berpidato karena terasah dari aktivitas politiknya. Kemudian, Rosa pindah ke Swiss untuk bersekolah dan akhirnya berhasil menyandang gelar doktor pada tahun 1889. Sembari belajar, Rosa juga melakukan aktivitas politik, termasuk mempelajari ekonomi politik dan hukum. Selama belajar di Swiss inilah, ia berkenalan dengan kawan – kawan dari kalangan sosdem Rusia, pemikir Georgy Plekhanov dan Pavel Axelrod.
Rosa: Aktivis Internasionalis Proletar yang Konsisten
Rosa Luxemburg tidak hanya seorang internasionalis, dia juga sangat yakin pada gerakan proletar. Di mata Rosa, persoalan mengenai ‘menentukan nasib sendiri’, tidak sesederhana karena adanya sistem kapitalisme dan imperialisme. Baginya, kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi, tetapi sistem yang hidup dari eksploitasi manusia. Pada 1886, Rosa mulai berpartai di Polandia. Di partai ini, Rosa berjumpa dengan pimpinan dan organisasi sosialis Polandia bernama Leo, yang akhirnya menjadi teman hidup Rosa. Berbeda dengan Leo, Rosa dengan latar belakang pendidikannya, lebih berperan sebagai seorang pemikir atau ideolog, pembicara dan jubir di partainya. Selain itu, ia menjadi salah satu tokoh kunci partai.
Namun, pada 1889, Rosa pindah ke Berlin dan sejak itulah ia resmi menjadi warga negara Jerman. Dinamika di Jerman inilah ia menemui takdir kejam di tangan Nazi. Ia diburu oleh Nazi akibat peran politiknya sebagai agitator, ideolog revolusioner. Di Jerman, Rosa memang merupakan sosok berpengaruh di yang dianggap berbahaya bagi penguasa. Secara geopol, kekaisaran Jerman cukup berkuasa dengan politik ekspansi ke negara – negara Eropa sekitarnya.
Di dalam perdebatan di internal SPD, Rosa getol mengkritisi revesionisme yang dianggapnya memundurkan pergerakan rakyat. Salah satu hal yang membuat Rosa Luxemburg berbeda adalah keberaniannya mengkritik, bahkan terhadap kelompok yang berada di kubu yang sama dengannya. Ketika banyak partai sosial-demokrat mulai berkompromi dengan kekuasaan dan memilih jalur reformasi yang aman, Rosa tetap meyakini bahwa perubahan sosial yang mendasar tidak akan lahir hanya dari kebijakan negara, tetapi dari gerakan rakyat yang independen itu sendiri.
Menurut Rosa, konsep reformasi menjadi bermasalah karena ‘reformasi berlangsung tanpa akhir’. Karenanya, reformasi hanya akan menguntungkan kelas borjuis dan tidak akan menguntungkan untuk kelas pekerja. Rosa bersama Karl Kautsky menolak revisionisme di dalam teori Marxis yang menjalar di dalam tubuh partai sosdem Jerman.
Awal abad ke-20, Rosa menaruh perhatian serius pada persoalan revolusi di Rusia. Posisi Rosa sejalan dengan teori Marxis yang menyebutkan bahwa kaum proletar Rusia yang harus memimpin revolusi sosialis. Karena posisi Rosa ini lah, dia jelas mendukung partai Bolshevik yang dipimpin oleh Lenin. Dengan teguh, ia beroposisi terhadap partai Menshevik yang berasal dari partai kaum buruh sosialis.
Saat itu perdebatan hebat terjadi seputar bagaimana sosialisme bisa dicapai. Kaum Menshevik berpandangan proses yang harus dilalui adalah melalui revolusi borjuis terlebih dulu, sehingga kelas pekerja dan kelas petani tidak perlu dilibatkan di awal. Dengan kata lain, dalam pemberontakan terbuka, prosesnya harus dilakukan secara bertahap. Namun, Rosa lebih setuju dengan posisi Bolshevik, bahwa penggerak utama adalah kelas proletar.
Meski telah lebih dari satu abad berlalu, pemikiran Rosa Luxemburg masih relevan hingga hari ini. Ketika dunia terus diwarnai ketimpangan ekonomi, eksploitasi buruh, perang dan pembungkaman suara rakyat, gagasan Rosa tentang demokrasi, solidaritas, dan perjuangan kolektif tetap hidup. Dia telah mengingatkan bahwa kebebasan sejati bukan hanya milik mereka yang berkuasa, tetapi juga milik mereka yang berbeda pendapat dan tertindas.
Rosa Luxemburg bukan sekadar tokoh sejarah dan simbol keberanian perempuan dalam dunia politik. Namun juga merupakan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, dan pengingat bahwa perubahan sosial harus lahir dari keberanian akar rumput. Suaranya mungkin telah dibungkam secara fisik, tetapi pemikiran dan semangatnya terus hidup dalam perjuangan buruh, perempuan, dan gerakan akar rumput di berbagai penjuru dunia.









