Surat Untuk Pengusaha Hansae

Dear Pengusaha Hansae yang terhormat,

Kami adalah pekerjamu,
Bertahun- tahun kami mengabdi dengan loyalitas yang sangat tinggi
tanpa banyak mengeluh
Dari keringat kami pabrik mu bisa bertambah

Tapi inikah balasanmu,
Hanya air mata dan kecewa yang kami dapat

Di bulan ramadan ini,
Kau rampas kebahagiaan kami
Kau curi hak-hak kami,
Kau hempaskan kami, seperti sampah
Kau tutup pabrik mu dengan skenario merugi.
Ini hanya akal bulusmu, agar kau tidak memberikan kewajiban mu.

Dear Hansae,
Kami rela berpanas-panasan,
Menahan lapar dan haus karena puasa,
Berdiri depan gedung pabrik mu
Dengan harapan ada perubahan dari keangkuhanmu

Tapi ternyata kau tidak punya hati.
Kami hanya ingin anak – anak kami, orang tua kami, keluarga kami, bisa tersenyum, tertawa, seperti yang lainnya

Kami hanya ingin dimanusiakan.
Buatmu hak kami mungkin hanya deretan angka,
Tapi buat kami, itu sangat berarti.
Kami tidak bermimpi punya mobil mewah, rumah megah atau barang mewah lainnya,
Kami hanya ingin hak kami

Dear Hansae…
Masih adakah sisa keadilan buat kami, rakyat kecil, pekerja buruh yg berusaha tuk bertahan hidup.

Siapa yg mau mendengar suara kami, Memandang kami sebentar saja dan ikut merasakan apa yang kami rasa.

Oleh Anggi

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Mengadu ke Ombudsman

Oleh Dian Septi Trisnanti Pagi yang Sibuk  Pagi yang basah, deru mesin yang bising . Orang-orang yang tak bersabar, bergegas tanpa peduli sekitar. Pagi yang

Otonomi Tubuh dan Hak Kesehatan Seksual Reproduksi

Dengan kata lain, otonomi tubuh dapat dikatakan sebagai sebuah hak yang tidak bisa dilepaskan dari seseorang. Penyangkalan terhadap otonomi tubuh merupakan sebuah bentuk penindasan karena pada dasarnya, merebut otonomi tubuh sama dengan merebut kemerdekaan seseorang.

Eyang Lestari, Berjuang Sepanjang Usia

Eyang Lestari (tengah). foto diambil dari http://www.thejakartapost.com/news/2012/09/29/ignorance-helps-excuse-mass-killings.html Pejuang Perempuan Tangguh Itu Akhirnya Tiada Mugiyanto, seorang aktivis HAM sekaligus korban penculikan 1998  menuliskan untaian duka melalui akun

Laras Faizati: Gambaran Buruknya Demokrasi di Negeri Sendiri

Laras Faizati merupakan salah satu gambaran warga, pengguna platform media sosial Instagram yang diberi gelar “terdakwa dan diputus bersalah”, setelah dipaksa menjalani proses hukum hanya karena ia menyampaikan aspirasi, pendapat, protes dan kekecewaannya.

Surat Manis Untuk Buruh Indonesia

Oleh Fenda Stevani Mogok bersama adalah kabar baik. Beberapa teman saya terus menulis di media sosial bagaimana mogok bersama berpengaruh dalam kemacetan ( karena mereka kalangan menengah