Pukul empat pagi adalah waktu yang hampir tak pernah berubah bagi Linda. Seberapapun larut ia tidur, pada jam itu ia harus bangun. Di rumah kontrakan yang tidak terlalu luas, ia menggulung kasur, mengeluarkan motor, membersihkan kandang kucing, mengganti pasir, memastikan makanan tersedia, dan membereskan rumah sebelum berangkat menjalani aktivitas.
Dua anaknya tinggal bersama nenek. Karena itu, Linda tidak memasak setiap hari. Namun, bukan berarti peran sebagai ibu berhenti ketika ia keluar rumah.

Setiap mendapatkan paket sembako murah berisi daging, telur, atau ikan, Linda menyimpannya untuk dimasak ketika hari libur. Daging bisa diolah menjadi rendang, ikan dibuat pempek lalu dibekukan. Setelah masakan jadi, ia mengantarkannya kepada anak-anak atau menunggu mereka mengambilnya.
“Yang penting mereka tetap makan masakan ibunya,” kata Linda.
Kalimat sederhana itu memperlihatkan satu hal: bekerja sebagai buruh perempuan tidak pernah hanya berarti bekerja di pabrik.
Di luar jam kerja, ada rumah yang harus diurus, anak yang harus diperhatikan, keluarga yang membutuhkan dukungan, dan dalam kasus Linda, seorang adik yang sedang menjalani perawatan kesehatan mental. Di dalam pabrik, ada target produksi yang harus dikejar. Di luar pabrik, ada kehidupan yang juga menuntut tenaga.
Namun sejak April 2026, rutinitas Linda berubah. Ia bersama 133 pekerja PT Amos Indah Indonesia di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung, Jakarta Utara, melakukan aksi pendudukan dan mogok sebagai bagian dari perjuangan menuntut hak-hak mereka. Kasus itu kemudian mendapat perhatian Kementerian Ketenagakerjaan. Pada 18 Juni, Wakil Menteri Ketenagakerjaan melakukan inspeksi dan mediasi atas kasus PHK tersebut.
Bagi Linda, perjuangan itu bukan perkara baru. Ia telah bekerja di pabrik sejak tahun 2000. Dua belas tahun kemudian, sekitar 2012, ia mulai mengenal serikat buruh.
Jarak antara menjadi pekerja yang hanya mengikuti aturan perusahaan dan menjadi pekerja yang berani mempertanyakan aturan itu ternyata tidak pendek.
Dari “Ya Sudahlah” Menjadi Berani Bertanya
Linda masih mengingat satu peristiwa yang membuatnya mulai mempertanyakan ketidakadilan di tempat kerja. Sekitar 2009, pabrik tempatnya bekerja mengalami mati listrik. Produksi berhenti. Namun, perusahaan meminta pekerja mengganti jam kerja yang hilang akibat mati listrik tersebut.
Bagi Linda, ada sesuatu yang terasa janggal. “Ini kan bukan perusahaan milik kami, dan pemadaman listrik bukan keinginan kami. Kita semua kan nggak pengen itu hal terjadi, kenapa malah kami yang harus menanggung akibatnya?”
Saat itu Linda belum menjadi anggota serikat. Ia belum tahu bagaimana seharusnya pekerja menyikapi kebijakan perusahaan. Linda hanya tahu bahwa sesuatu terasa tidak benar.
Suatu ketika ia diminta mewakili bagian kerjanya untuk mengikuti perundingan. Di sana ia melihat pengurus serikat yang bernama Rahma, sedang berdebat dengan pihak perusahaan. Apa yang dikatakan Rahma ternyata sama dengan apa yang selama ini ada di kepala Linda: mengapa pekerja harus menanggung akibat dari sesuatu yang bukan kesalahan mereka?
Tetapi Linda hanya diam, belum berani berbicara. Justru karena hanya satu orang yang berani menyampaikan keberatan dari sekitar 700 pekerja, Linda mulai berpikir: mengapa hanya satu orang yang bersuara ketika begitu banyak orang sebenarnya merasakan hal yang sama?
Peristiwa tersebut menjadi titik balik. Linda ingin belajar menyampaikan apa yang ada di kepalanya. Bukan sekadar menyimpan keberatan, diam, lalu kembali bekerja.
“Semua orang pernah takut buat bersuara,” katanya. Apalagi bagi pekerja baru dan perempuan yang masih sering dianggap tidak memiliki keberanian atau kekuatan untuk melawan. Dari sanalah perjalanan Linda sebagai pengurus serikat dimulai.
Target, Teriakan, dan Tubuh yang Dipaksa Bertahan
Selama 26 tahun bekerja, Linda tetap berada di bagian sewing. Ia mengatakan tidak pernah mendapat tawaran promosi. Yang ia alami justru perpindahan dari satu line ke line lain.
