Laporan Femisida 2023: Kekerasan yang Terstruktur dan Berulang

Laporan ini menyoroti pola kekerasan yang tidak hanya berlangsung dalam ranah privat tetapi juga merambah ruang publik, di mana 51% kasus terjadi di luar rumah korban. Cara pembunuhan yang paling sering digunakan adalah dengan kekerasan fisik (36%) dan senjata tajam (32%). Selain itu, tercatat 69% jenazah korban ditinggalkan di lokasi kejadian, sementara beberapa kasus menunjukkan tindakan brutal seperti mutilasi, pemerkosaan, hingga pembakaran jenazah.

Jakarta, 24 Oktober 2024 — Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta merilis laporan Data Femisida 2023 yang menggambarkan gambaran kelam kekerasan berbasis gender di Indonesia. Sepanjang tahun 2023, tercatat 180 kasus pembunuhan perempuan di 38 provinsi, melibatkan 187 korban dan 197 pelaku. Mayoritas pelaku (94%) adalah laki-laki, dengan lebih dari sepertiga pelaku berada dalam rentang usia 26-40 tahun. 

Laporan ini menyoroti pola kekerasan yang tidak hanya berlangsung dalam ranah privat tetapi juga merambah ruang publik, di mana 51% kasus terjadi di luar rumah korban. Cara pembunuhan yang paling sering digunakan adalah dengan kekerasan fisik (36%) dan senjata tajam (32%). Selain itu, tercatat 69% jenazah korban ditinggalkan di lokasi kejadian, sementara beberapa kasus menunjukkan tindakan brutal seperti mutilasi, pemerkosaan, hingga pembakaran jenazah.

Dari data ini, terlihat relasi kekuasaan antara korban dan pelaku sering kali terkait hubungan intim, di mana 37% korban adalah istri, pacar, atau mantan pasangan. Motif pembunuhan terbanyak disebabkan oleh masalah komunikasi (26%) dan problem asmara (20%), menunjukkan ketimpangan kuasa yang mengakar dalam relasi gender.

Laporan ini menggarisbawahi bahwa femisida bukan sekadar tindakan kriminal individual, tetapi mencerminkan kegagalan struktural dalam melindungi perempuan dari kekerasan berbasis gender. Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta menekankan perlunya tindakan nyata dari pemerintah, penegak hukum, dan media untuk mencegah kekerasan ini dan memperlakukan kasus femisida secara lebih komprehensif.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

KBN Cakung Menuju Mogok Nasional

Oleh Sri Sulastri Hari ini, 18 November 2015, adalah aksi pemanasan menuju mogok nasional yang akan dilangsungkan tanggal 24-27 november 2015 dengan tuntutan CABUT PP

OBOR MARSINAH KENDAL

Selamat datang Komite Obor Marsinah Kendal, bagi teman-teman lain, buat  Komite Marsinah di kota – kota muYang mau bergabung dan berkontribusi dalam tim dokumentasi audio visual,

Menyoal Buruh dan Upah

    Jelang momentum kenaikan upah tiap tahunnya, buruh selalu ramai dengan aksi demonstrasi dengan beragam metode. Mulai dari aksi long march, tutup kawasan, blokir

Jalan Panjang (Buruh) Melawan Korupsi

Oleh Khamid Istakhori Kemarin, kami melakukan aksi (kecil) di Bundaran Mega M, Karawang. Sebuah aksi “dadakan” yang diniatkan sebagai upaya merespon berbagai keruwetan pemberantasan korupsi,

Dipaksa Pergi Demi Bertahan Hidup

“Krisis air bersih, kehilangan tanah, dan situs-situs sakral yang selama ini dijaga perempuan kini hilang. Paparan uap dan risiko gangguan kesehatan reproduksi bagi perempuan menjadi ancaman nyata. Kasus ini menunjukkan bahwa transisi energi terjadi secara tidak adil dan mengorbankan perempuan serta alam,” Renie, BEK SP Sebay Lampung.

“Nak, Teman Mama Bukan Penjahat”

Bagus, anakku. Senang membaca ceritamu, kemarin hari. Tentang sekolah, tentang teman-temanmu. Selalu ada kisah di sekitar kita yang bisa jadi kenangan, baik atau buruk. Iya,