Omnibus Law Melegalkan Pelanggaran Hak-Hak Pekerja, Khususnya Perempuan

Diterjemahkan dari wawancara Dian Septi Trisnanti oleh Jean-Pierre Barrois, wartawan pada sebuah media asal Prancis, La Tribune Des Travailleurs. Terbit 28 Oktober 2020, halaman 11.

 

Di Indonesia, mobilisasi pekerja terus berlanjut melawan Omnibus law pemerintah, yang mempertanyakan peraturan ketenagakerjaan, tetapi juga di bidang lain. Dian Septi Trisnanti telah membentuk serikat pekerja sandang yang tergabung dalam Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) dan menjelaskan alasan mobilisasi tersebut.

 

Bagaimana gambaran umum industri garmen di Indonesia?

Perekonomian Indonesia bertumpu pada industri yang sangat padat karya. Hal ini terjadi pada pakaian, yang mempekerjakan tenaga kerja berketerampilan rendah (90% pekerja di industri pakaian adalah perempuan). Sebagian besar perusahaan garmen dimiliki oleh orang Korea, Jepang, Taiwan, dan Cina. Mereka memproduksi untuk Nike, Adidas, Gap, Zara, Express, Uniqlo, dll.

 

Pandangan terhadap Omnibus Law?

Undang-undang tentang penciptaan lapangan kerja ini bersifat patriarkal. Ini bertujuan untuk memfasilitasi pemecatan sewenang-wenang bagi pekerja yang rentan, khususnya pekerja perempuan.

Tujuan utama dari Omnibus Law ini adalah menjadikan pasar tenaga kerja semakin fleksibel. Pasal-pasal pekerja kontrak dan outsourcing telah diubah sehingga dapat diterapkan secara luas dan tanpa batasan waktu. Pasal 88 B undang-undang tersebut menetapkan sistem pengupahan yang secara signifikan mempengaruhi upah pekerja hamil atau yang tengah datang bulan dan membutuhkan istirahat selama jam kerja. Hal ini mengakibatkan upah bersih dapat lebih rendah dari upah minimum. Hak perempuan atas cuti melahirkan dengan mudahnya dilanggar oleh atasan. Undang-undang tidak mengamanatkan bahwa hak-hak ini dihormati.

Cuti melahirkan dan cuti bulanan terkait status perempuan, meski disebutkan dalam beberapa pasal undang-undang, akan sulit didapat karena atasan akan dengan mudah memecat pekerja ketika mereka mencoba memintanya. Begitu pula jika mereka ingin menyusui bayinya. Pelanggaran tersebut sudah biasa terjadi bahkan sebelum Omnibus Law disahkan. Kini Omnibus Law sudah melegalkannya.

Omnibus law juga memberi bos kewenangan untuk mendenda pekerja yang dituduh melakukan kesalahan, tetapi klausul “kesalahan” ini tidak memiliki definisi yang tegas.

 

Anda ikut ambil bagian dalam perjuangan kelas melawan hukum ini. Apakah anda mengalami represi?

Pada 8 Oktober, saat kami berdemonstrasi dengan damai, kami diserang oleh polisi. Polisi memprovokasi para peserta dan ribuan pengunjuk rasa ditangkap, termasuk siswa sekolah menengah dan perguruan tinggi. Saya ingin menegaskan bahwa Omnibus Law Cipta Kerja bukan hanya ancaman bagi pekerja, tetapi juga ancaman bagi semua orang. Undang-undang ini mengubah lebih dari tujuh puluh undang-undang, termasuk tentang lingkungan, perpajakan, pendidikan, pertanahan, dll. Tujuan utama Omnibus law adalah melayani kekuatan komersial sesuai dengan prinsip neoliberalisme. Oleh karena itu, undang-undang ini secara sistematis memperkuat kemiskinan.

 

Moto kami adalah: “Setiap hari, setiap jam, mari ubah rasa sakit menjadi kekuatan.”

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Feminisme Mengubah Masyarakat

Seperti dikatakan bell hooks, feminisme berangkat dari kesadaran bahwa penindasan tidak bersifat individual, melainkan terstruktur dalam sistem sosial.

Ketika Perlawanan Bukan Sekedar Untuk Menang (3)

Oleh Yohana Sudarsono  Baca juga http://dev.marsinah.id/ketika-perlawanan-bukan-sekedar-untuk-menang/ dan http://dev.marsinah.id/ketika-perlawanan-bukan-sekedar-untuk-menang-2/ Melawan Sekolah Internasional Lokal   Sesudah dua tahun belajar tentang hukum ketenagakerjaan, menjadi relawan membantu kampanye kawan-kawan serikat buruh,

Marsinah, Pahlawan Rakyat

MURAL TTS 2014 MARSINAH di Lampu Merah Jl. ParangTritis Sebelum Ring Road Selatan, oleh Barisan Pengingat, 14 Maret 2014. Mural ini adalah bagian dari rangkaian

Mengenang Sosok Munir

Sudah 17 tahun, kasus Munir belum kunjung terungkap, namun sosoknya terus menjadi semangat dan inspirasi bagi siapa saja yang mencintai kebenaran dan hak asasi manusia.

Stop Pembubaran Pemutaran Film Senyap

Kehadiran film Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (The Look of Silence) membuat masyarakat berpaling kembali ke tragedi pelanggaran HAM 1965. Kali ini lebih