Di lantai produksi, pekerjaan diukur melalui angka. Target harus dicapai. Jika belum selesai, pekerja diminta mengejar. Jika satu pekerja sudah mencapai target sementara pekerja lain belum, ia diminta membantu. Tekanan tidak selalu datang dalam bentuk aturan tertulis. Kadang ia muncul melalui teriakan dari podium.
Linda masih mengingat bagaimana manajemen menyampaikan target produksi setiap pagi: line mana yang belum mencapai target, berapa kekurangannya, berapa banyak pekerjaan yang harus diperbaiki, berapa produk yang ditolak, dan kapan barang harus selesai untuk diekspor.
Bahkan pergi ke kamar mandi pun, menurut Linda, terasa seperti aktivitas yang harus diawasi. “Jangan banyak ngobrol, jangan banyak mondar-mandir ke WC,” ia menirukan perkataan yang kerap didengar pekerja.
Tekanan itu tidak hanya melelahkan tubuh, tapi juga memengaruhi kondisi mental pekerja. Linda menggambarkan situasi ketika target produksi belum tercapai dan tenggat ekspor semakin dekat. Pekerja pada akhirnya harus lembur. Namun, menurutnya, tidak selalu ada uang lembur yang diterima. Perusahaan, kata Linda, tidak menyebutnya sebagai paksaan, tetapi pekerja diminta “sadar diri” karena target belum tercapai.
Beban itu semakin berat bagi perempuan. Sebab sebelum mencapai pabrik, mereka telah menyelesaikan pekerjaan rumah. Setelah pulang, pekerjaan domestik kembali menunggu.
“Banyak yang bilang perempuan kerja cuma buat bantu-bantu ekonomi keluarga,” kata Linda. Menurutnya, anggapan itu menghapus kenyataan bahwa perempuan juga menjadi pencari nafkah sekaligus penanggung jawab pekerjaan perawatan di rumah. Pekerjaan perempuan tidak berhenti ketika mesin pabrik dimatikan.
Ketika Hak Haid Pun Harus Dibuktikan
Salah satu pengalaman yang membuat Linda melihat bagaimana tubuh perempuan berada dalam kontrol tempat kerja adalah ketika pekerja hendak mengambil cuti haid.
Menurut Linda, pekerja harus melalui pemeriksaan untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar sedang menstruasi. Pada saat yang sama, perempuan tetap dituntut memenuhi target produksi.
“Jadi perempuan susah emang,” katanya. Kesulitan itu semakin terlihat ketika pekerja mengalami sakit.

Linda menceritakan seorang rekan kerjanya yang telah bekerja selama 26 tahun. Perempuan itu memiliki miom yang, menurut cerita Linda, telah melekat pada rahimnya. Dalam kondisi masih menggunakan kateter, ia tetap datang bekerja.
Linda bertanya mengapa ia tetap masuk. Jawabannya sederhana: ia takut kehilangan pekerjaan. Usianya sudah tidak muda lagi. Ia khawatir tidak akan mudah mendapatkan pekerjaan baru.
Bagi Linda, cerita itu menunjukkan bagaimana kebutuhan mempertahankan pekerjaan dapat membuat pekerja mengabaikan kondisi tubuh sendiri.
Perempuan tidak hanya dituntut menghasilkan barang. Tubuhnya juga harus terus tersedia untuk produksi. Dan ketika tubuh itu sakit, rasa takut kehilangan pekerjaan bisa lebih besar daripada rasa takut terhadap sakit itu sendiri.
Mogok Bukan Berarti Berhenti Bekerja
Ketika 133 buruh PT Amos melakukan aksi pendudukan pabrik, Linda justru menemukan bentuk kerja yang lain. Mereka bergiliran piket menjaga pabrik dan memastikan barang yang masuk dan keluar dari pabrik tidak luput dari perhatian.
Jika ada anggota yang dilarang suaminya untuk melakukan piket, Linda bahkan mendatangi rumah anggota tersebut untuk menjelaskan mengapa ia perlu ikut piket.
Artinya, sebagai ketua basis, tanggung jawab Linda tidak berhenti di gerbang pabrik. Ia masuk ke ruang domestik anggota. Ia harus berhadapan dengan keluarga dan menjelaskan mengapa perempuan yang selama ini menjalankan pekerjaan rumah tangga kini harus berada di pabrik untuk memperjuangkan haknya. Tanggung jawabnya mencakup 133 anggota.
“Waktu saya lebih banyak ke organisasi,” Linda mengaku memahami konsekuensinya.
Adiknya pernah marah karena merasa tidak mendapatkan perhatian penuh. Anak-anaknya membutuhkan biaya sekolah dan uang jajan. Rumah tetap harus diurus. Namun, menurut Linda, tanggung jawab sebagai ketua tidak dapat ia kesampingkan.
