Peringati Hari Pelajar, Mahasiswa Siap Dukung Mogok Nasional

Press Release – Komite Persiapan Federasi Mahasiswa Kerakyatan (KP-FMK), 13 November 2015

 

Memperingati ISD (International Student Day),
Federasi Mahasiswa Kerakyatan Mendukung Pemogokan Nasional Buruh.

Tanggal 17 November 2015, adalah hari dimana seluruh pelajar dan mahasiswa, di seluruh dunia merayakannya sebagai harinya mereka.

Di negara-negara eropa, asia, termasuk Indonesia, sudah berapa tahun ini, para pelajar dan mahasiswa turun ke jalan, berdemonstrasi, protes untuk menuntut satu hal yang sama: menolak komersialisasi pendidikan (Education Not For Sale)

Dan tahun ini, KP – Federasi Mahasiswa Kerakyatan, juga akan turun ke jalan. Seluruh organisasi mahasiswa yang merupakan anggota KP-Federasi Mahasiswa Kerakyatan secara serentak akan melakukan aksi massa.

Jambi, Yogya,  Serang, Ciputat, Jakarta, Cirebon, Purwokerto, Semarang, Surabaya, Samarinda, Ternate, Mamuju, Makassar, Palu dan Luwuk.    

Menurut Dahlia—Mahasiswi Universitas Mulawarman yang menjabat sebagai Koordinator Aksi Nasional, aksi kali ini selain memprotes mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, juga untuk menggalang dukungan dari mahasiswa Indonesia terhadap rencana pemogokan nasional buruh Indonesia.

Dahlia menyatakan “ dalam situasi krisis dunia, yang disebabkan oleh persoalan dalam sistem kapitalisme itu sendiri, rakyat miskinlah yang menjadi korban dan kaum muda—baik yang mampu sekolah ataupun tidak, semakin suram masa depannya”

Namun menurut Dahlia, Rezim Jokowi-Jk justru dengan sengaja semakin memiskinkan rakyat Indonesia dengan mengeluarkan paket ekonomi jilid I-VI (dan masih mungkin akan disusul dengan paket ekonomi lainnya).

KP Federasi Mahasiswa Kerakyatan juga memprotes tindakan represif yang dilakukan aparat terhadap gerakan-gerakan rakyat yang berlawan, seperti salah satu organisasi mahasiswa (UMC) di Serang yang tergabung dalam aliansi gabungan pada tanggal 7 Oktober 2015 yang mengalami represif aparat, demonstrasi buruh pada tanggal 30 Oktober 2015 yang menuntut dicabutnya PP No. 78 dibubarkan paksa oleh aparat, demonstrasi petani di Kebumen (urut sewu) yang menolak adanya pemagaran di represif bulan Agustus lalu.

Senada dengan itu ditempat yang sama, menurut Hasim sebagai Koordinator Jaringan KP Federasi Mahasiswa Kerakyatan, Rezim Jokowi-JK semakin memperlihatkan wajah aslinya. “menyelamatkan dunia yang sedang krisis dengan mengobral seluruh kekayaan alam, mensubsidi pengusaha sedangkan untuk rakyat dicabut, melancarkan segala bisnis tanpa perduli dengan kesejahteraan buruh bahkan rakyat pada umumnya, termasuk masa depan suram bagi pemuda karena pendidikan yang rendah juga tidak ada lapangan pekerjaan”.

Maka, KP Federasi Mahasiswa Kerakyatan menyerukan kepada seluruh mahasiswa secara serantak melakukan aksi pada tanggal 17 November dan membangun posko perlawanan menyikapi persoalan pendidikan di Indonesia  serta mendukung rencana Mogok Nasional ke-3 yang akan dilaksaakan pada tanggal  24 – 27 November, KP Federasi Mahasiswa Kerakyatan secara nasional menuntut;

  1. Tolak Paket Kebijakan Ekonomi
  2. Cabut PP No. 78 tentang Pengupahan
  3. Cabut Pergub 228
  4. Cabut SE Kapolri tentang Hate speech
  5. Tolak Program Bela Negara (pro investor)
  6. Pendidikan Gratis dengan memperbesar subsidi pendidikan
  7. Lapangan Pekerjaan layak bagi Kaum Muda

 

Demikian press release ini kami serukan, atas solidaritas dan perjuangannya kami ucapkan terima kasih.

 

Jakarta, 13 November 2015

CP:
Dahlia 085773628595

Hasim 082254561843

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Gelombang Perlawanan Perempuan Iran, Tentang Mereka yang Menolak Redam

Kematian Amini memicu gelombang aksi protes di berbagai kota. Di sepanjang aksi – aksi protes,  pengunjuk rasa meneriakkan slogan “Perempuan, Hidup dan Kebebasan” (Woman, Life, Freedom). Slogan ini mengejewantahkan amarah pengunjuk rasa kepada rejim yang sibuk merepresi perempuan dan abai mengeluarkan kebijakan yang lebih fundamental seperti perbaikan kesejahteraan rakyat, padahal satu dari tiga warga Iran hidup di bawah garis kemiskinan. Lebih jauh lagi, slogan tersebut berasal dari gerakan pembebasan perempuan Kurdish di Turki dan Syria yang mengalami penindasan berbasis etnik selama puluhan tahun.

Hambatan dan Tantangan Berorganisasi

Oleh: Thin koesna Sarwa Membangun kesadaran berorganisasi bukan suatu hal yang mudah, terlebih lagi di tengah tekanan pengusaha yang terus mengatur pola pikir buruh agar

Orde Baru Ditolak. Orde Bau Bertindak

foto diambil dari http://media.nationalgeographic.co.id/daily/640/0/201505210903343/b/foto-pisowanan-agung-rakyat-yogyakarta-20-mei-1998.jpg Oleh Ambar Catatan buruh 18 tahun reformasi Seingat kita, dulu gerakan 1998 meledak perlawanan untuk menolak korupsi, kemiskinan, dan lainnya, termasuk

NASIB SERIKATKU YANG HANYA MAMPU BERTAHAN 2 TAHUN (2)

foto.news.viva.co.id Oleh Tisha lanjutan dari http://dev.marsinah.id/nasib-serikatku-yang-hanya-mampu-bertahan-2-tahun-1/ Membangun Serikat Buruh Setelah proses yang memakan waktu, akhirnya kami resmi mendaftarkan serikat ke Dinas Tenaga Kerja. Pendaftaran anggota pertama

Pulang Kerja

[Best_Wordpress_Gallery id=”6″ gal_title=”Pulang Kerja”] Keringat membasahi wajah puluhan ribu buruh perempuan di KBN Cakung, mana kala matahari mulai tenggelam di jalanan (bulog), istilah yang kami

PT. Master Wovenindo Label Tutup Permanen, Masalah Pesangon Belum Terselesaikan

Muhammad Andre Nasrullah, juru bicara PSP SPN PT. Master Wovenindo Label, menyatakan bahwa perusahaan harus segera menjalankan putusan kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia dan membayar pesangon para pekerja yang telah menunggu hampir empat tahun. Andre meminta agar perusahaan segera berkoordinasi dengan serikat pekerja dan mengeluarkan surat kuasa jual atau menjual bersama aset perusahaan untuk menyelesaikan pesangon para pekerja.

Cerita Harian Buruh Ibu

  Narasi Buruh Ibu Tahun 2021 adalah tahun penuh refleksi bagi saya pribadi. Situasi pandemi memaksa, setidaknya saya, untuk menatap layar HP yang menampilkan pointer,