Oleh Tenu Permana
Kekerasan cenderung bisa dipahami melalui peristiwa puncaknya. Ada hari ketika gerombolan orang bersenjata datang, diiringi masuknya alat berat. Sementara, tubuh berhadapan dengan tubuh, dan sebuah serangan ke kampung.
Di Sukajaya, penyerangan itu melibatkan PT PMC yang membawa lebih dari empat ratus orang untuk membuka akses ke wilayah yang sedang disengketakan. Peristiwa itu kemudian diberi tanggal, dicatat, difoto, diberitakan, dan dimasukkan ke dalam kronologi konflik agraria.
Akan tetapi, kronologi memiliki satu kelemahan. Ia mudah membuat kita berasumsi bahwa kekerasan berakhir ketika peristiwa usai. Lebih dari itu, ia dapat membuat kekerasan tampak bagai ledakan sesaat antara dua kelompok yang kebetulan berhadapan pada satu hari tertentu.
Padahal kekerasan dalam konflik agraria tidak lahir dari kebencian personal semata. Ia bekerja di dalam hubungan yang lebih panjang antara tanah, kepemilikan, modal, dan kekuasaan. Dalam pengertian yang digunakan David Harvey, apa yang sedang berlangsung dapat dibaca melalui konsep accumulation by dispossession: akumulasi modal yang berlangsung melalui pengambilalihan sumber daya, ruang hidup, atau hak penghidupan yang sebelumnya berada di tangan orang lain.
Dalam kerangka itu lah, mereka yang datang dengan membawa senjata dan alat berat bukan sekadar individu yang sedang berkonflik dengan warga. Mereka menjadi bagian dari suatu proses yang lebih besar, ketika penguasaan atas tanah berhadapan dengan kehidupan orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada tanah tersebut.
Karena itu, bagi orang yang mengalaminya, kekerasan tidak berhenti ketika orang-orang yang menyerang telah meninggalkan tempat kejadian. Ia berpindah dari ruang publik menuju tubuh. Ia muncul melalui tidur yang terganggu, kewaspadaan terhadap suara kendaraan. Ketakutan ketika melihat orang asing memasuki area kampung. Dan kecenderungan untuk terus memeriksa apakah sesuatu akan terjadi dan berulang.
Dengan begitu, persoalan pertama setelah penyerangan bukanlah tentang bagaimana membuat kehidupan kembali normal. Persoalannya adalah bagaimana kehidupan dapat terus berlangsung ketika rasa aman, rutinitas, dan pengertian tentang normal itu sendiri telah terganggu.
Setelah kekerasan, kehidupan tidak otomatis kembali
Di Sukajaya, pekerjaan tersebut mengambil bentuk yang sangat biasa. Orang membuat portal. Warga menyusun ronda. Jadwal memasak dibagi. Orang-orang mendatangi rumah tetangga. Kondisi warga diperiksa setiap hari. Mereka yang terluka diperhatikan. Orang yang sulit tidur ditemani. Cerita tentang kejadian penyerangan didengarkan berulang kali.
Jika semua itu dilihat sekilas, tidak banyak yang tampak politis di dalamnya. Namun justru di situlah persoalannya. Dalam masyarakat modern, pekerjaan yang memungkinkan kehidupan terus berlangsung sering dipisahkan dari apa yang disebut sebagai politik.
Politik diasosiasikan dengan policy, hukum, demonstrasi, negosiasi, organisasi, kepemilikan tanah, dan perebutan kekuasaan. Sementara mencuci, merawat tubuh, menemani orang sakit, menjaga anak, membersihkan ruang, atau mendengarkan seseorang dianggap sebagai persoalan privat.
Joan Tronto justru membalik cara pandang tersebut. Bersama Berenice Fisher, ia mendefinisikan care sebagai aktivitas yang diperlukan untuk mempertahankan (maintain), meneruskan (continue), dan memperbaiki dunia tempat kita hidup (repair our world)—termasuk tubuh, diri, orang lain, dan lingkungan.