Di situlah kontradiksi kehidupan perempuan pekerja muncul dengan jelas: ketika perempuan memimpin perjuangan di ruang publik, pekerjaan perawatan di ruang domestik tidak otomatis hilang. Sebaliknya, perempuan harus mencari cara agar keduanya tetap berjalan.
Dapur Perlawanan

Di tengah aksi mogok, kebutuhan paling sederhana justru menjadi persoalan besar: makan. Hampir empat bulan tanpa menerima gaji membuat para pekerja harus memikirkan cara bertahan. Mereka kemudian membuat dapur bersama di kantin PT Amos.
Sebelum membuka donasi, anggota membawa apa saja yang mereka punya. Ada yang membawa beras, sayur, gorengan, atau bahan makanan lain. Makan bersama menjadi bagian dari perjuangan.
Solidaritas tidak selalu hadir dalam bentuk uang dalam jumlah besar. Kadang ia berupa sekantong beras, sepiring makanan, bahan masakan. Atau seseorang yang datang ke pabrik membawa makanan untuk dimakan bersama.
Bagi Linda, bentuk-bentuk kecil itu sangat berarti. Sebab mogok kerja membuat para pekerja kehilangan pemasukan, sementara kebutuhan keluarga tetap berjalan.
Sebagai ibu, Linda tidak bisa begitu saja berhenti memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ia mulai berjualan pulsa dan paket data untuk mendapatkan pemasukan tambahan.
“Dari mana bisa mendapatkan uang? sementara saya dan yang lainnya nggak dapat gaji,” ujar Linda yang mengaku harus memutar uang yang tidak seberapa agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Di sinilah mogok kerja memperlihatkan wajah yang jarang terlihat dari luar: perjuangan di ruang publik selalu memiliki biaya domestik. Ketika buruh berhenti bekerja untuk menuntut hak, kebutuhan makan tidak ikut berhenti.
Perempuan Tidak Berjuang Sendirian
Di pabrik, solidaritas dibangun melalui pembagian kerja. Ada yang bertugas mengorganisir anggota. Ada yang mengurus advokasi. Ada yang menangani keuangan dan pendataan. Ada yang memastikan jadwal piket. Ada yang memasak.
Dalam satu kasus, ketika seorang buruh hamil menghadapi persoalan hak upah, kolektif bekerja dengan pembagian peran. Ada yang mengumpulkan data, ada yang mendekati korban, ada yang bernegosiasi dengan Perusahaan dan ada juga yang menguatkan keluarga korban.
Bagi Linda, tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Justru kekuatan kolektif muncul karena masing-masing orang mengambil bagian yang berbeda.
Linda mengakui dirinya tidak selalu pandai mendekati keluarga korban. Karena itu, ia lebih banyak berhadapan dengan pihak perusahaan dalam proses perundingan.
Perempuan-perempuan lain mengambil peran yang berbeda. Kerja kolektif membuat perjuangan tidak bertumpu pada satu orang. Dan selama mogok, hal tersebut menjadi cara untuk bertahan.
Dukungan dari luar juga penting. Orang datang ke pabrik, membantu kampanye, menyumbang uang dan bahan makanan. Semua itu menjadi energi bagi para pekerja yang berbulan-bulan tidak mendapatkan penghasilan.
Melawan di Pabrik, Memutus Lilitan di Rumah
Perjuangan Linda tidak hanya berlangsung antara pekerja dan perusahaan. Ada perjuangan lain yang lebih personal: melawan relasi patriarkal di dalam rumah.
Ketika mulai belajar berorganisasi sekitar 2012, Linda masih berada dalam ikatan perkawinan yang ia rasakan membatasi ruang geraknya. Setiap kali mengikuti diskusi atau rapat, suaminya menelepon dan memintanya segera pulang.
“Udah jam berapa? Pulang sekarang juga.”
Meski Linda mencoba menjelaskan mengapa ia harus mengikuti rapat dan belajar berorganisasi. Tetapi, menurutnya, suaminya tidak pernah mau memahami.
Bagi Linda, pengalaman itu kemudian membuatnya memahami bahwa perjuangan perempuan tidak cukup hanya dengan belajar tentang hak di tempat kerja. Jika ruang gerak perempuan masih dikendalikan di rumah, pengetahuan tentang hak tersebut juga akan sulit dipraktikkan. Ia akhirnya memutuskan mengakhiri perkawinannya dan menjadi ibu tunggal.
Keputusan itu tidak mudah. Selama dua hingga tiga tahun, ia mengalami tekanan mental. Ia menarik diri dari lingkungan, tidak ingin bertemu siapa pun, dan lebih banyak menangis.
Namun, pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari cara Linda memahami kebebasan perempuan.
