Cerita Kekerasan Seksual di Diskusi Hunian

 

Tulisan ini dibacakan di Panggung Buruh Melawan Kekerasan Seksual yang diselenggarakan oleh FBLP dan Radio Marsinah pada 30 November 2014, di Disnakertrans Jakarta Utara. Yang tertulis ini adalah kisah dari puluhan diskusi di hunian – hunian buruh dengan metode memutar video pendek tentang kekerasan seksual. 

Cerita Proses Diskusi Hunian Melawan Kekerasan Seksual 

Salam setara,

Saya ingin berbagi tentang proses menuju Panggung yang sekarang kita jalani.

Sebelumnya, terima kasih ntuk kesempatan yang diberikan. Juga besar terima kasih, untuk kawan – kawan yang hadir pada acara Panggung Buruh Melawan Kekerasan Seksual yang dibuat oleh FBLP (Federasi Suruh Lintas Pabrik) dan Radio Buruh Marsinah FM. Tidak juga lupa, kami sampaikan terima kasih untuk semua kawan buruh, juga warga sekitar hunian buruh, yang terlibat dalam diskusi-diskusi kecel tentang kekerasan seksual. Semoga menjadi kebanggaan bersama bagi yang terlibat proses sebelum panggung ini, dan terus membawa pada keterlibatan di proses berikutnya.

Panggung Buruh Melawan Kekerasan Seksual ini adalah bagian dari Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang jatuh pada tanggal 25 November 2014 atau biasa kita sebut HAKTP. Di tengah keterlibatan kami dalam perjuangan upah pada waktu yang sama, diskusi-diskusi kecil tentang kekerasan seksual bisa dilakukan. Tanpa melemahkan makna dari Panggung hari ini, kami merasa layak untuk menganggap penting dan berharganya diskusi-diskusi kecil yang terjadi sebelum hari ini.

Karena besarnya hambatan dan mungkin terlalu biasa menghadapi tekanan sebagai buruh dan sebagai perempuan, sering malah menjadi sulit berbicara dan berdiskusi tentang masalah sehari-hari buruh perempuan, khususnya di sekitar KBN Cakung ini. Ya, kekerasan seksual di pabrik, memang kenyataan umum buruh perempuan. Namun untuk menjadikan kekerasan seksual sebagai bagian perjuangan, sebagai kepentingan yang digali dan didiskusikan, nyatanya tidak pernah mudah.

Pada proses Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan saat ini, untuk mengatasi kesulitan diskusi tentang kekerasan seksual di pabrik, kami memulainya dengan mendiskusikan kekerasan seksuak terhadap anak-anak. Sebab sesulit apapun keadaan, kalau tentang anak sudah pasti lebih menjadi perhatian buruh perempuan. Tentu semua kita, baik perempuan maupun laki-laki, bisa mengingat ibu atau mak kita. Ibu kita sudah pasti lebih memikirkan kita sebagai anaknya, daripada dirinya sendiri. Itulah landasan proses panggung ini dilakukan. Kami memutar video kartun tentang kekerasan seksual terhadap anak dari India, karena tidak kami dapatkan video serupa buatan Indonesia. Dari kartun tentang anak inilah, diskusi tentang apa yang dialami buruh perempuan sebagai dirinya sendiri kemudian coba diungkap.

Kami membuat ajang NOBAR (nonton bareng) film kartun India di kamar-kamar kontrakan. Kartun yang bagus menurut kami, karena menceritakan apa itu Pelecehan Seksual, Bentuk pelecehan seksual dan bagian tubuh mana yang disebut pelecehan seksual jika disentuh, juga cara bagaimana kita melawan dan melindungi diri kita dari tindak pelecehan seksual. Memang masih terasa singkat proses nonton bareng ini, juga belum banyak yang berhasil diajak. Dalam waktu 17 hari kami lakukan, dan baru 18 ajang NOBAR dan Diskusi, yang dihadiri 10 – 15 orang. Ada juga teman buruh laki-laki yang terlibat, dan ini menambah kebanggaan kami terhadap proses diskusi.

