Nenek Renta yang Ingin Mengadu pada Bapak Presiden

nenek Warsiah

Ada yang berbeda dengan aksi unjuk rasa pada Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2017. Ketika sekitar seribu buruh melakukan unjuk ras di depan DPR, seorang ibu tua renta bernama Warsiah menghampiri kami, Kelompok Kerja Buruh Perempuan. Ia pertama berbincang dengan Atin, yang tengah beristirahat setelah mengambil video di tengah terik.

Atin lalu menghampiri kami. Ia mengajak kami bertemu dan mendengarkan cerita nenek Warsiah. Nenek tengah duduk berteduh di bawah jembatan ketika itu. Ia berasal dari desa Kebanganom, Kebondalem, Batang, Jawa Tengah. Nenek renta itu bercerita ia ingin bertemu Presiden Joko Widodo untuk mengadukan nasib.”Ke Veteran III,” ceritanya merujuk pada Gedung Sekretariat Negara. Ia sudah berkali-kali mengadu ke sana.
20 Tahun Berjuang, Dianiaya Polisi dan Lurah

Nenek yang hidup sendiri itu sudah lebih 20 tahun memperjuangkan persoalan tanahnya. “Tanahnya 1300 meter persegi. Diambil lurah dan tinggal 200 meter persegih,” cerita Ali Hasan. Ali Hasan adalah tetangga bu Warsiah yang menemani nenek itu ke ibu kota, mencari keadilan. Seperti Warsiah, Hasan mengalami penyerobotan lahan. Tanahnya yang subur ditukar dengan tanah tandus.

Ibu Warsiah mengatakan aparat desa memalsukan tanda tangannya demi mendapatkan Akta Jual Beli Baru. Lantas, pejabat desa membuat girik palsu atas namanya pribadi. “Letter C masih ada, milik saya,” serunya.
Berbagai upaya sudah ia tempuh selama lebih 20 tahun. Ia menunjukan satu per satu surat dan berkasnya. Nenek Warsiah sudah mengadu ke DPR RI, kepresidenan melalui Sekretariat Negara, dan Kementerian Hukum dan HAM.

Nenek Warsiah juga pernah meminta bantuan sebuah Lembaga Bantuan Hukum lokal. “Saya diminta bayar 40 juta. Kalau berhasil, tanahnya dibagi dua. Duit dari mana?” keluhnya dengan suara renta.
Satu gepok berkas di bawa di tasnya, berisi berbagai pengaduan. Semuanya berakhir dengan surat yang menyatakan pengaduannya diterima dan diteruskan, tidak ada penyelesaian.

Yang paling menyakitkan baginya adalah institusi kepolisian. Ia diadukan oleh sang lurah dengan pasal perbuatan melawan hukum. “Yang saya teraniaya, tangan diiket, kaki diiket, dibawa ke mobil roda empat. Diturunin di lantai kepolisian kapolsek,” kenangnya. Namun, ia akhirnya bebas karena pengadilan tidak menemukan bukti.

Nenek Warsiah Ingin Bertemu Presiden

“Saya Ingin Mengadu ke Pak Jokowi!”
Bersama rombongan Pokja Buruh Perempuan, nenek warsiah, pergi ke Istana Negara. Ia berada di tengah-tengah buruh menggunakan metromini sewaan. “Saya Ingin Mengadu ke Pak Jokowi!” katanya penuh harap.
Kami sudah menyampaikan, tidak mudah bertemu dengan bapak presiden. Ia menunjukan sudah berupaya mengadukan nasib ke Presiden Joko Widodo. Di tangannya ia menunjukan bukti penerimaan pengaduan dari sekretariat negara.

Namun, Warsiah hanya seorang nenek yang tidak bisa menembus protokoler. Pada saat yang sama, Presiden Joko Widodo tengah menerima Presiden Sri Lanka Yang Mulia Tuan Maithripala Sirisena dan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma. Bahkan polisi melarang rombongan mobil Pokja Buruh Perempuan untuk melewati patung kuda Indosat. Nenek Warsiahpun turut tertahan di Jalan Merdeka Selatan. Asa bertemu Bapak Presiden pupus di balik barikade aparat-aparat kepolisian.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Cermin

Cermin, biasa dibutuhkan untuk bercermin, ia berguna untuk melihat diri kita sendiri. Cermin diambil sebagai judul sebuah talkshow untuk mengenal tubuh dan kesehatan reproduksi perempuan

Rasinah dan Tari Topeng

Tari Topeng Adakah di antara kita yang mengetahui tari tradisional kita bernama Tari Topeng? Namanya juga tari topeng, tentu saja para penarinya mengenakan topeng. Topeng

Renungan Badha Ketupat

Di bangku kayu, kami berkumpul menganyam ketupat sambil nonton TV, pas menyala muncul berita perang dari luar negeri. Emakku bilang, “Dunia apa ini?”

Meretas Jalan Melawan PHK, Kejahatan Kemanusiaan

Dari tahun ke tahun, ribuan angka buruh di PHK dan gelombang PHK hari ini tidak jatuh dari langit, bukan sebuah musibah, bukan pula bencana alam. Ini adalah hasil kebijakan satu rezim kapitalis yang mengorbankan manusia untuk meraup keuntungan yang berlipat lipat ganda.

Dari Mana Hari Ibu Bermula?

Tiap tahun, kita sering memperingati Hari Ibu. Di sekolah – sekolah, perkantoran hingga di rumah. Di hari itu, kita berkesempatan mengucap Hari Ibu kepada ibunda