Kecelakaan KRL Cikarang, Bukti Pemerintah Abai Keselamatan Perempuan
Belum lama ini kita menyaksikan bagaimana moda transportasi belum benar-benar mampu memberikan rasa aman dan keselamatan bagi perempuan di Jabodetabek. Pada akhirnya pilihan moda transportasi perempuan untuk merasa aman dalam bepergian masih sangat jauh dari kata layak. Regulasi terkait hak-hak perempuan atas merasa aman ini sayangnya baru diperhatikan secara kuratif, alias baru ada kasus baru ada tindakan nyata. Kemudian pertanyaannya harus berapa nyawa meregang untuk dikorbankan pemerintah untuk menjamin keselamatan perempuan?
Kemudian entah bagaimana mulanya diskursus terkait hak-hak perempuan untuk terjamin keamanannya ini dipersempit hanya soal peletakan gerbong khusus perempuan? Realitas bahwa kecelakaan KRL yang memakan korban jiwa di bagian ujung gerbong ini sebenarnya adalah buah dari ketidakseriusan pemerintah menjamin keselamatan perempuan.
Menyoal Hak Transportasi Perempuan di Film TILIK
Soal hak-hak perempuan untuk mendapat akses transportasi mengingatkan kita pada diskursus di ruang digital atas penerimaan warganet pada opini akademis feminis Julia Suryakusuma. Dalam diskursus itu, Julia memperhatikan bagaimana mob psychology atau budaya ikut-ikutan menjadi alat yang ampuh di tengah-tengah masyarakat kita untuk mengecilkan suara perempuan.
Kita bisa melihat bagaimana cemooh dan normalisasi budaya ikut-ikutan ini justru mengaburkan upaya mendorong pemerintah untuk menyediakan pilihan moda transportasi yang layak bagi perempuan. Padahal data menunjukkan transportasi umum menjadi salah satu ruang publik luring/offline di urutan ketiga dari 693 responden yang dihimpun langsung oleh Koalisi Ruang Publik Aman di tahun 2022.
Namun sekian tahun berlalu dan menyaksikan bagaimana kebiasaan reaksioner ini sangat berdampak langsung pada pengarusutamaan hak-hak perempuan khususnya pada pilihan moda transportasi sungguhlah layak untuk menuangkan kegelisahan tersebut melalui tulisan ini.
Pengaburan Kritik Feminis Terhadap Film TILIK
Film Tilik mengisahkan paguyuban ibu-ibu di sebuah desa di Daerah Istimewa Yogyakarta yang hendak tilik atau membesuk ibu Lurah yang sedang dirawat di Rumah Sakit yang berada di pusat Kota Yogyakarta.
Sebenarnya kalau kita mengikuti filmnya dengan baik, moda transportasi pilihan pertama yang dipilih ibu-ibu ini adalah men-charter mini bus untuk berangkat dari desa ke RS di pusat kota. Namun karena tergesa-gesa dan mendadak ibu-ibu akhirnya terpaksa harus menyewa truk bak terbuka.
Singkatnya diskursus film Tilik menjadi ramai karena Julia mempertanyakan dalam opininya mengapa ibu-ibu yang terpaksa memilih truk bak hewan ternak dan diobjektifikasi?
“And why are the women traveling in a truck? Symbolically, does this mean that women are seen as cattle or objects that can be trucked around?”
Bentuk protes yang kemudian dikaburkan konteksnya seolah perempuan kota tidak boleh menyuarakan hak-hak perempuan di desa untuk mendapatkan pilihan moda transportasi layak bagi perempuan. Pada akhirnya, hal ini mencerminkan bagaimana masyarakat kita belum mampu menerima opini perempuan atas realitas yang masih menindas perempuan.
Padahal kita telah menyaksikan langsung bagaimana negara telah abai terhadap hak-hak perempuan untuk merasa aman saat bepergian. Sayangnya, kita juga melihat bagaimana budaya membeo atau ikut-ikutan dan cancel culture alias budaya batal membuat banyak warganet yang reaksioner terasa menormalisasi ketidakbecusan pemerintah untuk menghadirkan transportasi yang layak bagi perempuan.
Meskipun masih belum sempurna dan masih mempertontonkan kekerasan simbolik, segenap kru dan aktif film Tilik tetap layak diapresiasi karena berhasil mengemas realitas perempuan yang tidak punya banyak pilihan dalam akses transportasi di desa hingga menjadi film yang bahkan bisa diakses gratis di kanal YouTube. Hal ini menjadi cerminan bagaimana masih sangat minimnya kesadaran masyarakat serta rentannya perempuan ketika bepergian jauh, khususnya pilihan untuk menuju ke kota besar seperti yang ditunjukkan dalam film Tilik.
Dalam tulisan ini, penulis tidak sedang menyalahkan siapapun namun mengajak pembaca untuk turut mengambil peran dalam mengarusutamakan hak-hak perempuan terkait moda transportasi. Hal ini karena fasilitas transportasi umum masih sangat jauh dari kata layak bagi perempuan. Kita perlu untuk berfokus pada pemenuhan hak-hak perempuan supaya merasa aman, nyaman dan terjamin keselamatannya untuk bepergian dengan terus menggaungkan ke pemerintah untuk mengadakan pilihan moda transportasi yang merata khususnya bagi perempuan-perempuan di daerah.
