Perjuangan Melawan Rasa Takut di Masa Pandemi

gambar diambil dari //pin.it/7dD8DPs

“kriiiiiiiiiiiing…..” alarm pagi berbunyi

“hufttt sudah pagi lagi… huaaaammmm”
Sambil garuk-garuk kepala, aku mencoba meregangkan tubuh. Pagi yang cukup indah, seperti apa yang ada dalam benakku saat ini.

Sedikit saja aku buka kamar kost, lalu aku tutup kembali. Masuklah aku ke kamar mandi.

Pagi itu tidak ada yang berbeda dengan setiap pagiku yang lain namun, bulan Maret ini akan jadi berbeda, karena, adanya tamu bukan manusia melainkan virus.

Masih denganr sama di kala pagi, aku menyalakan dispenser, sambil mengucap syukur atas hembusan nafas yang masih menemani aku mengawali hari, disambut mentari alam. Kuseruput secangkir kopi yang masih panas, sambil kucek jadwalku hari ini.

Aku bergumam dan sedikit bingung sambil melihat jadwalki untuk cek up di Puskesmas dan bertanya-tanya dalam hati.

” Ini hari…..”

Ya Allah, tanpa berpikir panjang aku bersiaplah untuk bergegas ke Puskesmas yang berada di daerah Semper. Rasa panikku makin menjadi karena ojol online tidak boleh bawa penumpang, sehingga terpaksa aku naik angkutan umum. Dengan sigap aku kenakan masker, memakai jaket, dan membawa hand sanitizer karena tamu istimewa bukan manusia bernama virus Corona yang sedang ramai berkunjung ke bumi manusia.

Apapun itu, sudah berkurang rasa takutku ketika berada di angkutan umum sendirian, semua penumpang sudah turun duluan. Begitu sampai di jalan menuju Puskesmas, rasa takutku agak sedikit reda karena ada protokol cuci tangan dengan hand sanitizer dan cek suhu.

Tak berapa lama kudengar seseorang menyapa. Aku pun menengok dan kulihat kak Ati yang bekerja di Puskesmas menghampiri.

“Kak, aku takut ini pertama kali cek up di Puskesmas pas pandemi”

“Ya sudah, sini aku daftarin”

Kak Ati kemudian mengambil buku, mengecek tekanan darahku dan menyuruhku segera ke klinik Poli Kasih. Poli Kasih adalah klinik untuk konseling dan mengakses obat ARV.

Selang beberapa saat aku diberi arahan untuk melewati jalan memutar lewat samping agar tidak terpapar dengan pasien tamu lain di dalam.

Dalam genggaman tanganku kukantongi nomor antrian. Nomor 06 adalah nomor antrianku, tapi lama sekali aku menunggu karena tiap pasien menjalani konseling.

Akhirnya, tiba giliranku untuk konseling dan cek up selama kurang lebih 15 menit. Keluar dari ruangan muncul kekuatiran baru

“Bagaimana kita mengambil obat ARV nya? Apakah antri di apotek?” Tanyaku pada pasien di sebelahku.

“Nanti bakalan diambilin sama dokternya kok”

“Oh gitu, makasih kak” Jawabku lega

Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya pada pukul 12.30 WIB, aku mendapatkan obat dan bergegas pulang.

Rasa takut kembali menemani aku karena harus naik angkutan umum. Bagiku ini adalah perjuangan berat untuk naik angkutan umum, karena kita tidak tahu siapa saja yang terpapar oleh virus ini, terlebih bila ia tanpa gejala.

Di penghujung hari, di dalam  aku memanjatkan syukur, karena satu hari ini sudah kulalui dengan baik, pun ketersediaan ARV masih memadai untuk diakses. Aku berharap pandemi ini bisa segera berlalu, karena bagi kami yang merupakan kelompok rentan, perjuangan melawan rasa takut menjadi lebih berlipat dari hari biasa.

Oleh Rini

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

https://pin.it/7nuDqWEJT

“Kami Bukan Budak! Kami Bukan Sapi Perahan!”

Dalam satu pernyataan tegas yang dibagikan melalui Instagram, Eni Lestari, aktivis buruh migran dan Ketua International Migrants Alliance (IMA), mengungkap fakta mengejutkan tentang arah kebijakan global; “Remitansi migran dan investasi diaspora sudah ditetapkan sebagai sumber pendanaan baru bagi pembangunan neoliberal menuju SDGs 2030. “Kami bukan budak! Kami bukan sapi perahan!”

Mogok Makan Sebagai Metode Juang

Mogok makan bukan hanya tindakan menolak untuk makan. Ia adalah cara melawan dengan menggunakan tubuh sebagai medium perlawanan. Melalui mogok makan, mereka sedang merebut kembali otoritas atas tubuh mereka dari penguasa yang mengekang fisik mereka melalui pemenjaraan.

credit: https://pin.it/1HS9o8KZb

Gatra Media Group Tutup: Serikat Karyawan Tuntut Pembayaran Hak yang Tertunda

Selain hak-hak yang belum dibayarkan, Serikat Karyawan Gatra juga menyoroti belum adanya Surat Pemberitahuan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang seharusnya diberikan sebelum penutupan operasi. Dalam rapat-rapat yang diadakan antara manajemen dan karyawan, tidak ada jaminan atau solusi konkret yang diberikan kepada karyawan mengenai penyelesaian masalah ini.

Posisi Buruh didalam Rantai Nilai Global

Fatimah Fildzah Izzati seorang peneliti perburuhan dalam Talkshow Union di Marsinah FM dengan tema “Buruh Dalam Rantai Nilai Global” yang membahas apa itu sebenarnya rantai nilai global serta posisi buruh dalam rantai nilai global mengungkapkan bahwa rantai nilai global memiliki banyak istilah antara lain rantai nilai pasok, rantai nilai komoditas dan masih banyak yang lain akan tetapi maknanya tetap sama. Rantai nilai global membicarakan tentang barang-barang atau komoditas yang diproduksi oleh kelas buruh diseluruh dunia dalam sebuah rantai nilai yang saling terhubung.

Keabadian Marsinah

Marsinah, karya Awank Prasetyo Oleh Dian Septi Trisnanti Bagi Rejim, Nama Marsinah Juga Abadi Marsinah, namanya dikenang dalam piagam janji sang Presiden. Tanpa menagih pada