KBN Cakung Menuju Mogok Nasional

Oleh Sri Sulastri

Hari ini, 18 November 2015, adalah aksi pemanasan menuju mogok nasional yang akan dilangsungkan tanggal 24-27 november 2015 dengan tuntutan CABUT PP UPAH 78/2015 bersama gabungan serikat buruh kawasan.

Suasana di KBN Cakung mendekati waktunya pulang kerja buruh – buruh KBN Cakung, cukup hiruk pikuk bergema suara meneriakan panji – panji perjuangan dari beragam serikat buruh yang tergabung dalam Forum PUK, PB, SB dll. Setelah tiba jam pulang kerja, para buruh berebut keluar dari pabrik tempat buruh itu bekerja, rasa penasaran tampak dari raut wajah mereka. Para buruh menghampiri kami yang sedang menggelar aksi pra kondisi Mogok Nasional dan ternyata setelah buruh sudah dekat dengan barisan kami, tiba – tiba mereka panik dan merasa was – was.

“Ada apa ini?” Tanya buruh kepada teman kerjanya!

“Kok mogok nasional sore ya, pulang kerja lagi?” Sambil berbalik arah dengan cepat menghindari barisan massa aksi.

Banyak kawan – kawan buruh tidak banyak mengetahui informasi soal aksi kami sore hari ini di bundaran belakang KBN Cakung. Segera, buruh yang sudah sangat dekat dengan kami pun ikut berlari kencang untuk menjauh dari barisan massa aksi. Buruh yang sudah ada didalam barisan kami pun malah mencari jalan untuk segera pulang. Yaah itu lah buruh yang sudah nyaman dengan penderitaanya, yang sudah terlena dengan kesulitannya, yang sudah pasrah dengan keadaan dan situasi yang makin terjepit dan akhirnya mau tidak mau mencari jalan untuk cari aman sendiri.

Ada lagi seorang buruh lain merasa takut mendengar teriakan ‘Hidup Buruh’, “Buruh bersatu tak bisa dikalahkan”. Semakin bingung ia sudah berada di dalam barisan massa aksi, dengan wajah letih akhirnya buruh perempuan itu duduk di pinggiran trotoar, tempat parkiran AJP (Antar Jemput Pekerja) karena aksi kami memenuhi jalan. Bukan karena buruh berdesakan mendekat ingin tahu, tetapi sebaliknya desakan dan sesakan buruh mencari jalan untuk cepat pulang ke hunian mereka. Sungguh keadaan yang sangat pahit, tetapi tidak apa karena kami sudah terbiasa dengan situasi pahit dan sulit. Yang penting terus berlawan tak henti berjuang. Kami terus semangat menghadapi kenyataan kebanyakan buruhnya pulang dan tak sama sekali perduli, karena kami terus disemangati dengan buruh yang bergabung bersama kami walau belum maksimal.

Ada barisan BAMBU FBLP, jangan salah tafsir ya Bambu FBLP bukan setumpukan “Bambu” akan tetapi “Barisan Maju Buruh Perempuannya” FBLP. Yang sedang memblokade jalan agar buruh yang baru keluar dari pabrik tidak langsung pulang melainkan turut mendukung Aksi Pemanasan tuntut Cabut PP upah nomor 78/2015, yang salah satunya isinya kaum buruh menolak penerapan KHL 5 tahun sekali. Tanpa kontrol harga pasar yang terus melonjak naik, upah naik 5 tahun sekali, yaah itu sama saja membuat hidup kita sebagai buruh juga rakyat terus dalam kemiskinan. Sosok perempuan juga yang akan menjadi korban terus menerus untuk terus mencari celah bagaimana mensiasati Upah yang rendah, dan harga pasar terus melambung tinggi.

Akhir kata, apapun yang terjadi, “Kami Siap Mogok Nasional”. Wassalam.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Berkirim Karya

Bantu Marsinah FM menjadi media buruh perempuan dengan berkirim karya. Ini dia syarat dan ketentuannya: 1. Semua tulisan, video dan audio yang diterbitkan di dev.marsinah.id

Lagi, Perusahaan di KBN Cakung Kebakaran

Sebuah pabrik garmen di Kawasan Berikat Nusantara Cakung terbakar. Lokasi pabrik berada di dekat PT Amos. Ini merupakan kejadian kedua setelah sebelumnya pabrik garmen PT

Suara Buruh Edisi 10 Desember 2015

Suara Buruh episode 10 Desember 2015 hadir untuk sahabat Marsinah. Masih tentang hak maternitas di tempat kerja. Facebook Comments Box

Tenda Perjuangan Petani Rembang

tenda perjuangan/dok. politik rakyat Oleh : Thin Koesna Menanam  Adalah  Melawan Sebelum mendirikan Tenda Perjuangan ibu petani  Rembang ini melakukan aksi  memasung kaki mereka dengan

Kami Butuh Waktu Bersama Keluarga,  Kurangi Jam Kerja!

Rahma (buruh pabrik garment) ia mengatakan dengan bekerja 40 jam per minggu diperusahaan dengan target produksi tinggi yang ditetapkan oleh perusahaan selalu membayangi pikirannya ketika ia bekerja karena tuntutan perusahaan yang meminta agar target produksi tinggi tersebut tercapai.