Buruh Karawang Adukan Keputusan PHI Tentang Nota Dinas

FSPS sedang bertemu  dengan Kepala Seksi Hubungan Industrial Pengawasan Norma Ketenagakerjaan

 

Jakarta, 04 Agustus 2015-  Hukum ketenagakerjaan di Indonesia  yang beralih dari  menjadi hukum privat dengan lahirnya Undang – undang no.2 tahun 2004 telah membuat buruh semakin jauh dari perlindungan pemerintah. Undang – undang no. 2 tahun 2004 mengamanatkan agar Sengketa perburuhan diselesaikan melalui mekanisme persidangan di Pengadilan Hubungan Industrial ( PHI ) yang masih banyak mengadopsi hukum acara perdata umum membuat buruh semakin kesulitan dalam memperkuat setiap dalil-dalil yang diampaikan di persidangan. Salah satu langkah yang paling mudah ditempuh buruh dalam memperkuat dalil-dalilnya adalah dengan meminta pendapat pegawai Pengawas pada Dinas Tenagakerja memalui nota dinasnya walaupun nota tersebut tidak memiliki kekuatan eksekutorial dan sering tidak dipertimbangkan oleh hakim di PHI.

Salah satu korban dari sistem tersebut adalah Fery Firmansyah yang ditolak seluruh gugatannya terhadap PT.Fuji Sring Indonesia yang berkedudukan di Jl.Maligi VI, Lot M 8B Kawasan Industri KIIC, Karawang. Dalam perkara yang ter-registrasi di PHI bandung dengan nomor: 24/Pdt.Sus-PHI/2015/PN.Bdg tersebut, Majelis Hakim yang diketuai oleh Marlingan Marpaung menganggap “ Nota Dinas bukanlah produk hukum yang memiliki kekuatan hukum tetap dan mengikat bagi kedua belah pihak yang memiliki kekuatan eksekutorial yang tentunya keluar Nota Dinas berdasarkan hasil kunjungan pemeriksaan di produksi tetapi tidak melihat dokumen Purchase Order”.

Gelisah dengan rentetan hal tersebut Constitutional Labor Review, Research, and Consulting yang diwakili oleh salah satu penelitinya yaitu M.Hafidz bersama dengan Deda dari Buruh Online beserta dengan  Chairul Eillen Kurniawan dari Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa ( FSPS ) sengaja menyambangi kantor Kemenakertrans guna mengadukan hal tersebut  dan mendesak agar kemenaker segera melakukan tindakan tindakan yang perlu segera dilakukan mengingat nota dinas adalah hasil dari kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh pegawai pengawas sebagaimana amanat dari pasal 176 UU no.13 tahun 2003. Selain dari pada itu nota dinas adalah salah satu termasuk obyek sengketa dalam Pengadilan Tata Usaha Negara ( PTUN ) sehingga sudah seharusnya nota dinas dapat dikategorikan sebagai produk hukum.

Dalam kesempatan tersebut pihak kementrian yang diwakili oleh Tanti selaku Kepala Seksi Hubungan Industrial Pengawasan Norma Ketenagakerjaan, menyambut baik dan berterimaksih atas laporan yang disampaikan dan pihaknya akan segera mempelajari dan menyampaikannya ke Menteri Tenaga Kerja dan Trasnmigrasi.selain itu dia juga menyangkan pergesaran hukum ketenagakerjaan yang semula public menjadi semi privat, dan tentunya hal tersebut berpengaruh terhadap kerja pegawai pengawas.

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Pemutaran “Angka Jadi Suara” di Pulau Dewata

Denpasar – Selasa (9/5/2017), Berangkat dari keinginan untuk membangun kesadaran di kalangan mahasiswa mengenai persoalan kekerasan seksual yang dialami oleh buruh perempuan dan perempuan pada

Men – Perempuan (sebuah puisi)

Oleh Upik Melayu   MeN-Perempuan Kalau aku benih – Aku tidak ingin jadi bunga. Aku akan tumbuh menjadi Sialang Raya – Pohon paling besar, kokoh

Lebaran Ini Yuli Tak Bisa Pulang

Di antara teman- temannya, Yuli termasuk dari sedikit buruh yang berani menolak pungli. Sementara, teman – teman lain memilih membayar pungli dengan harapan kontraknya diperpanjang. Status kerja kontrak, borongan atau harian lepas menjadi alasan kuat bagi teman- temannya untuk mau saja membayar sejumlah uang kepada para atasan. Termasuk, saat bulan lebaran seperti sekarang ini. Setiap hari raya Idul Fitri, para buruh berbondong – bondong membayar pungli, atau membelikan bingkisan pada para atasan.

Mahalnya Pendidikan di Tengah Pandemi

Pada suatu hari, anak pertamaku berkata padaku, “Mama uang kos dan SPP bulan Mei – Juni belum bayar” “Iya kakak sayang” Selama pandemi, jujur tak

Sebuah Rangkuman: Femisida di Pusaran Tragedi 1965

“Bangsa kita melakukan kekejaman yang luar biasa pada kaum perempuannya sendiri. Femisida itu terjadi pada ibu – ibu kita, ibu Gerwani adalah mereka yang melawan poligami, melawan buta huruf, melawan kemiskinan perempuan dan itu perjuangan perempuan yang penting sampai hari ini”, ujar Ita F Nadia, peneliti sejarah perempuan RUAS (Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan)

Besi dan Baja

Berteman dengan besi dan baja, melampaui malam nan pekat Beriring dengan denting besi bersentuhan, berteman peluh dan keringat Menjemput matari pagi muncul dari ufuk timur,