Mahasiswa Universitas Patria Artha, Kalimantan Utara Dikeluarkan tanpa Alasan Jelas

Dalam surat tersebut, sembilan mahasiswa dinyatakan tidak berhak lagi menerima beasiswa dan tidak dapat melanjutkan perkuliahan di kampus tersebut. Beberapa ketentuan juga menyebutkan bahwa dokumen hasil studi hanya akan diberikan satu kali setelah mereka menyelesaikan kewajiban administrasi.

Oleh Nisa

Makassar, 23 Oktober 2024— Sebanyak sembilan mahasiswa asal Kalimantan Utara di Universitas Patria Artha, Gowa/Makassar, menghadapi keputusan pemberhentian oleh rektor universitas tanpa alasan yang jelas. Beasiswa yang diberikan kepada para mahasiswa ini oleh pemerintah Kalimantan Utara terancam dicabut setelah dikeluarkan oleh pihak universitas. Keputusan ini tertuang dalam surat edaran nomor: KEP.2170/UPA/099/IX/2024 yang dikeluarkan pada 23 September 2024.

Dalam surat tersebut, sembilan mahasiswa dinyatakan tidak berhak lagi menerima beasiswa dan tidak dapat melanjutkan perkuliahan di kampus tersebut. Beberapa ketentuan juga menyebutkan bahwa dokumen hasil studi hanya akan diberikan satu kali setelah mereka menyelesaikan kewajiban administrasi.

Tuntutan Mahasiswa

Pemberhentian ini memicu protes dari para mahasiswa yang terlibat dalam gerakan “Mahasiswa Tolak Penindasan” (MATOPE). Mereka menggelar aksi demonstrasi di depan kampus pada 14 Oktober 2024 untuk menuntut enam isu utama:

1. Menolak SK pemberhentian yang diduga cacat prosedur.

2. Menghentikan komersialisasi pendidikan di Universitas Patria Artha.

3. Menghentikan upaya pembungkaman ruang demokrasi.

4. Menuntut transparansi anggaran beasiswa Kalimantan Utara.

5. Meminta keterbukaan informasi publik di kampus.

6. Menuntut pemberian kartu tanda mahasiswa kepada seluruh mahasiswa.

Sembilan mahasiswa yang terlibat dalam kasus ini terdiri dari Andi Bin Masdar, Muhammad Fhadil, Apriliani, Muh. Barly Yusup, Kahar Rudinsah, Muhammad Aizam Saifuddin, Muh. Al Hafiz Bin Abdul Basir, Muhammad Andika Saputra, dan Mikot, yang sebagian besar berasal dari jurusan Teknik.

Reaksi Mahasiswa

Keputusan ini dianggap merugikan mahasiswa yang sudah menerima beasiswa sejak tahun 2022 dan menjadi sorotan terkait dugaan komersialisasi pendidikan serta kurangnya transparansi di Universitas Patria Artha. Para mahasiswa mendesak pihak kampus untuk membuka ruang dialog dan mencari solusi bersama agar hak-hak mereka sebagai penerima beasiswa dapat dipulihkan.

Aksi ini menyoroti permasalahan mendasar dalam sistem pendidikan dan pengelolaan beasiswa di universitas tersebut. Sampai saat ini, pihak universitas belum memberikan tanggapan resmi terhadap tuntutan yang diajukan oleh mahasiswa.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Lubna Hussein dan kemerdekaan

Perempuan Pelita Edisi 6 Maret 2014 Bicara soal diskriminasi, perempuan sering banget mengalaminya. Terutama dalam hal tubuh, dari soal pakaian yang dikenakan, gaya bicara hingga hal

Belajar Bersama Koperasi Sejahtera

Hari itu, Sabtu, 14 April 2019 dari pengurus Koperasi Sejahtera FBLP mengagendakan pendidikan dasar lanjutan. Materi pertama Koperasi Kredit, Prinsip dan pilar koperasi kredit dan

Ajakan Solidaritas: Bergerak dari Rumah

Banyak hal yang bisa kamu lakukan walaupun #dirumahsaja? Tahukah kamu, akibat wabah ini, banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan karena krisis terjadi di mana-mana.

Gelombang Perlawanan Perempuan Iran, Tentang Mereka yang Menolak Redam

Kematian Amini memicu gelombang aksi protes di berbagai kota. Di sepanjang aksi – aksi protes,  pengunjuk rasa meneriakkan slogan “Perempuan, Hidup dan Kebebasan” (Woman, Life, Freedom). Slogan ini mengejewantahkan amarah pengunjuk rasa kepada rejim yang sibuk merepresi perempuan dan abai mengeluarkan kebijakan yang lebih fundamental seperti perbaikan kesejahteraan rakyat, padahal satu dari tiga warga Iran hidup di bawah garis kemiskinan. Lebih jauh lagi, slogan tersebut berasal dari gerakan pembebasan perempuan Kurdish di Turki dan Syria yang mengalami penindasan berbasis etnik selama puluhan tahun.