Dalam perkembangan pemikirannya kemudian, Tronto dalam Caring Democracy (2013), menempatkan persoalan care di pusat kehidupan politik karena setiap masyarakat, disadari atau tidak, harus menentukan siapa yang merawat, siapa yang dirawat, kebutuhan apa yang dianggap penting, dan bagaimana pekerjaan itu dibagi.
Dari sini kita dapat melihat Sukajaya secara berbeda.
Portal bukan sekadar portal.
Ronda bukan sekadar ronda.
Dapur bukan sekadar dapur.
Kunjungan dari rumah ke rumah bukan sekadar keramahan.
Semua itu merupakan bagian dari pekerjaan reproduksi sosial. Pekerjaan yang memungkinkan manusia tetap makan, tidur, sembuh, berkomunikasi, membesarkan anak, dan mempertahankan keberadaannya dari satu hari ke hari berikutnya.
Sebagian dari pekerjaan itu juga adalah perlawanan yang tidak pernah tampil sebagai perlawanan. James C. Scott menyebutnya infrapolitik. Bentuk perjuangan rakyat kecil yang berlangsung di bawah radar kekuasaan, melalui tindakan sehari-hari yang tidak selalu hadir sebagai tuntutan politik terbuka.
warga gotong royong membikin pos jaga
Portal yang dijaga setiap malam bukan sekadar penanda waspada. Ia merupakan klaim diam-diam atas ruang yang tengah diperebutkan. Portal yang dijaga setiap malam bukan hanya tanda kewaspadaan. Ia menunjukkan bahwa ruang itu masih ditempati dan dijaga oleh warga. Ronda bukan hanya urusan keamanan. Ia menjadi cara warga mempertahankan kehadiran mereka di kampung yang sedang dipersengketakan.. Begitu pula jadwal memasak, kunjungan dari rumah ke rumah, dan pembagian giliran kerja. Di dalam pekerjaan-pekerjaan yang tampak biasa itu, perlawanan agraria terus berlangsung.
Di sinilah violence dan care mengambil bentuk yang berbeda. Kekerasan bekerja dengan memutus keberlangsungan hidup: mengganggu rasa aman, merusak tubuh, memisahkan orang dari rutinitasnya, dan membuat hari berikutnya terasa tidak lagi sama dengan hari sebelumnya. Kepedulian bekerja dari arah sebaliknya. Ia menyusun kembali hal-hal yang memungkinkan kehidupan berjalan, satu kebutuhan setelah kebutuhan lainnya.
Sebab itu, violence dan care juga memiliki hubungan yang berbeda dengan waktu. Kekerasan dapat berlangsung beberapa jam. Sementara pekerjaan untuk memulihkan kehidupan dari akibatnya dapat berlangsung berbulan-bulan. Kekerasan menyerang kehidupan pada suatu hari tertentu. Pemulihan bekerja untuk memproduksi kembali kehidupan pada hari-hari sesudahnya.
Perbedaan waktunya penting. Sebab akibat kekerasan tidak berhenti bekerja ketika peristiwanya selesai. Ia masuk ke dalam rutinitas, tubuh, hubungan antarorang, dan cara seseorang menempati ruang hidupnya. Apa yang tampak sebagai satu peristiwa pada satu hari dapat berubah menjadi serangkaian persoalan pada hari-hari berikutnya.
Salah satu bentuk keberlanjutan itu adalah trauma
Ada kecenderungan untuk memperlakukan trauma sebagai sesuatu yang bersemayam di dalam individu. Seseorang mengalami kejadian traumatis, kemudian individu tersebut dianggap memiliki masalah psikologis yang harus ditangani.
Cara pandang seperti ini tidak sepenuhnya salah. Pemulihan profesional memang dibutuhkan oleh sebagian penyintas kekerasan. Dukungan psikologis, jelas tidak dapat digantikan oleh nasihat tetangga, percakapan informal, atau semangat gotong royong. WHO sendiri menempatkan bantuan psikologis awal sebagai bagian dari respons terhadap situasi krisis dan merekomendasikan dukungan yang menghormati martabat, budaya, kebutuhan, serta kapasitas orang yang terdampak.
