Berhadap – Hadapan Untuk Mempertahankan Hak

Pagi itu, tepat pukul 08.30 WIB, Indah Haniah yang sedang hamil 3 bulan berbaris bersama 12 teman – teman yang lain di bawah teriknya matahari, tepat di depan gerbang PT. Hansae 3. Rasa lelah sudah tak terasa lagi, berganti dengan rasa kesal karena sebuah mobil pribadi yang ketahuan membawa dua buah meja mesin jahit. Rasa sakit hati sudah menumpuk di hati Indah dan teman – temannya yang lain karena merasa dikibuli.

Adu mulut pun tak terhindarkan, Mr Yu, kepala mekanik dan pemilik mobil pribadi tersebut terlihat gusar dan meludah ke tanah sebagai tanda hinaan dan amarah. 13 buruh perempuan itu tidak bergeming. Indah bukan satu – satunya buruh hamil yang berbaris mempertahankan aset, ada Rika Setiowati yang sedang hamil dua bulan. Mereka berdua dan 11 buruh perempuan lainnya bertekad mempertahankan aset demi hak yang belum dibayarkan.

“Kalian bertahun- tahun kerja di Hansae, dapat makan di Hansae. Dasar tidak tahu malu!” Teriak Mr. Yu di hadapan buruh
“Mr. Yu sendiri makan dari mana? Dari kami, dari negeri kami!”

Adu mulut berlanjut,Mr. Yu lalu meludah ke tanah tanda hinaan dan amarah. Akhirnya, pada pukul 09.25 WIB, mobil pribadi itu pun mundur dan mengeluarkan kembali dua buah meja mesin jahit ke dalam pabrik. Hari itu, pengusaha gagal mengeluarkan mesin jahit untuk ke sekian kali. Indah dan teman – temannya merasa gundah, ia berpikir beberapa kali pasti sejumlah bagian mesin jahit sudah berhasil dikeluarkan dari pabrik.

Di tempat lain, Helmi, yang sedang beristirahat dikagetkan dengan dering suara HP. Ia baru saja pulang dari tenda juang Hansae di pagi hari. Di ujung telpon terdengar suara perempuan yang dalam keadaan gusar.
“Helmi, buruan kamu ke PT. ini ada mobil bawa mesin mau keluar, buruan…”
“Iya mbak Yati!” Sahut Helmi dengan sigap lalu bergegas mengeluarkan motor. Ketika hendak melaju, ia sempat terjatuh karena tergesa – gesa.

Sesampainya di perusahaan, Helmi segera merapat ke pagar dan adu mulut dengan satpam. Sesaat kemudian keluar personalia PT. Hansae, Vina dan mereka berdua adu mulut. Melihat Helmi sedang bertengkar, Yati yang sedari tadi menunggu kedatangan Helmi lalu menggiring Helmi ke tenda juang dan menenangkannya. Suasana tenda sudah ramai karena hendak menggalang solidaritas untuk mempertahankan aset. Suasana kembali tenang, namun pada pukul 11.05, Vina bersama dengan 3 orang tidak dikenal mendatangi tenda dan meneriaki Helmi. Dua bocah, salah satunya masih balita menangis meraung – raung ketakutan memeluk ibunya, Ida “Takut ibu, takut. Pulang yuk pulang” Ida mencoba menenangkan kedua anaknya. Sementara Indah Haniah dan Rika tampak panik mencoba melindungi buah hati di dalam perutnya sambil berharap tidak ada peristiwa yang lebih parah.

Bunda Sultinah, seorang aktivis buruh yang saat itu sedang mendampingi buruh mencoba bertanya pada salah satu dari orang tidak dikenal itu, namun kemudian dibentak “Saya tidak ada urusan dengan kamu!”
Di sisi lain, Bunda memegangi Helmi yang ada di sebelahnya untuk tenang. Tanpa diduga pukulan melayang ke arah Helmi dan atas desakan teman – temannya Helmi tidak membalas pukulan tersebut yang berujung pada pukulan lain. Tendangan terakhir di bekas jahitan operasi di perutnya membuat Helmi limbung, teriakan bersahut – sahutan mengiringi hari itu.

