Mengenal Pemikiran Clara Zetkin, Pencetus Hari Perempuan Internasional

Clara Zetkin adalah pejuang perempuan asal Jerman yang lahir pada tahun 1857. Ia dikenal sebagai tokoh perempuan sosialis yang sangat berpengaruh dalam sejarah gerakan buruh dan gerakan perempuan. Clara aktif sebagai kader politik di Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) serta berperan sebagai editor surat kabar partai yang secara khusus mengangkat isu-isu perempuan dan buruh.

Dalam rangka menyongsong Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) yang diperingati setiap 8 Maret, Marsinah.ID mengajak publik untuk mengenal pemikiran Clara Zetkin, tokoh penting di balik lahirnya Hari Perempuan Internasional (20/02/26).

Clara Zetkin adalah pejuang perempuan asal Jerman yang lahir pada tahun 1857. Ia dikenal sebagai tokoh perempuan sosialis yang sangat berpengaruh dalam sejarah gerakan buruh dan gerakan perempuan. Clara aktif sebagai kader politik di Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) serta berperan sebagai editor surat kabar partai yang secara khusus mengangkat isu-isu perempuan dan buruh.

Salah satu kerja penting Clara adalah mengorganisir buruh perempuan di berbagai serikat buruh. Pada tahun 1895, ia menjadi Sekretaris Internasional perempuan sosialis dan kemudian menjadi anggota eksekutif di partai Sosial Demokrat Jerman. Pada masa itu, perempuan di Jerman bahkan masih dilarang secara hukum untuk menjadi anggota serikat buruh. Kondisi inilah yang mendorong Clara secara aktif mengorganisir Konferensi Perempuan Sosialis pada Maret 1915.

Clara Zetkin bersama Alexandra Kollontai juga memperjuangkan hak pilih perempuan yang inklusif. Saat itu, gerakan perempuan tidak berasal dari latar belakang sosial yang sama. Sebagian aktivis perempuan dari kelas borjuis tidak mempermasalahkan berbagai syarat dalam hak pilih, sementara Clara menekankan bahwa perempuan kelas pekerja mengalami penindasan berlapis: sebagai perempuan dan sebagai buruh. Karena itu, perjuangan perempuan harus berpihak pada kepentingan kelas pekerja.

Ketika Perang Dunia I pecah, Clara bergabung dengan Liga Spartakus dan turut mendirikan Partai Komunis Jerman (KPD). Ia menentang perang dan menganggapnya sebagai kepentingan kaum borjuis yang mengorbankan kelas pekerja.

Sebelumnya, Clara sempat tinggal di Paris dan mempelajari jurnalisme serta penerjemahan. Fase kehidupannya di Paris menjadi penting dalam pembentukan jaringan organisasi sosialis internasional. Nama “Zetkin” sendiri berasal dari kekasihnya yang juga seorang aktivis Marxis yang berdedikasi.Dalam sejarah gerakan perempuan, peran Clara sangat penting dalam lahirnya Hari Perempuan Internasional (IWD). Ia aktif mengonsolidasikan perempuan sosialis lintas negara melalui jaringan aliansi gerakan kiri, yang tidak terpisah dari aksi-aksi May Day dan perjuangan kelas pekerja secara umum, seperti tuntutan 8 jam kerja serta kritik terhadap buruh anak, termasuk anak perempuan.

Sebagai editor surat kabar perempuan sosialis, Clara menggunakan media sebagai alat propaganda politik untuk memberikan pemahaman kepada kaum sosialis tentang kondisi nyata yang dialami buruh perempuan. Ia menegaskan bahwa perjuangan perempuan kelas pekerja harus bergandengan tangan dengan kaum buruh laki-laki, karena perjuangan perempuan kelas pekerja berbeda dengan perjuangan perempuan kelas borjuis yang memiliki kondisi ekonomi dan sosial yang jauh lebih mapan.

Dalam konteks politik gerakan sosialis Eropa saat itu, isu hak pilih perempuan sering dianggap sebagai isu sekunder dibanding perjuangan ekonomi laki-laki kelas pekerja. Bahkan, sebagian gerakan kiri memandang tuntutan hak pilih perempuan sebagai agenda kaum konservatif. Namun sejarah menunjukkan bahwa Hari Perempuan Internasional justru lahir dari kerja keras perempuan-perempuan sosialis dan gerakan kiri.

Proses menuju IWD tidak terjadi secara instan. Pada tahun 1908, Partai Sosialis Amerika Serikat membentuk Komite Nasional Perempuan untuk mengkampanyekan hak pilih dan mengorganisir demonstrasi besar-besaran. Pada tahun 1909, Amerika memperingati Hari Perempuan Nasional. Di Eropa, peringatan Hari Perempuan mulai dilakukan pada tahun 1911 oleh perempuan dari berbagai negara. Perjuangan ini terus berkembang hingga akhirnya IWD menjadi milik bersama perempuan di seluruh dunia.

Sejarah ini mengingatkan kita bahwa Hari Perempuan Internasional bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan lahir dari perjuangan politik perempuan kelas pekerja yang terorganisir, melawan perang, kapitalisme, dan penindasan berbasis kelas serta gender.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Devi Dja, Penari Jawa yang Mendunia

Perempuan Pelita 19 Juni 2014 Salam setara sahabat marsinah, apa kabarnya malam ini? Semoga sudah bisa bersantai setelah pulang kerja, dan berberes rumah. Sambil bersantai

#KawalSampaiLegal:  Aksi Desak Pengesahan RUU PPRT, dan  Bertemu Sufmi Dasco di DPR

Lita Aggraini dari Jala PRT menjelaskan bahwa dalam FGD tersebut, koalisi akan menyampaikan pernyataan sikap yang mendesak proses legislasi dilanjutkan hingga pengesahan RUU. Menurutnya, Surat Presiden (Surpres) dan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) sudah turun sejak Mei 2023, namun sidang paripurna untuk mengesahkan RUU tersebut masih belum juga dilakukan.

“Kami tidak ingin DPR menjilat ludahnya sendiri, mengingat persetujuan untuk melanjutkan RUU PPRT pada Mei 2023 lalu diputuskan oleh semua fraksi dan dipimpin langsung oleh Ketua DPR,” tegas Lita.

Darah Juang Khotimah di Muka Peradilan

“Sudah cukup, bapak Majelis Hakim” Teriak seorang perempuan paruh baya di sampingku. Namanya, Lita Anggraeni, seorang aktivis perempuan yang puluhan tahun memperjuangkan nasib PRT (Pekerja Rumah Tangga)

Hidup, Tak Cukup Bertahan (1)

buruh masuk kerja di kbn cakung/putera/dok.dev.marsinah.id Oleh Muh Sanatiyusuf Aku tak tahu harus cerita mulai dari mana. Pengalaman hidupku penuh lika-liku. Sejak tahun 2001 aku