Oleh Tim Marsinah.id
Dari luar, rumah Bu Nining tampak seperti deretan rumah petak lain di sebuah gang sempit di pinggiran Jakarta. Dindingnya kusam. Pintu kayunya mulai lapuk dimakan usia. Gang di depannya hanya cukup dilalui satu sepeda motor. Tak ada papan nama perusahaan. Tak ada truk pengangkut barang. Tak ada suara mesin yang meraung seperti di kawasan industri. Sulit membayangkan bahwa rumah sederhana itu adalah bagian dari rantai pasok industri alas kaki.
Begitu melewati ambang pintu, suasananya berubah. Karung-karung putih berisi ribuan lembar insole sandal bertumpuk di sudut ruangan. Kotak-kotak seng bekas wadah lem memenuhi sisi dinding. Sebuah mesin rol sederhana berdiri tak jauh dari tempat tidur. Di lantai, tiga perempuan duduk bersila. Tangan mereka bergerak cepat: mengoles lem, menempelkan sol, merapikan sisi sandal, lalu menyusunnya kembali menjadi tumpukan baru.
Di ruang yang sama, seorang anggota keluarga tertidur di bagian belakang rumah. Tak ada batas yang jelas antara ruang kerja dan ruang hidup. Tempat orang beristirahat hanya beberapa langkah dari bahan baku produksi. Tempat anak bermain menjadi lokasi sandal-sandal disusun sebelum dikirim kepada pengepul.
Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Rumah itu telah berubah menjadi pabrik.
Sudah lebih dari lima belas tahun Bu Nining bekerja di sana. Ribuan pasang sandal lahir dari rumahnya. Produk-produk itu kemudian masuk ke pasar, menjadi bagian dari industri yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Namun nama Bu Nining tak pernah tercatat sebagai pekerja perusahaan yang menikmati hasil kerjanya.
“Saya bekerja dari bos masih susah sampai kaya ibaratnya. Tapi saya tetap nggak kaya. Saya mah begini-gini aja. Bosnya yang kaya raya,” katanya sambil tersenyum.
Senyum itu terdengar ringan. Namun di baliknya tersimpan kisah tentang industri yang terus tumbuh, sementara mereka yang menopangnya tetap hidup di batas kecukupan.
Jam Kerja yang Dimulai Setelah Semua Orang Dilayani
Jam kerja Bu Nining sebenarnya tidak dimulai ketika ia duduk mengelem sandal. Hari-harinya dimulai jauh sebelum matahari meninggi. Ia memasak, membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan keluarga, memastikan semua anggota rumah bisa memulai hari. Baru sekitar pukul sepuluh atau sebelas siang ia bisa mulai mengerjakan pesanan sandal.

“Kita beresin rumah dulu, masak dulu buat keluarga. Baru kita ngejar target kerja,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan kenyataan yang dialami jutaan perempuan pekerja rumahan. Mereka tidak pernah hanya memiliki satu pekerjaan. Sebelum menjadi pekerja, mereka harus lebih dulu menjadi ibu, istri, juru masak, pengasuh, sekaligus pengelola rumah tangga.
Ketika pekerjaan produksi sedang menumpuk, urusan rumah sering kali harus menunggu. “Kadang-kadang mah ngejar kerjaan aja dulu. Cucian numpuk, biarin aja.”
Bukan karena ia mengabaikan pekerjaan domestik, melainkan karena tenggat produksi tidak mengenal kompromi. Sandal harus selesai. Pesanan harus dikirim. Jika terlambat, penghasilan ikut tertunda.
Di rumah Bu Nining, tidak ada bel yang menandai awal jam kerja atau akhir jam kerja. Yang ada hanyalah pekerjaan yang terus berpindah bentuk: dari dapur ke lantai produksi, dari mencuci pakaian ke mengelem sandal, lalu kembali lagi ke pekerjaan rumah. Begitulah hari-harinya berlangsung.
Upah yang Tak Pernah Benar-Benar Menjadi Miliknya
Setiap pasang sandal yang selesai dikerjakan Bu Nining dihargai sekitar Rp1.200. Namun angka itu tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Dari upah tersebut, ia masih harus membeli lem dan membayar tetangga atau kerabat ketika pesanan datang terlalu banyak untuk dikerjakan sendiri. Semakin banyak orang yang membantu, semakin tipis pula bagian yang bisa ia bawa pulang.
Dalam sehari, target idealnya sekitar seratus pasang sandal. Jika semuanya selesai, penghasilannya sekitar Rp50 ribu. Tetapi angka itu lebih sering menjadi target daripada kenyataan.
Sebelum duduk mengelem sandal, Bu Nining harus memastikan dapur sudah mengepul, pakaian keluarga sudah dicuci, dan rumah sudah dibereskan. Tubuhnya tak pernah benar-benar hanya menjadi tubuh seorang pekerja.
