Kopi Juang

Kopi Juang  adalah warung kopi yang aku bawa ke sana sini alias ‘keliling’. Kopi Juang  jugalah yang menjadi sumber pendapatanku saat ini, warung yang selalu aku bawa keliling menghampiri para pembeli. Awalnya aku adalah seorang buruh pabrik yang kemudian beralih menjadi tukang kopi.

Sepanjang jalan kususuri dengan grobak yang terisi daganganku. Sepanjang jalan kuberpikir bagaimana caranya aku harus bisa menjual daganganku, harapan  ku tidak muluk – muluk, yaitu agar tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup. Ya Allah, izinkan hamba meraih rejeki.

Aku tidak menyesali keadaan ini, justru aku sangat bersyukur dengan proses yang aku alami. Berusaha tersenyum, itu adalah cara agar aku tidak larut dalam dilema,

Tak mudah memang dalam situasi yang sekarang aku alami. Aku adalah seorang ibu juga sekaligus seorang ayah, namun itu tidak menyurutkan semangat ku untuk menjadi pejuang rupiah bagi keluargaku. Untuk masa depan anak – anakku.

Pekerjaan yang sekarang aku jalani bukan tanpa resiko,namun itu jua tak menyurutkan semangatku

Hari itu tepatnya hari Selasa, 5 november 2019, jam 10.00 WIB. Gerobak dan daganganku tumpah 3 buah tremos  pecah, lalu aku bereskan semua, dibantu oleh para tetanggaku. Sedih sih, tapi aku terus bersyukur, kuambil hikmahnya mungkin hari ini aku harus istirahat dan besok harus lebih hati – hati. Akhirnya aku hari itu aku libur.

Hari demi hari, aku terus bertekad dan tetap semangat. Keterdesakan merupakan alasan sangat mendasar kenapa aku tetap menjaga semangatku. Awalnya memang tidak mudah dan itu ku paksakan sehinga aku terbiasa.

Di hari lain, tgl 19 november 2019, kesabaran serta semangat ku diuji  lagi. Tempat aku berjualan kembali ditempat oleh orang sebelum aku, jadi sekarang aku pindah ke tempat atau posisi yang baru lagi. Tentu saja sedih karena aku sangat menyukai tempat itu. Seperti kata – kata “mencintai tak harus memiliki”. Aku ambil hikmahnya saja, mungkin ada rencana yang lebih indah untukku.

Akhirnya aku berjualan di tempat yang barudimana itu diajak temen seprofesi juga panggilan akrabny. Adalah Pak de sugeng yang mengajakku berjualan di tempat baru. Ia orang yang sangat ramah serta baik. Ia suka berbagi pelanggan denganku.

Setiap kali aku keliling dari satu tempat ke tempat lain, selalu ada saja yang tidak suka dengan keberadaanku di sekitar mereka ,karena takut tersaingi. Namun itulah yang membuat aku selalu berfikir dan berjiwa besar. Tidak mudah memang untuk menjadi sosok yang legowo atau ikhlas.

Aku jadi lebih tau betapa kerasnya dunia luar dan resikonya. Aku mencoba mencari celah untuk berkembang dan memperluas pengalamanku di dunia luar, selagi masih ada ruang dan kesempatan.

Aku sangat senang dan bahagia bila mana mendapat kabar jikalau kopi juang ku ini mengispirasi.

Terkadang aku juga enggak habis pikir karena apa yang terlihat sebenernya tak seindah yang mereka bayangkan.

Aku adalah seorang perempuan biasa yang berusaha menjadi orang tua yang bertanggung jawab terhadap keluargaku.

Oleh Darsi

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Malam dan Pabrik

Tampak seorang perempuan masuk di sebuah kamar berukuran 2 X 3, wajahnya kelihatan serius, kadang tampak bingung. Namun yang pasti ia sedang berpikir. Diletakkannya tasnya

Buruh Kutuk Serangan Terorisme di Jawa Timur

Siaran Pers Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia, 14 Mei 2018 Buruh Indonesia mengutuk keras rentetan tindakan terorisme yang terjadi belakangan ini. Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI)

Lawan Neolib, Buruh India Mogok Umum

2 September 2015, Buruh India Mogok Umum Melawan Neolib Diterjamahkan dari http://asianlabourreview.org/2015/08/24/indian-worekrs-prepare-for-massive-general-strike-on-2nd-september-2015/ Oleh A.K. Padmanabhan* Rakyat pekerja di negeri ini, dari hampir seluruh sektor, dari seluruh

Perempuan Tidak Akan Diam: Melawan Pemiskinan, Kekerasan, dan Kriminalisasi

“Kita sudah terlalu lama diam dan berharap pemerintah peduli, tapi justru makin banyak perempuan kehilangan pekerjaan, kehilangan hak, bahkan kehilangan nyawa! Kita turun ke jalan hari ini bukan hanya untuk protes, tapi untuk menuntut perubahan yang nyata,” tegas Ajeng, perwakilan dari Aliansi Perempuan Indonesia (API).