“Selama belum memutus lilitan patriarki,” katanya, belajar berorganisasi sekalipun tidak akan banyak berarti jika perempuan tetap tidak memiliki ruang untuk menentukan hidupnya sendiri.
Pengalaman personal itu kini ia bawa dalam perjuangannya sebagai buruh. Linda tidak melihat persoalan perempuan hanya berada di pabrik. Penindasan dapat bekerja bersamaan: di tempat kerja dan di rumah.
Dari Perempuan yang Takut, Menjadi Ketua 133 Buruh
Linda sekarang melihat dirinya sebagai perempuan yang sangat berbeda dari dirinya dua puluh tahun lalu. Dulu, ia bahkan tidak membayangkan akan berani berhadapan dengan pemilik perusahaan atau berdebat dengan manajemen. Kini, ia menjadi ketua basis yang memimpin 133 pekerja.
Perubahan itu tidak datang tiba-tiba. Linda dibentuk dari pengalaman bekerja, belajar organisasi, menghadapi konflik, berbicara di depan orang lain, dan berulang kali memaksa dirinya untuk tidak diam.
Bagi Linda, keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian berarti tetap berbicara meski takut. Ia juga belajar bahwa perempuan buruh memiliki kemampuan yang sering tidak terlihat.
Mereka dapat bekerja di bawah tekanan, mengurus keluarga, mengorganisir anggota, mengurus kasus, memasak untuk kolektif, menggalang dukungan, dan menghadapi perusahaan.
“Waktu sendiri berani, bareng-bareng makin kuat,” katanya.
Kalimat itu mungkin menjadi inti dari perjuangan Linda dan kawan-kawannya. Mereka tidak hanya sedang memperjuangkan uang pesangon atau hak kerja. Mereka sedang menunjukkan bahwa buruh perempuan adalah subjek yang mampu menentukan sikap atas hidupnya sendiri.
Ketika Perjuangan Mengubah Cara Perempuan Melihat Dirinya
Pada 23 Juli 2026, Kemnaker bersama Desk Ketenagakerjaan Polri menyatakan sengketa industrial PT Amos telah dimediasi. Pemerintah menyebut perusahaan menyepakati pembayaran pesangon kepada 134 pekerja dengan total Rp12,7 miliar, dengan besaran yang berbeda sesuai masa kerja.
Kesepakatan itu menutup satu babak panjang perjuangan para pekerja. Namun, bagi Linda, perubahan paling penting mungkin bukan hanya angka pesangon.

Ia telah mengalami perubahan cara memandang dirinya sendiri. Dari perempuan yang dulu memilih diam saat tidak setuju, menjadi perempuan yang berani menyampaikan keberatan. Dari pekerja yang hanya mengikuti aturan perusahaan, menjadi pengurus serikat yang ikut merumuskan strategi perjuangan. Dari perempuan yang ruang geraknya pernah dibatasi di rumah, menjadi perempuan yang berdiri bersama 133 pekerja lainnya di ruang publik.
Perjuangan itu juga memperlihatkan bahwa solidaritas perempuan bukan sekadar slogan. Ia hadir dalam bentuk konkret: menjaga pabrik, mengumpulkan data, memasak, membawa beras, menguatkan keluarga, mengurus advokasi, mencari bantuan, dan memastikan tidak ada satu orang pun menghadapi masalah sendirian.
Tetapi kemenangan dalam satu sengketa tidak otomatis menghapus persoalan struktural yang dialami buruh perempuan. Target produksi tetap menjadi ukuran produktivitas. Tubuh perempuan masih berhadapan dengan kontrol di tempat kerja. Pekerjaan domestik tetap dibebankan terutama kepada perempuan. Sementara usia pekerja tetap dapat menjadi sumber ketakutan ketika perusahaan memutus hubungan kerja.
Karena itu, cerita Linda bukan hanya tentang satu perempuan dan satu pabrik. Ia adalah cerita tentang bagaimana kerja perempuan sering kali dibuat tidak terlihat baik ketika dilakukan di rumah maupun ketika dilakukan di balik mesin produksi.
Dan ketika perempuan itu berhenti diam, yang dipertaruhkan bukan hanya pekerjaannya. Ia sedang mempertanyakan sistem yang selama bertahun-tahun mengatakan kepadanya untuk patuh, bekerja lebih cepat, memenuhi target, mengurus keluarga, tidak banyak bicara, dan menerima keadaan.
Linda memilih sebaliknya. Ia memilih bersuara. Dan bersama kawan-kawannya, ia belajar bahwa suara yang awalnya hanya dimiliki satu orang dapat menjadi kekuatan ketika 133 orang menggunakannya bersama-sama.
“Perempuan bukan objek,” kata Linda. “Perempuan punya nilai yang sama dengan laki-laki, di manapun dan dalam kondisi apapun. Sama-sama harus bahagia, sama-sama harus sejahtera.”











