Pokja Buruh Perempuan: Perempuan dan Laki-laki Setara di Organisasi

Penggalan orasi Jumisih (Pokja Buruh Perempuan)

Masih semangat? Masih. Tangan kiri mana? Masih ada? Masih. Hidup persatuan rakyat Indonesia. Teman-teman, nama saya Jumisih, Ketua Umum FBLP. Kami dari FBLP ucapkan selamat hari perempuan yang ke-107 untuk perempuan di DPR.
Kentongannya mana? (tok.tok..tok)

Kita dalam Aliansi Kelompok Kerja Buruh Perempuan menyatakan sikap jelas ke pemerintah bahwa kita perempuan belum terlindungi. Kita perempuan masih didiskriminasi di tempat kerja. Masih banyak hak-hak buruh perempuan dirampas oleh pengusaha.

Oleh karena itu, posisi kita adalah menuntut pada pemerintah untuk segera memperbaiki kondisi kerja kita. Kita tahu teman-teman bagaimana jam kerja kita di pabrik sangat panjang.

Kita tahu juga jam kerja perempuan di rumah juga ada. Betul? (Betul!!) Apakah perempuan bekerja di pabrik dan di rumah? (Betul!!). Apakah perempuan sudah setara dengan laki-laki? (Belum!!!). Apakah perempuan mengalami diskriminasi? (Betul!!) Apakah buruh perempuan mengalami pelecehan di tempat kerja? (Betul!) Apakah mengalami pelecehan seksual dari atasan? Apakah mengalami pelecehan seksual di jalan-jalan? Di metro mini? Di angkutan umum?

Itu menunjukkan negara masih belum berhasil melindungi kita sebagai buruh perempuan. Kemudian, pertanyaan berikutnya, apakah kita sebagai perempuan saat ini di alam pabrik sudah bisa setara dengan buruh laki-laki? Belum. Apakah kita sebagai perempuan dalam organisasi-organisasi kita sudah setara dengan laki-laki? Belum.

Itu adalah PR Pokja Buruh Perempuan agar pada 2019 perempuan dan laki-laki sudah setara dalam organisasi. Betul? Teman-teman sekalian, berbagai pelanggaran hak maternitas di tempat kerja menjadi bukti kongkrit bahwa pemerintah kita gagal mensejahterakan buruh perempuan. Apakah teman-teman yang mengambil cuti haid diintimidasi? Masih. Masih adakah kita yang mengambil cuti melahirkan di PHK? Masih. Itu menunjukan Jokowi tidak mampu memimpin birokrasinya untuk mensejahterakan buruh perempuan. Teman-teman sekalian oleh karena itulah kita memperangati IWD dalam bentuk perlawanan. Kita memperingati IWD bukan dengan pesta pora, walaupun sejarahnya, 107 tahun lalu, kita sanggup memenangkan 8 jam kerja. Apakah hari ini sudah ada pelanggaran jam kerja? Banyak! Berapa jam kerja yang dilanggar pengusaha kawan-kawan? Banyak!
Itu juga menunjukan bahwa UU 13 tahun 2003 belum diimplementasikan oleh pengusaha, pemerintah, Jokowi, (menaker) Hanif Dhakiri.

Oleh karena itu, apa yang harus dilakukan oleh buruh perempuan kawan-kawan? (Lawan!)Jawabannya adalah melakukan perlawanan sehebat-hebatnya, sekuat-kuatnya!

Kawan-kawan sekalian, momentum IWD harusnya menjadi momentum persatuan. Momentum IWD adalah momentum di mana kaum buruh, kaum buruh perempuan, harus turun ke jalan untuk menyatakan sikap. Kita perempuan masih menderita, kita merindukan kesetaraan, kita merindukan jam kerja lebih pendek dari yang kita alami saat ini. Kita juga merindukan buruh perempuan bisa rekreasi sewaktu-waktu. Betul? Betul. Apakah upah kawan-kawan sanggup untuk rekrasi? (Tidak) Apakah upah kawan-kawan sanggup untuk nonton bioskop seminggu sekali? (Tidak). Jangkan untuk nonton bioskop. Hari ini buruh perempuan bergelut dengan harga cabai, harga minyak goreng naik, beras naik.