Hari-hari ketika ia hanya mampu menyelesaikan lima puluh pasang sandal berarti penghasilannya tinggal sekitar Rp25 ribu. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, uang sebanyak itu nyaris tak menyisakan ruang untuk bernapas.
Ketika penulis bertanya bagaimana keluarganya mengatur pengeluaran sehari-hari, Bu Nining tersenyum kecil. Ia tidak langsung menjawab. Seolah pertanyaan itu terlalu sering ia dengar.
“Kami ini bukan nggak bisa ngatur uang. Tapi uangnya yang nggak ada buat diatur.”
Kalimat itu mematahkan anggapan yang kerap diarahkan kepada keluarga berpenghasilan rendah: bahwa kemiskinan terjadi karena mereka tidak pandai mengelola keuangan. Persoalannya bukan pada cara mengatur uang, melainkan pada jumlah uang yang bahkan tidak cukup untuk diatur.
Bau Lem yang Menjadi Bagian dari Hidup
Menjelang siang, ketika lantai rumah mulai dipenuhi sandal setengah jadi, aroma lem perlahan memenuhi ruangan. Bau itu tajam. Menyengat. Sulit diabaikan.
Bagi orang yang baru datang, aroma itu mungkin membuat kepala pening hanya dalam hitungan menit. Namun bagi Bu Nining, bau itu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama bertahun-tahun.

Bagian paling berat dari pekerjaannya, kata Bu Nining, justru bukan menyusun sandal atau mengejar target produksi. Yang paling melelahkan adalah mengelem.
“Yang paling sulit ngelem di mentah. Bau lem nyebek ke kita, kadang bikin sesak napas.”
Tak ada ventilasi khusus di rumah itu. Tak ada sistem penyedot udara seperti di pabrik. Bau lem bercampur dengan aroma masakan dari dapur dan udara lembap dari gang sempit di luar rumah. Paparan bahan kimia itu mereka hirup setiap hari.
Tidak ada pelatihan keselamatan kerja. Tidak ada masker khusus yang disediakan perusahaan. Tidak ada pemeriksaan kesehatan berkala. Tidak ada santunan jika penyakit datang akibat pekerjaan yang mereka lakukan selama bertahun-tahun. Risiko itu sepenuhnya dipikul sendiri.
Bu Nining bercerita bahwa beberapa pekerja mengalami gangguan pernapasan, tangan yang sering kram karena gerakan berulang, hingga berbagai keluhan kesehatan yang mereka yakini berkaitan dengan pekerjaan.
Suaminya sendiri kini mengalami gangguan ginjal setelah bertahun-tahun bekerja dalam posisi duduk terlalu lama dan terbiasa menahan haus agar pekerjaan cepat selesai. Ketika sakit datang, perusahaan tak pernah muncul di depan pintu rumah mereka. Biaya pengobatan dibayar sendiri. Padahal setiap hari perusahaan menerima hasil kerja mereka.
Rumah yang Menanggung Biaya Produksi
Di perusahaan tempat Bu Nining bekerja dahulu, proses produksi berlangsung di dalam pabrik. Kini sebagian pekerjaan itu berpindah ke rumah-rumah pekerja. Perpindahan itu tampak sederhana. Barang diantar ke rumah. Pekerja mengerjakan. Setelah selesai, barang dikembalikan.
Namun sesungguhnya, yang ikut berpindah bukan hanya pekerjaan. Biaya produksi pun ikut dipindahkan. Rumah menjadi gudang penyimpanan bahan baku. Lantai rumah menjadi ruang produksi. Listrik rumah dipakai untuk menunjang pekerjaan. Air rumah dipakai membersihkan peralatan. Lem dibeli menggunakan uang pekerja. Ketika alat rusak, pekerja yang mengganti.
Ketika banjir datang, bahan baku ikut terendam. Ketika pekerja sakit, biaya pengobatan menjadi urusan keluarga. Perusahaan tetap memperoleh produk jadi. Risiko sepenuhnya tinggal di rumah pekerja.
Hubungan kerja yang dialami Bu Nining sebenarnya memiliki hampir seluruh ciri hubungan kerja formal. Ada target produksi. Ada tenggat waktu. Ada standar kualitas. Ada komplain ketika hasil dianggap kurang rapi. Namun ketika menyangkut hak-hak pekerja, hubungan itu tiba-tiba menghilang.
Status “pekerja borongan” membuat perusahaan seolah terbebas dari kewajiban menyediakan jaminan sosial, perlindungan kesehatan, atau keselamatan kerja.
