Berlawan di Hari Bhayangkara

*1 Juli 2013*

Bertepatan dengan hari Bhayangkara, saya dilempar dari mobil komando oleh oknum intel berseragam preman.

Dalam aksi menolak penangguhan upah dan menolak retribusi biaya masuk KBN itu, di ikuti oleh Aliansi Serikat Buruh di KBN Cakung. Massa FBLP waktu itu utamanya adalah kawan-kawan Makalot, Amos, Hansollindo dan KH Internasional. Barisan Perempuan FBLP berdiri paling depan dengan atribut merah.

Aksi brutal aparat kepolisian dilakukan dengan dalih tidak bersetuju dengan aksi buruh KBN yang dilakukan bertepatan dengan hari Bhayangkara.

Sejak pagi, berbagai anggota serikat buruh di KBN, mulai berkumpul di depan PT Komatsu, berbaris rapi, membentangkan spanduk, meneriakkan yell-yel dan lagu perjuangan.

Saya yang waktu itu berada di atas mobil komando bersama beberapa perangkat aksi, merapikan barisan, mulai memimpin massa dan berjalan ke arah pintu masuk KBN.

Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba beberapa oknum berseragam preman mendekati mobil komando bermaksud menghentikan aksi. Kami tidak bergeming. Barisan tetap maju dengan penuh semangat.

Merasa tidak diindahkan. Salah satu oknum berbadan tinggi besar, mencoba meraih mix dan dengan garam meraih badan saya dan melemparkan saya dari atas mobil komando. Saya di selamatkan oleh Ade (FSUI) dan dibawa ke tengah-tengah massa.

Barisan mulai kocar-kacir karena mobil komando dibajak dan tahan ke Polres Jakarta Utara. Sementara kekejaman aparat kepolisian tidak berhenti. Beberapa anggota FBLP dilecehkan oleh oknum kepolisian, ada yang di tendang, di pukul hingga babak belur.

Beberapa yang saya lihat, Joe Makalot adalah korban paling parah. Dona berusaha menyelamatkan beberapa kawan. Nani, Friska menangis. Dian dan kawan LBH Jakarta segera ke Polres untuk meminta mokom kembali. Ari kulihat mondar mandir mendokumentasikan.

Situasi memanas, sebagian melakukan perlawanan balik kepada aparat, sebagian menyelamatkan anggota yang babak belur, sebagian menangis, dan berpelukan 1 sama lain.

Saya berusaha memimpin kembali barisan dengan toa, dengan berdiri di atas motor mendatangi pabrik-pabrik. Aksi tetap berlanjut, orasi bergantian hingga pada siang hari, mobil komando kembali dan kita bisa aksi dengan menggunakan mokom.

Kapolres Jakarta Utara waktu itu, Bpk Ikbal datang ke lokasi, dan meminta maaf atas keteledoran anggotanya.

Saya menulis ini, sebagai refleksi 7 tahun silam. Bahwa tidak ada yang mudah dalam proses perjuangan. Akan selalu ada pengorbanan, komitmen dan kerja keras. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Dan yang paling penting adalah, dengan tetap terus berkomitmen dalam garis massa, maka investasi kesadaran kelas buruh akan membangun semangat juang kelasnya untuk melawan sistem kapitalisme.

*Menolaklupa*
*Menolaktunduk*

Jakarta, 1 Juli 2020
Jumisih

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

“Membangun Gerakan Buruh Tangerang”

Komitmen Sang Pejuang (di tulis oleh Gadis Merah berdasarkan wawancara ekslusif dengan Sunarno “Unang” Sekjend Konfederasi KASBI dan anggota Presidential Council WFTU) Sunarno, atau biasa

Kak Desboy, Yang Disuka Anak – Anak

Desboy adalah satu satu dari pendiri Sanggar Anak Harapan. Kali ini, ia bertugas menjadi pengajar anak di kelas anak pada 15-16 September 2018 di agenda

“Buruh Perempuan Belum Merdeka”

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/07/mulai-esok-3000-bendera-akan-menghiasi-jalanan-aceh Oleh Jumisih Potret Buruh Perempuan “Perkenalkan, nama saya Haji subur, saya dari FBR yang punya garasi di depan. Keberadaan saya di sini adalah karena

Perjuangan Melawan Kekerasan di Dunia Kerja

“Kalau sakit jiwa gak usah kerja, mending di Rumah sakit jiwa aja,” ujar Erma menirukan makian yang kerap ia dengar. Umpatan ini akan selalu keluar apabila para pekerja tidak mendapatkan target dan juga target yang ditentukan oleh perusahaan selalu bertambah setiap kali para pekerja mencapai target tersebut. Erma juga sempat disebut “gila” dan diusir oleh atasanya lantaran melayani pendaftaran anggota baru serikat pekerja yang akan bergabung dan juga mengintimidasi pekerja yang akan bergabung ke serikat pekerja yang membuat pekerja tersebut takut dan batal bergabung dengan serikat pekerja.

Tradisi Buruh di Bulan Ramadhan

Oleh Atly Serita Ramadhan Tiba, Pengaduan Marak Sudah menjadi tradisi,  setiap bulan puasa dan menjelang  Hari Raya Idul fitri, banyak sms pengaduan. Bahkan ada yang