Kemudian, kesimpulannya adalah, hidup kita sekarang ini sudah dikuasai oleh kapitalis. Jam kerja kita, pikiran kita, konsentrasi kita, setiap harinya kita abdikan untuk pemilik modal, tapi balasannya tidaklah seimbang. Yang kita butuhkan adalah pemaksimalan pemahaman pada mayoritas buruh perempuan supaya semakin banyak buruh perempuan tersadarkan, keluar dari pabrik, untuk menyatakan sikap lantang pada pemerintah. “Saya buruh perempuan, saya bekerja, tapi saya tidak mau ditindas.” Itu tadi mengutip pernyataannya Tien Koesna, mana Tien Koesna?
Teman-teman sekalian, rasanya bahagia kita dalam Pokja Buruh Perempuan tahun ini, kita bisa melakukan peringatan bersama-sama, di depan gedung DPR. Ini adalah kerja awal kita, di mana Pokja Buruh Perempuan adalah gabungan dari beberapa serikat buruh yang mempunyai kepentingan sama yaitu, kesetaraan buruh perempuan.

Pokja Buruh Perempuan punya misi besar, bagaimana suatu saat nanti perempuan bisa merdeka dari ketertindasan, setara dengan laki-laki, setara dalam hak, setara dalam perjuangan, Hidup buruh! Hidup perempuan! Hidup perempuan! Hidup laki-laki yang setara dan berlawan! Hidup. Tangan kirinya mana? Kawan-kawan godam yang saya banggakan? Siap mendukung perlawanan perempuan. (Siap!) Siap berdiri di garda terdepan bersama buruh perempuan? (Siap!) Siap memberikan penyadaran yang maksimal pada buruh perempuan? (siap). Siap berdiri sejajar dengan buruh perempuan? (siap). Siap ikut dalam perjuangan yang paling sulit untuk memerdekakan buruh perempuan? (siap!). Terima kaish, hidup godam! Hidup laki-laki yang berlawan! Hidup persatuan rakyat Indonesia.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Kabar May Day dari Berlin

Mulai Dari Keberagaman Hingga Keikutsertaan Anak Oleh: Muthmainnah (Mahasiswa Bidang Labour Policies and Globalization di Berlin School of Economics and Law) Izinkanlah dalam tulisan ini,

Mewarisi Pemikiran Kartini, Berani Mengembangkan Gagasan Progresif 

Di balik dinding pingitan, Kartini mengembangkan gagasan yang berani dan progresif melampaui jamannya. Di tengah kultur sosial masyarakatnya yang kolot, mengecilkan makna gagasan dan pemikiran apalagi dari seorang perempuan, Kartini punya keberanian menggoreskan pena. Lalu apakah menggoreskan pena, jauh lebih tidak berani dari pertarungan gagah berani di medan perang? Medan perang pun butuh siasat dan strategi, sebuah pemikiran yang jitu untuk memenangkan pertarungan. Demikianlah, perjuangan dengan pena adalah sama tajam dan beraninya dengan aksi di medan perang.

Rumah

‘RUMAH’  adalah sebuah bincang ringan interaktif yang bicara tentang kesehatan lingkungan, rumah dan keluarga. Program siaran ini tayang tiap hari Minggu jam 12 siang dan dikelola oleh

Kronologi Kerusuhan Urut Sewu (Kebumen)

Sunu, Kepala Desa Wiromartan (kiri, kaos hitam) terluka akibat serangan TNI  Berikut ini adalah kronologi penyerangan TNI kepada warga Desa Wiromartan terkait sengketa Urut Sewu.