Tetapi ada persoalan ketika seluruh persoalan trauma dikembalikan kepada individu. Sebab trauma tidak terjadi di ruang kosong. Seseorang ketakutan karena sesuatu memang terjadi kepadanya. Tubuhnya tidak sedang melakukan kesalahan ketika menjadi waspada terhadap suara yang mengingatkannya pada kekerasan. Ingatan yang muncul kembali bukan sekadar gangguan personal yang dapat dipisahkan dari kondisi material tempat seseorang hidup.
Jika seseorang masih tinggal di lokasi kekerasan. Masih mendengar suara kendaraan yang sama. Masih melihat jalan yang sama. Masih mengetahui bahwa ancaman konflik belum sepenuhnya selesai, maka pemulihan psikologisnya juga mempunyai dimensi sosial.
Itulah mengapa kehadiran orang lain menjadi penting.
Mendengarkan cerita yang sama untuk ketiga, keempat, bahkan kelima kalinya bukan pekerjaan yang spektakuler. Tetapi bagi seseorang yang sedang berusaha menyusun kembali ingatannya, keberadaan pendengar dapat menjadi bentuk pengakuan bahwa pengalaman tersebut sungguh terjadi.
Kita sering meminta orang yang mengalami kekerasan untuk segera kembali normal, seolah-olah persoalannya terletak pada ketidakmampuan mereka meninggalkan kejadian yang sudah lewat. Padahal, yang disebut masa lalu itu masih bekerja di dalam kehidupan mereka. Maka pemulihan tidak semestinya diukur dari seberapa cepat seseorang mampu melupakan. Ia bergantung pada apakah lingkungan di sekitarnya mampu menyediakan waktu, dukungan, dan rasa aman yang memungkinkan seseorang perlahan mengambil kembali kendali atas hidupnya.
Dalam konteks itu, kerja perawatan mempunyai fungsi yang lebih dalam daripada sekadar membantu. Ia membangun lingkungan sosial tempat seseorang tidak harus menanggung pengalaman traumatisnya sebagai milik pribadi.
Seseorang berbelanja kebutuh dapur bersama. Orang lain berjaga. Yang lain mengantar berobat. Yang lain lagi mendengarkan.
Pekerjaan-pekerjaan ini membentuk semacam jaringan penyangga di sekitar tubuh yang mengalami kekerasan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, seseorang mungkin mengalami trauma seorang diri, tetapi ia tidak harus dipaksa memulihkannya seorang diri.
Dan pada titik ini, persoalan gender mulai mengemuka dengan sendirinya
Krisis menghasilkan kebutuhan baru. Kebutuhan baru menghasilkan pekerjaan baru. Di sinilah kontradiksi pertama muncul. Ketika sebuah komunitas berada dalam keadaan darurat, pekerjaan tidak berhenti. Ia justru bertambah.
Ada pekerjaan menjaga keamanan. Ada pekerjaan mengurus orang terluka. Ada pekerjaan menyediakan makanan. Ada pekerjaan membersihkan tempat. Ada pekerjaan mengurus anak-anak. Ada pekerjaan menerima orang yang datang. Ada pekerjaan menghubungi pihak lain. Ada pekerjaan mendengar keluhan warga. Ada pekerjaan mengingatkan orang minum obat.
pembagian jadwal ronda warga
Namun pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak otomatis terbagi secara merata. Sebab saling membantu belum tentu berarti pembagian kerja yang setara. Dapur bersama dapat menjadi milik seluruh komunitas, tetapi jika tangan yang paling sering mengaduk panci tetap tangan perempuan, kerja bersama itu masih menyimpan pembagian kerja yang lama.
Begitu pula dengan pos jaga. Warga mungkin bergiliran menjaga keamanan, sementara perempuan tetap mengurus makanan, anak, orang tua, dan pekerjaan rumah. Dalam keadaan seperti ini, pekerjaan publik dapat dikerjakan sebagai perjuangan bersama, sementara pekerjaan domestik tetap bertumpu pada tenaga perempuan.
