Begini, Aksi Buruh di Jaman Orde Baru

Oleh Reni 

Pengalaman saya pertama ikut aksi 1 may day ketika masih zaman Orde Baru, tahun tepatnya, saya lupa.Ketika itu, saya bekerja di PT. Katexindo, ada teman mengajak namanya Cici dan Yanti. “Mau tidak ikut may day tanggal 1 Mei?,” kata mereka.

Saya hari itu spontan menjawab. “Iya saya ikut. Walaupun hari itu tidak libur.” Walaupun tidak libur saya tetap mau ikut. Saya diminta cari teman lain untuk mau ikut. Ia menjelaskan kalau kita rutenya mulai dari HI sampai di istana. “Di sana, kita menununtut hak-hak buruh. Yang akan memimpin kita keistana pak Muchtar Pakpahan,” jelas teman saya lagi.

Antusias Mesti Beresiko
Ternyata saya bisa dapat 20 orang dari line-line lain.  Kujelaskanlah pada teman-teman saya yang 20 orang dengan resiko masing-masing kalau tidak masuk.

Ternyata, teman saya setuju dengan resikonya. Ketika itu, Orde Baru melarang aksi 1 Mei karena dicap identik dengan PKI. Resikonya bisa di-PHK hingga masuk ke tahanan.

Saya bilang kita siap untuk berangkat di 1 Mei dan titik kumpul di jalan pramuka (yang kemudian rumah itu menjadi sebuah sekretariat serikat buruh). Kami dari PT. Katexindo kaget juga karena seluruh yang berkumpul ada 50 orang beserta pasukan Muchtar Pakpahan. Jam 8 pagi di 1 Mei, kami berangkat dan betapa senangnya hati saya pada saat itu dengan membawa teman walaupun 20 orang. Sangat bangga karna 20 orang itu punya semangat membara tampa beban sedikitpun.

Menghadapi Represi Orde Baru dan Manajemen
Waktu itu, saya ingat, ada 3 tuntutan yang kami usung. (1) naikkan upah; (2) turunkan harga BBM; (3) Turunkan Suharto.

Ketika aksi berlangsung, aparat mulai melancarkan represinya. Dengan semagat teman-teman, kami waktu itu sampai di siram air, pelemparan batu, bahkan teman ada yang dipukul sama aparat.

Kami tidak mundur walaupun saya kena lemparan batu di kepala. Saya bahkan tidak menyadari itu. Saya baru tahu setelah teman mengatakan kalau kepala saya berdarah. Langsung saya ditarik dibawa ke Muchtar Pakpahan dan langsung kepala ditutup kain ikat kepala. Saya diminta mundur dan disuruh kembali ke mobil untuk bubar dan pulang. Kami, 20 orang dari PT. Katexind0, sudah pulang duluan. Tidak tahu betul apa yang terjadi dengan teman – teman lain.

Besok harinya, saya dan teman yang 20 orang dipanggil termasuk saya. Namun, karena kepala saya diperban, saya selamat dari omelan bos. Sementara, 10 teman lain pakai surat dokter sehingga mereka lolos dan langsung bekerja.

Sepuluh peserta aksi May Day lainnya lagi dihukum di kantor manajemen, Bu Ike Parera, selama 1 jam. Setelah itu, baru mereka diperbolehkan bekerja.

Saya dan teman-teman tidak menyerah dengan represi itu. Beberapa tahun berikutnya, kita siap lagi dengan membawa masa lebih banyak

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Foto oleh Jala PRT

DPR RI Tak Mau Akui PRT Sebagai Pekerja

RUU PPRT sudah diperjuangkan selama 20 tahun dan DPR masih tidak mau mengakui PRT sebagai pekerja dan mengesahkannya RUU PPRT menjadi UU, padahal sebagai pekerja, para PRT mengalami pelanggaran atas hak-haknya baik sebagai manusia, pekerja dan warga negara.

Pimpinan DPR Menolak Memberikan Perlindungan Bagi PRT?

Ajeng, seorang PRT di Jakarta, mengungkapkan rasa frustrasinya, “Sudah terlalu lama kami menunggu, 20 tahun.” Ia dan para PRT lainnya merasa janji-janji pimpinan DPR hanya omong kosong tanpa aksi nyata. Aksi ini dilakukan dengan membentangkan spanduk tuntutan serta aksi teatrikal yang menggambarkan kehidupan sehari-hari para PRT.

PERINGATAN HARI HAM

10 Desember, Hari Hak Asasi Manusia (HAM) se-Dunia. Kenapa Hari HAM se-Dunia diperingati setiap tanggal 10 Desember ? penetapan tanggal 10 Desember sebagai Hari HAM

Tuyul dan Target

Tuyul dalam dunia kurir jangan dibayangkan adalah makhluk gaib berupa anak-anak gundul yang gemar mencuri duit seperti dalam film-film horor Indonesia. Ia adalah pembantu kurir yang bekerja secara tidak resmi. Seorang kurir biasanya memiliki satu atau dua tuyul yang membantu mengantarkan paket.

Saya Jawab: “Ya, Saya Pernah Berserikat”

gambar diambil dari http://somo.nl/news-en/indian-garment-workers-face-harsh-working-conditions/image Saya biasa bekerja berpindah-pindah tempat, dari satu perusahaan ke perusahaan lain, tapi masih di KBN Cakung. Bulan lalu, sayapun melamar di sebuah