Rumah-rumah seperti milik Bu Nining menjadi subsidi yang tak pernah dicatat dalam laporan keuangan perusahaan. Tanpa perlu membangun ruang produksi tambahan, tanpa membayar listrik, tanpa menyediakan alat pelindung, dan tanpa menanggung biaya kesehatan pekerja, perusahaan tetap dapat mempertahankan produksi. Keuntungan mengalir ke atas. Risiko berhenti di depan pintu rumah.
Industri yang Berdiri di Atas Kerja yang Tak Terlihat
Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen alas kaki terbesar di dunia. Jutaan pasang sepatu dan sandal diproduksi setiap tahun untuk memenuhi pasar domestik maupun ekspor. Namun di balik angka-angka produksi itu terdapat lapisan pekerja yang nyaris tak pernah terlihat. Mereka bekerja dari rumah. Mereka mengelem, menjahit, memasang komponen, melipat, atau menyelesaikan tahap akhir produksi.

Nama mereka tidak tercantum dalam iklan perusahaan. Mereka tidak muncul dalam foto-foto pabrik yang modern. Padahal, tanpa tangan-tangan mereka, sebagian rantai produksi tidak akan pernah bergerak.
Ironisnya, karena bekerja dari rumah, pekerjaan mereka sering dipandang sekadar perpanjangan dari pekerjaan domestik. Seolah-olah aktivitas produksi itu hanyalah pekerjaan sambilan yang dilakukan di sela-sela mengurus keluarga.
Pandangan itulah yang membuat kerja mereka mudah diabaikan. Yang dihasilkan dianggap produk industri. Tetapi yang mengerjakannya tidak dianggap pekerja.
Ketika Sesama Pekerja Menjadi Tempat Bersandar
Bagi Bu Nining, yang paling membuatnya bertahan bukanlah besarnya penghasilan. Melainkan orang-orang di sekitarnya.
Di rumah petak yang sempit itu, pekerjaan hampir tak pernah dikerjakan sendirian. Ketika pesanan datang dalam jumlah besar, tetangga ikut membantu. Ada yang mengelem, ada yang memasang sol, ada yang merapikan sandal sebelum dikirim kembali kepada pengepul. Mereka duduk berdempetan di lantai rumah. Bekerja sambil mengobrol, sesekali tertawa, lalu kembali mengejar target yang tak pernah terasa cukup.
Hubungan mereka bukan sekadar hubungan kerja. Mereka saling menjaga. Solidaritas itu terasa paling kuat ketika banjir datang.
Kawasan tempat Bu Nining tinggal hampir setiap tahun terendam air. Ketika hujan turun berhari-hari, gang-gang kecil berubah menjadi aliran sungai. Air masuk ke rumah-rumah. Tumpukan bahan baku terancam rusak. Produksi berhenti. Penghasilan ikut tenggelam bersama banjir.
Di saat-saat seperti itulah, Jaringan Pekerja Rumahan Indonesia (JPRI) hadir sebagai keluarga yang sesungguhnya. Anggota JPRI dari wilayah lain mengumpulkan donasi. Mereka mengirim makanan, kebutuhan pokok, pakaian, hingga membantu membersihkan rumah-rumah yang terendam. Tak ada yang benar-benar berkecukupan. Namun mereka memahami satu hal: kerentanan yang dialami satu pekerja hari ini bisa menjadi kenyataan bagi pekerja lain esok hari.
Solidaritas itu lahir bukan dari kelimpahan, melainkan dari pengalaman hidup yang sama. Di tengah minimnya perlindungan negara dan absennya tanggung jawab perusahaan, sesama pekerja rumahan membangun jaring pengaman mereka sendiri.
Dari “Membantu Suami” Menjadi Seorang Pekerja
Selama bertahun-tahun, Bu Nining tidak pernah menyebut dirinya pekerja. Seperti banyak perempuan lain, ia menganggap apa yang dilakukannya hanyalah membantu ekonomi keluarga. Kalimat “cuma bantu suami” begitu akrab di telinganya hingga terdengar seperti sesuatu yang wajar. Padahal, setiap hari ia menghasilkan uang dan penghasilannya ikut menentukan apakah dapur tetap mengepul, apakah anak-anak bisa bersekolah, juga apakah keluarga masih memiliki uang untuk membeli beras di akhir bulan.
Menurut Bu Nining, yang berubah bukan pekerjaannya, yang berubah adalah cara ia memandang dirinya sendiri. Perubahan itu datang setelah ia bergabung dengan Jaringan Pekerja Rumahan Indonesia sekitar lima tahun lalu.

“Semenjak saya gabung sama Bu Hayati di JPRI, saya jadi tahu artinya pekerja rumahan.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Bu Nining, itu adalah titik balik.
Di dalam organisasi, ia bertemu perempuan-perempuan lain yang mengalami persoalan serupa. Mereka berbagi cerita tentang upah murah, paparan bahan kimia, tidak adanya jaminan sosial, hingga bagaimana pekerjaan mereka selalu dianggap sekadar sambilan.