Di sinilah perspektif feminis menjadi penting. Ia membantu kita melihat siapa yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang membuat solidaritas itu mungkin, termasuk pekerjaan yang terlalu biasa untuk disebut sebagai perjuangan. Kimberlé Crenshaw, melalui konsep intersectionality, menunjukkan bahwa pengalaman penindasan tidak dapat dibaca melalui satu kategori saja. Kelas, ras, posisi sosial, dan relasi kuasa lain dapat membentuk pengalaman seseorang secara bersamaan. Kerangka ini membantu melihat bahwa beban perawatan di Sukajaya juga tidak dialami semua orang dengan cara yang sama.
Orang yang memiliki uang lebih mungkin mempunyai pilihan untuk berobat ke tempat lain. Orang yang memiliki jaringan sosial lebih luas mungkin lebih mudah mencari bantuan. Orang yang memiliki tubuh lebih kuat dapat mengambil giliran kerja fisik. Orang yang tidak memiliki tanggung jawab pengasuhan mungkin lebih mudah mengikuti ronda malam.
Sementara itu, perempuan yang sejak sebelum konflik sudah memikul kerja domestik dapat menerima tambahan pekerjaan ketika konflik datang. Inilah yang disebut double burden. Bertambahnya pekerjaan sosial akibat konflik tanpa berkurangnya tanggung jawab domestik yang sebelumnya sudah mereka tanggung.
Maka pertanyaan tentang collective care tidak boleh berhenti pada: Apakah kita saling merawat? Pertanyaan berikutnya harus diajukan: Siapa yang paling banyak melakukan pekerjaan merawat? Dan setelah itu: Siapa yang merawat mereka ketika sudah kelelahan?
Bagi Tronto, care selalu memiliki dimensi politik karena setiap masyarakat harus menentukan siapa yang bertanggung jawab merawat, kebutuhan siapa yang dianggap penting, dan bagaimana pekerjaan tersebut didistribusikan. Ketika pembagian itu mengikuti ketimpangan gender, ras, kelas, maupun kekuatan pasar, kerja perawatan tidak lagi sekadar menjadi persoalan hubungan antarmanusia, tetapi menjadi bagian dari reproduksi ketidakadilan itu sendiri.
Maka sebuah komunitas yang ingin benar-benar membangun collective care harus mampu membagi bukan hanya makanan dan uang, tetapi juga waktu, tenaga, kelelahan, dan pekerjaan domestik. Kalau tidak, solidaritas hanya akan mengubah nama pekerjaan lama tanpa mengubah siapa yang mengerjakannya.
Kepedulian sebagai infrastruktur perlawanan
Persoalannya, pembagian kerja semacam ini sering sulit terlihat justru karena sebagian besar berlangsung dalam keseharian. Kerja perawatan tidak menghasilkan tontonan. Tidak ada foto dramatis dari seseorang yang mengisi termos air panas, menggantikan giliran ronda, atau datang setiap sore untuk memastikan tetangganya sudah minum obat. Ia berlangsung diam-diam, berulang, dan sering dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan. Padahal tanpa pekerjaan-pekerjaan itu, kehidupan kolektif akan segera mengalami kerusakan.
Hal ini membuat, infrastruktur tidak hanya berupa jalan, jembatan, listrik, air, atau bangunan. Sebuah komunitas juga memiliki infrastruktur sosial berupa hubungan, kebiasaan, pembagian kerja, pengetahuan, dan tenaga yang membuat kehidupan tetap berjalan. Dapur, portal, ronda, jadwal kunjungan, hingga pengetahuan tentang siapa yang sakit, ketakutan, tinggal sendirian, atau membutuhkan bantuan, semuanya memiliki nilai material.
Dalam pengertian ini, collective care merupakan infrastruktur politik. Ia mengurangi ketergantungan seseorang pada dirinya sendiri. Orang yang sakit dapat dibantu. Yang ketakutan tahu harus mendatangi siapa. Keluarga yang kekurangan makanan memiliki jaringan untuk meminta bantuan, dan orang yang kelelahan berjaga dapat digantikan.