Vina, personalia PT. Hansae 3, terlihat memaki – maki Helmi “Kamu orang miskin, kamu dan keluargamu bisa makan karena saya, kamu dulu memohon – mohon kepada saya untuk diberi kerja. Sudah saya kasih kerja, malah tidak tahu diuntung. Dasar orang miskin!” sambil telunjuk tangan menunjuk – nunjuk Helmi. Sementara buruh – buruh perempuan lain mencoba menenangkan Vina dan Helmi yang rubuh dan pingsan dibawa ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.

Kabar diserangnya tenda juang Hansae 3, tersebar melalui media sosial yang terbatas, namun meski media komunikasi yang selama ini menjadi andalan memanggil solidaritas sedang dibatasi, sekitar 100 orang dari berbagai serikat dan organisasi berkumpul memenuhi jalan di sepanjang pintu pertama dan pintu ke dua PT. Hansae 3. Di antara mereka, tampak wajah – wajah yang sebelumnya kerap menemani malam – malam buruh PT. Hansae 3 di tenda juang. Hingga dini hari, ketika cerita ini dituliskan gelombang solidaritas hadir dari berbagai penjuru. Rasa haru memenuhi benak Indah, Rika, Yati dan buruh Hansae 3 lainnya. Saat itu, dinginnya udara malam tak lagi terasa menusuk tulang, ia dihangatkan oleh rasa kasih solidaritas dari sesama rakyat yang tertindas. Ia memberi kehangatan, sekaligus kekuatan untuk bisa melanjutkan perjuangan esok hari.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Merebut Keadilan di Hari HAM

Rintik hujan menemani perjalanan kami ketika sore tiba. Tepat di seberang istana, warna – warni balon menghiasi taman aspirasi. Puluhan orang dari beragam kelompok sedang

Koalisi Sipil Gelar Aksi Serentak: Tuntut Pengesahan RUU Perlindungan PRT

Koalisi juga menyoroti sikap Wakil Ketua DPR RI dari Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, yang awalnya mendukung RUU PPRT namun kemudian memilih untuk bersikap netral. Hal ini, menurut Koalisi, turut menjadi penyebab stagnasi dalam proses legislasi.

“Kan aneh jika bersikap netral. Saat ini PDIP dan Partai Golkar menolak, sementara yang mendukung adalah Nasdem dan PKB. Waktu semakin menipis,” kata Oom, perwakilan dari SPRT Sapu Lidi.

Kesehatan Ibu Hamil

Tiga hari lalu, tepatnya hari Selasa, pukul 13:00, langit gelap dan hujan deras. Tampak, beberapa relawan posko sudah sibuk dengan tugasnya menjadi panitia diskusi publik

Piala Dunia Kapitalisme Sepak Bola: Peluang Kobarkan Perlawanan Buruh

Sepak bola tidak tiba-tiba menjadi olahraga paling digemari sejagad. Ini merupakan produk sejarah, sehingga ia tidak berdiri sendiri atau muncul dengan mantra. Olahraga ini sangat diminati oleh manusia di dunia, jika ditinjau dari sejarah, sejak dahulu kala. Beberapa cacatatan sejarah dari berbagai artikel menyebutkan bahwa sepak bola mulai dikenal pada 3000 tahun silam.

PT. Master Wovenindo Label Tutup Permanen, Masalah Pesangon Belum Terselesaikan

Muhammad Andre Nasrullah, juru bicara PSP SPN PT. Master Wovenindo Label, menyatakan bahwa perusahaan harus segera menjalankan putusan kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia dan membayar pesangon para pekerja yang telah menunggu hampir empat tahun. Andre meminta agar perusahaan segera berkoordinasi dengan serikat pekerja dan mengeluarkan surat kuasa jual atau menjual bersama aset perusahaan untuk menyelesaikan pesangon para pekerja.