Moda transportasi yang masih minim bagi perempuan seharusnya disoroti dan diperjuangkan terlepas dari pemahaman kalau ibu atau saudara perempuan kita mengalami hal yang sama dialami seorang ibu dalam tragedi kecelakaan di Bekasi Timur 5 Mei lalu. Terlepas dari paradoks ruang aman, semestinya kita juga perlu mempertanyakan bagaimana mengupayakan ruang aman di seluruh gerbong dan melampaui berbagai ruang di moda transportasi yang digunakan perempuan.
Selain itu, alangkah baiknya kita berhenti menormalisasi atau bahkan mengglorifikasi ruang-ruang kehidupan kita yang jauh dari kata layak bagi perempuan. Semestinya film Tilik bisa menjadi titik mula kita untuk bersama-sama berefleksi atas abainya negara untuk menghadirkan moda transportasi layak bagi ibu-ibu di desa maupun di perkotaan.
Bentuk Misoginis atas Opini Perempuan Hingga GosipBagi kita yang sudah menonton film Tilik ada adegan dimana Bu Tejo terus menunjukkan sikap khas emak-emak yang nyinyir dengan gosip ke ibu-ibu paguyuban. Antagonisme dalam karakter Bu Tejo seperti dalam opini Julia soal idolisasi karakter Bu Tejo hendak dibawa kemana? Apakah dengan ramainya pembicaraan akan karakter Bu Tejo ini hanya melanggengkan stereotipe perempuan di masyarakat?
Seperti karakter Bu Tejo yang sangat khas dengan gaya blak-blakannya, karena punya latar belakang yang bisa dikatakan cukup baik dari segi ekonomi dan punya pengaruh di masyarakat. Bagi kita yang punya pengalaman di desa mungkin sudah tidak asing dengan kebiasaan bergunjing dan betapa pedasnya mulut ketika bicara dalam menggunjing realitas yang ada di lingkungannya. Namun, kita bisa melihat bagaimana sebenarnya gosip adalah ruang aman bagi perempuan untuk jujur terhadap realitas kehidupan yang sangat patriarkis dan tidak aman. Bahkan lingkungan yang tak aman itu selalu menuntut perempuan supaya berperan keibuan, dan harus bekerja di dua dunia yaitu domestik dan industri.
Gosip kalau ditelaah lebih jauh sebenarnya bukan hanya sebuah sarana membicarakan keburukan orang lain namun melampaui itu. Seperti yang kita tahu sebenarnya muncul pertanyaan mengapa ketika laki-laki berkumpul dan membahas sesuatu tentu dipikiran kita tidak serta merta menganggap kumpulan laki-laki ini dengan istilah menggosip. Perbedaan penamaan maupun pemaknaan ini muncul karena masih kuatnya bias gender di masyarakat kita yang masih patriarkis.
Begitu pula bagaimana publik khususnya warganet membaca opini Julia Suryakusuma. Memang ada nada yang langsung membuat kita langsung merasa tulisan opininya terlalu tinggi, setinggi menara gading yang jauh dari kata membumi. Namun, kita bisa melihat hal ini bisa saja disebabkan oleh latar belakangnya sebagai orang Indonesia yang pernah tinggal dan bersekolah di luar negeri. Akan tetapi, opini Julia Suryakusuma sebenarnya mengajak pembaca untuk mempertanyakan ulang dan berefleksi melalui viralnya film Tilik mengenai siapa masyarakat Indonesia dan apa yang kita maknai dari potret realitas itu sendiri?
Bahkan di paragraf pembuka artikel opininya, Julia dengan jernih mengajak kita melihat karakter Bu Tejo apakah berhenti begitu saja dengan penilaian hitam-putih, antagonis-protagonis.
“After all, antagonistic characters are what make the protagonist look good right?”
Seperti kita tahu rasanya penonton masih saja terjebak dengan logika biner saat melihat sebuah karakter dalam film. Hal ini juga mendasari penerimaan masyarakat atas analisis feminis, bukan hanya dangkal dan cenderung mencemooh namun masih erat dengan ujaran yang misoginis.
Film saat ini bisa menjadi media perantara dalam menyampaikan pengarusutamaan hak-hak perempuan. Kita berkabung dan mengutuk keras lalai dan abainya Pemerintah atas kebutuhan Perempuan untuk merasa aman pada tragedi KRL di Bekasi Timur. Semoga dengan refleksi ini kita tidak lagi saling tuduh menuduh, namun bersama-sama bisa turut memperjuangkan hak-hak perempuan khususnya untuk merasa aman baik di ruang publik maupun ruang privat.
Referensi:
Survei Pelecehan Seksual di Ruang Publik selama Pandemi COVID-19 di Indonesia (2022), Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA), https://ruangaman.com/survei2022/
‘Tilik’, sexist stereotypes and our collective insanity, https://www.thejakartapost.com/academia/2020/09/16/tilik-sexist-stereotypes-and-our-collective-insanity.html