Jaringan semacam ini tidak menghapus konflik, menggantikan perjuangan agraria, atau mengubah kekerasan menjadi sesuatu yang dapat diselesaikan dengan kebaikan hati. Justru sebaliknya. Ia menciptakan kondisi material agar orang-orang yang berada dalam konflik dapat terus hidup dan terus memiliki kapasitas untuk bertindak.
Di sinilah care menjadi bagian dari politik perlawanan.
Sebuah gerakan yang hanya mampu mengorganisasi kemarahan tetapi tidak mampu mengorganisasi makan, istirahat, kesehatan, keamanan, pengasuhan, dan pemulihan pada akhirnya akan menghabiskan tubuh orang-orang yang menjalankannya.
Sebab perlawanan membutuhkan energi. Energi membutuhkan tubuh. Tubuh membutuhkan perawatan. Dengan begitu merawat bukan sesuatu yang datang setelah politik selesai. Merawat adalah salah satu syarat material agar politik dapat terus berlangsung.
Persoalan ini juga membawa kita pada cara bell hooks memahami cinta dan perawatan sebagai praktik. Dalam All About Love (2001), hooks menolak pengertian cinta sebagai perasaan yang cukup dirasakan. Cinta, dalam kerangka hooks, mempunyai dimensi tindakan. Ia berkaitan dengan perhatian, tanggung jawab, pengetahuan, penghormatan, dan komitmen terhadap pertumbuhan orang lain.
Karena itu, cinta bagi hooks dapat dilihat dari praktiknya. Dari cara seseorang memperlakukan dan merawat kehidupan orang lain. Pengertian ini menjadi penting ketika cinta dilepaskan dari wilayah romantik.
Sebuah komunitas dapat mencintai anggotanya dengan memastikan tidak ada orang yang harus menjaga portal sendirian. Dengan membagi pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan agar tidak otomatis jatuh kepada perempuan. Dengan mengunjungi orang yang sakit dan memastikan kebutuhan hariannya tetap terpenuhi. Dengan menghubungkan penyintas dengan bantuan profesional. Dengan mendengarkan seseorang tanpa memaksanya segera sembuh. Dengan memberi kesempatan kepada orang yang selama ini merawat untuk berhenti, beristirahat, dan dirawat.
Cinta, dalam pengertian ini, juga menyangkut bagaimana sebuah komunitas mengatur pekerjaan perawatan. Ia membutuhkan jadwal yang jelas, pembagian kerja yang adil, pengetahuan tentang kebutuhan masing-masing, dan sumber daya yang memungkinkan semua itu berjalan. Collective care, karena itu, adalah usaha sadar untuk mengatur kondisi yang memungkinkan kehidupan dipertahankan—bukan sekadar romantisme soal masyarakat yang saling membantu
Penyerangan mungkin memiliki satu hari tertentu. Pemulihan tidak. Ia menyebar ke dalam rutinitas yang harus dijalankan kembali: makanan, penjagaan, obat, percakapan, dan pekerjaan yang harus dibagi ketika tubuh mulai kelelahan. Di dalam rutinitas harian yang tampak biasa itulah kehidupan yang sempat diguncang kekerasan pelan-pelan dijalankan kembali, meski tidak pernah benar-benar kembali seperti sebelum kekerasan terjadi.
Di sana collective care menemukan bentuknya. Orang yang memasak punya waktu untuk berhenti. Yang berjaga bisa digantikan. Yang mendengarkan tidak selamanya menjadi tempat orang lain menumpahkan beban. Mereka yang selama ini merawat juga mendapat giliran untuk dirawat.
Pada titik itu, solidaritas menjadi bentuk organisasi kehidupan. Keberhasilan sebuah komunitas setelah kekerasan dapat dilihat dari kemampuannya membagi pekerjaan perawatan, sehingga beban untuk mempertahankan kehidupan tidak terus jatuh kepada orang yang sama.
Tenu Permana sedang belajar membaca di Ora et Litera.