Beragam tanggapan kami temui ketika nonton kartun dan diskusi: ada yang masih malu untuk menyampaikan pengalaman, ada yang baru mengetahui apa itu pelecehan seksual, ada juga yang antusias menyampaikan dan menanggapi pendapat tentang bentuk pelecehan seksual. Bahkan ada yang masih bertanya dan menyalahkan diri sendiri ketika kita mendapatkan perlakuan tindak pelecehan seksual di pabrik, di angkot, atau di masyarakat.

Tidak mudah memang berbicara tentang kekerasan seksual. Bagi buruh perempuan, sebenarnya ketika menjadi korban kekerasan seksual, dengan pengertian apapun yang dimiliki, jelas merasakan sedang jadi korban, minimal merasa ketidaknyamanan. Namun ketika kejadian tersebut sudah lazim berlangsung, dilakukan orang sekitar, serta tidak ada pembelaan, apalagi ditambah takut kehilangan sumber penghidupan, sering akhirnya muncul pemakluman-pemakluman. Tidak jarang sebagai korban kita akhirnya mengikuti pikiran pelaku, dengan menganggap sebagai tindakan bercanda, masih bisa dimaklumi dan sebagainya. Walaupun merasa dirugikan, tidak nyaman dan sedang jadi korban.

Jika penguasa atau pemerintah tegas berposisi menyalahkan apapun tindak kekerasan seksual, kami yakin segala pemakluman dari korban TIDAK AKAN BERTAHAN. Pemakluman ini tidak sejati, bukan penerimaan yang sebenarnya, dan selalu mencari celah perubahan lebih baik.

Besar harapan kami, kita semua yang sudah terlibat dalam proses pemutaran film dan diskusi, juga terlibat pada acara Panggung Buruh Melawan Kekerasan Seksual ini,  semakin sanggup melawan kekerasan seksual. Buruh perempuan yang sudah memberikan kontribusi terhadap ekonomi keluarga dan negara, sudah sewajarnya memberi kontribusi bagi pemenuhan haknya sendiri, sebagai buruh dan perempuan. Karena kita sebagai perempuan harus menghargai diri kita, tubuh kita, dengan berani menyuarakan, dan melawan segala bentuk tindakan yang melecehkan tubuh kita. Untuk itu mari kita bersama – sama Melawan dan Berani bersuara untuk tidak menjadi korban kekerasan seksual. Ajakan yang tidak kalah lantang, kami sampaikan kepada kawan-kawan buruh laki-laki. Laki-laki setara adalah kekuatan penting bagi perlawanan terhadap kekerasan seksual.

Terima kasih. Hidup Perempuan yang Melawan. Hidup Laki-laki Setara

Sri Sulastri

Penyiar Radio Marsinah, 

Divisi Perluasan FBLP 

 

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Pekerja Rumahan Adalah Pekerja

Lem yang dipergunakan untuk mengelem alas kaki tidak diberikan secara gratis, tapi setiap perantara wajib membeli lem yang sudah disediakan oleh pabrik. 1 kaleng lem dihargai Rp.450.000 dan ini dibayarkan setelah semua pekerjaan selesai. Biaya ini belum mencakup transportasi untuk mengambil barang, gunting untuk memotong, kuas untuk menyapu lem ke alas kaki. Semua ongkos itu semuanya ditanggung oleh si pekerja rumahan.

Sebuah Kisah dari Hasan

Oleh : Khamid Istakhori Tulisan ini, saya buat berdasarkan status facebook dari Hasan, mengenai pengalamannya bekerja selama 9 tahun di pabrik asbes di Karawang. Tiba-tiba,

6 Rekomendasi UU KIA Dari JMS untuk Kebijakan Adil Gender

Di sisi lain, pengecualian kewajiban bagi ibu yang tidak bisa untuk memberikan ASI eksklusif hanya diperkenankan untuk alasan medis, tidak mempertimbangkan alasan non-medis, misalnya kondisi fisik selain alasan medis atau kondisi psikologis yang membuat seorang perempuan tidak mampu memberikan ASI eksklusif. Hal itu dibenarkan oleh Nanda Dwinta dari Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), bahwa terdapat ragam peran perempuan dalam menjalankan fungsi ibu dengan kesulitan yang berbeda.