Permenaker Nomor 2 Tahun 2022 Tidak Manusiawi terhadap Kaum Buruh

Siaran Pers FSBPI

 

Jakarta, 11 Februari 2022

Belum lama Menteri Ketenagakerjaan Ibu Ida Fauziyah mengeluarkan PERMEN No. 2 Tahun 2022 Tentang Tata Cara Persyaratan Pembayaran Tunjangan Hari Tua (JHT).

Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI) dengan tegas menolak aturan ini karena di nilai sangat merugikan buruh. Pasal 5 dalam PERMEN No. 2 Tahun 2022 mengatur “Manfaat JHT bagi peserta mengundurkan diri sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (2) huruf a dan peserta terkena pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (2) huruf b diberikan pada saat peserta mencapai usia 56 (Lima puluh enam) tahun”. Artinya pada saat buruh terkena PHK atau mengundurkan diri di usia 30 tahun (katakanlah sudah bekerja selama 10 tahun diperusahaan), buruh tersebut tidak bisa mengambil manfaat JHT sebelum usianya 56 tahun. Padahal ketika buruh ter-PHK dia membutuhkan biaya hidup dan modal untuk usaha.

Dian Septi ketua umum FSBPI berpendapat dan sekaligus mempertanyakan, apa motif pemerintah menahan manfaat JHT bagi buruh yang ter-PHK dan mau digunakan untuk apa dananya..? Jika pemerintah berasumsi bahwa nilai JHT akan lebih besar jika dicairkan pada usia 56 tahun, apakah hal itu ada jaminannya..? Sementara didalam PERMEN tersebut tidak ada penjelasan secara detail terkait dengan nilai manfaat JHT (Investasi) yang hanya bisa dicairkan pada usia 56 tahun.

Dian Septi juga menambahkan bahwa kementerian Tenaga Kerja ibu Ida Fauziyah seringkali mengeluarkan kebijakan yang kemudian mengabaikan aspek perlindungan bagi buruh di indonesia, seperti Surat Edaran No. M/3/HK.04/III/2020 yang membolehkan perubahan besaran upah berdasarkan kesepakatan, Padahal sama-sama kita ketahui bahwa posisi buruh dan pengusaha tidak pernah sejajar, sehingga banyak pengusaha nakal yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk membayarkan upah dibawah ketentuan UU yang berlaku.

Damar Panca Sekretaris Jenderal FSBPI menilai bahwa PERMEN no 2 tahun 2022 ini senafas dengan UU Cipta kerja yang telah mendegradasikan tingkat kesejahteraan kaum buruh di Indonesia.

Status hubungan kerjanya di desain  sefleksibel mungkin, sehingga buruh gampang untuk di PHK, upahnya dibuat semurah mungkin dengan hanya naik 1,09% dan manfaat JHT hanya bisa diambil pada saat usia 56 tahun. Lengkap sudah penderitaan kaum buruh saat ini, seperti pepatah mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga, imbuhnya (11/2/2022).

Jumisih wakil ketua umum FSBPI menyampaikan, FSBPI-KPBI bersama serikat buruh yang lainnya akan berupaya mengkonsolidasikan diri guna melakukan aksi-aksi penolakan terhadap PERMEN yang merugikan buruh ini, kita akan segera mengirimkan surat secara resmi kepada kemenaker terkait hal ini dan akan menyiapkan aksi massa ke kementrian tenaga kerja RI termasuk melakukan upaya hukum Judisial Refiew (JR) jika diperlukan.

 

Narahubung:

Dian Speti Trisnanti (Ketua Umum FSBPI): 081804095097

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Bekerja dan Mogok untuk Hidup

Voni. Ketika Berkunjung ke Taman Baca Anak  Bekerja, Jalan Keluar Dari Himpitan Ekonomi Menjadi buruh KBN Cakung sudah menjadi keinginan saya, jadi saya pun mencari

Mengenal Seluk Beluk Upah

Mau nanya kak, apa sih bedanya UMP, UMK dan UMR. Terus kenapa sih kak, beda-beda jumlahnya? Apa yang bikin beda dan gimana sih nentuinnya kak? Kalau misal teman aku di Bekasi, dia ikut UMK bekasi atau UMP Jabar ya kak?

AOL Music shutting down, say staff

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem eum fugiat quo voluptas nulla

Berani berfikir

Hari ini aku ( penulis ) ingin menuliskan tentang pandangan kawanku saat  diskusiku tentang “Rakyat dibodohi Hiburan Rezim Pro Modal “ Aku memulai diskusi dengan

BBM dan Kelas Menengah yang Apatis

BBM dan Kelas Menengah yang Apatis Pemerintah sadar bahwa kelas menengah adalah populasi terbesar di Indonesia dan mereka memiliki daya beli untuk menunjang gaya hidup

credit: https://pin.it/1HS9o8KZb

Gatra Media Group Tutup: Serikat Karyawan Tuntut Pembayaran Hak yang Tertunda

Selain hak-hak yang belum dibayarkan, Serikat Karyawan Gatra juga menyoroti belum adanya Surat Pemberitahuan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang seharusnya diberikan sebelum penutupan operasi. Dalam rapat-rapat yang diadakan antara manajemen dan karyawan, tidak ada jaminan atau solusi konkret yang diberikan kepada karyawan mengenai penyelesaian masalah ini.

Suara Buruh Episode 6 Agustus 2015

Suara Buruh menghadirkan kesaksian keluarga korban ledakan PT. Mandom, Pembrangusan serikat buruh FSPBI PT. Bees Footwear, dan buruh desak disnaker jakarta utara tuntaskan kasus perburuhan