Perlahan, Bu Nining menyadari bahwa persoalan yang ia hadapi bukanlah kegagalan pribadi. Bukan karena ia kurang rajin. Bukan karena ia tidak pandai mengatur uang. Bukan pula karena ia bekerja dari rumah. Persoalannya adalah sistem yang selama ini menikmati hasil kerja mereka tanpa pernah mengakui keberadaan mereka sebagai pekerja.
Kesadaran itu mengubah cara Bu Nining berbicara. Ia tidak lagi mengatakan bahwa dirinya membantu suami. Ia mengatakan bahwa dirinya bekerja.
Perubahan bahasa itu tampak sederhana. Namun sesungguhnya, di situlah perjuangan dimulai. Sebab selama seorang perempuan dipandang hanya “membantu”, maka hak-haknya akan selalu dianggap sebagai belas kasihan, bukan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi.
Pengakuan Adalah Pintu Masuk Menuju Hak
Ketika ditanya apa yang paling ia harapkan, Bu Nining tidak berbicara tentang menjadi kaya. Ia juga tidak meminta rumah yang lebih besar atau pekerjaan yang lebih ringan. Harapannya jauh lebih mendasar.
“Saya dan kawan-kawan ingin punya BPJS Ketenagakerjaan.”
Lalu ia berhenti sejenak. Seolah memastikan setiap kata yang keluar benar-benar mewakili pengalaman hidupnya.
“Kita ingin diakui lah, kita ingin kerja layak seperti orang kerja.”
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun sesungguhnya, ia adalah kritik terhadap cara kita memandang kerja.
Selama ini, kerja sering diidentikkan dengan seragam, gedung pabrik, mesin-mesin besar, atau kartu identitas perusahaan. Padahal, sebagian proses produksi justru berlangsung di ruang-ruang yang tak pernah kita anggap sebagai tempat kerja: ruang tamu, teras rumah, dapur, bahkan kamar tidur.
Rumah-rumah pekerja rumahan telah menjadi perpanjangan tangan industri. Tetapi ketika hak-hak pekerja dibicarakan, rumah-rumah itu seolah menghilang dari peta. Pengakuan karena itu bukan sekadar soal istilah, melainkan pintu masuk menuju hak atas keselamatan kerja, jaminan sosial, perlindungan kesehatan, dan upah yang layak. Selama pekerja rumahan tidak diakui sebagai pekerja, seluruh perlindungan itu akan selalu berada di luar jangkauan mereka.
Rumah Itu Akan Kembali Menjadi Pabrik
Keesokan pagi, rumah Bu Nining akan kembali seperti biasa. Sebelum matahari meninggi, ia akan menanak nasi, menyapu lantai, mencuci piring, dan menyiapkan kebutuhan keluarganya. Setelah semua selesai, ia akan kembali duduk di lantai rumah yang sama. Karung-karung berisi bahan baku akan kembali dibuka. Kaleng-kaleng lem kembali dipakai. Bau bahan kimia kembali memenuhi ruangan. Sandal-sandal yang belum selesai akan kembali disusun menjadi tumpukan baru. Di rumah itu, hari-hari berjalan hampir tanpa jeda, yang berubah hanyalah jumlah pesanan, bukan beban kerja.
Barangkali, beberapa minggu kemudian, sandal yang dikerjakan Bu Nining akan dipakai seseorang yang tak pernah mengenalnya. Produk itu akan berpindah dari rumah petak di gang sempit menuju etalase toko atau pusat perbelanjaan. Tak banyak yang akan bertanya dari mana sandal itu berasal, siapa yang mengerjakannya, atau bagaimana proses pembuatannya.
Yang terlihat hanyalah barang jadi yang bermerk. Sedangkan yang tak terlihat adalah perempuan-perempuan yang menghirup bau lem setiap hari, membagi ruang tidur dengan tumpukan bahan baku, dan mengubah rumah mereka menjadi pabrik tanpa pernah memperoleh perlindungan yang semestinya dimiliki setiap pekerja.
Selama rumah-rumah seperti milik Bu Nining masih diperlakukan sebagai ruang yang tak terlihat dalam rantai pasok industri, eksploitasi akan terus bersembunyi di balik tembok-tembok rumah.
Dan selama perempuan masih harus menjelaskan bahwa mereka bukan sekadar “membantu suami”, melainkan bekerja, perjuangan pekerja rumahan belum benar-benar selesai.
Bu Nining tidak meminta diperlakukan istimewa. Ia hanya meminta sesuatu yang semestinya menjadi hak setiap orang yang bekerja: diakui, dilindungi, dan dihargai.










