Merebut Kuasa di Balik Baju Garment

Kami seorang buruh garmen yang hanya bisa jahit tapi tidak bisa memiliki apa yg sudah kami jahit.

Kami berorganisasi di FBLP, banyak pengalaman yang kami terima yaitu kumpul bersama teman-teman , ikut pendidikan. Salah satunya kerjasama dengan Fashion of Words, dimana kami belajar mendesain baju kami sendiri. Ternyata tidak mudah jadi Desainer, tapi kami bangga karena di pabrik kami tidak punya otoritas atas diri sendiri untuk mendesain, menjahit sesuai kehendak kami. Kami yang terlibat adalah saya (Sultinah), Linda,Nani, Vera, Ririn dan Agus.

Kami mencoba menghadapi tantangan menggambar di atas kertas, model baju yang kami inginkan. Walaupun tidak berpengalaman menggambar desain baju, saya mencoba. Ternyata gambar saya diterima oleh Mba Ayu sang mentor.

Seminggu berikutnya kami diajak di suatu tempat dimana kita bisa melihat hasil desain kami dan fitting baju yg kita akan pakai di acara Fashion of Words. Walaupun kita seorang buruh jahit, ternyata kita juga bisa lenggak- lenggok di atas panggung. Rasa degdegan bercampur dengan takut dan cemas. Akan berhasilkah kami melaksanakannya. Kita yakin pasti bisa.

Selama proses latihan, kegalauan kami tidak habis – habis. Sampai pementasan tiba, bercampur rasa takut dan gembira. Hari itu, ketika fashion show tiba, di malam Fashion of Words, kami akhirnya berhasil. Hingga kini, saya ingat kalimat yang dengan lantang saya ucapkan do atas panggung.

“Kini kami membebaskan hadir untuk menuangkan ekspresi murni. Perempuan Bebas Berekspresi. Inilah tubuh kami”

Oleh Sultinah

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Kebebasan Serikat Harus Terus Diperjuangkan

Isnur juga menyatakan bahwa ketika sudah mulai berserikat dalam konteks perjuangan gerakan rakyat, biasanya penguasa/pemilik kekuasaan akan merespon balik dengan berbagai cara antara lain berusaha menghentikan, menutup, menghalang-halangi dan lain-lain.

Sumber: https://pin.it/42kJV784f

Polemik UU Kesejahteraan Ibu dan Anak

Selain itu, UU KIA tidak mengatur secara khusus hak buruh ibu yang bekerja di sektor informal. Padahal, jumlah tenaga kerja di sektor informal telah mencapai sekitar 82,67 juta orang (55,9%), dan didominasi oleh perempuan.

1965: Luka yang Masih Menganga, dan Ironi antara Nama Soeharto dan Marsinah

Kini, wacana pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional kembali menguji nurani bangsa. Soeharto adalah arsitek sistem kekuasaan yang menindas kebebasan berpikir, membungkam pers, dan menyingkirkan lawan politik. Dan ironinya, nama itu disebut bersamaan dengan Marsinah, buruh perempuan yang dibunuh di bawah sistem represif yang sama.