NABUR (Dua), Arena Buruh Berekspresi

Oleh Jumisih

NABUR, Menebar Benih Perjuangan

Arena Buruh (NABUR) yang ke 2 kali ini di selenggarakan tanggal 26 April 2015, tepat di hari Minggu. NABUR itu sendiri adalah panggung ekspresi yang dibuat dan diselenggarakan oleh para buruh anggota FBLP, Kru Marsinah/Penyiar Marsinah FM dan anggota Pelangi Mahardhika, yang kemudian bersatu sebagai Sanggar Tipar (Titipan Pesan Rakyat).

Sesuai dengan maknanya, NABUR bisa bermakna menebar atau menyebar benih-benih atau bibit-bibit yang suatu saat bisa dipetik/dipanen. Nah benih-benih perjuangan inilah yang saat ini disebar oleh kawan-kawan “Sanggar Tipar”. Dengan harapan berbagai ekspresi dan pementasan yang diselenggarakan, baik berupa teater, lagu, puisi, tari dan lain-lain bisa memberikan pesan perjuangan kepada mayoritas buruh dan rakyat.

NABUR itu sendiri diselenggarakan di antara kos-kosan para buruh yang kumuh, sempit, bau got, tapi padat. Ya, pemukiman buruh adalah panggung bagi NABUR.

Sebelum NABUR diselenggarakan, berbagai persiapan pun dilakukan. Mulai dari rapat koordinasi, penulisan naskah teater, puisi, casting peran, sampai penyiapan berbagai perlengakapan pementasan. Di sini lah kawan-kawan berlatih kekompakan, kesabaran dan rendah hati. Saling memberikan semangat antar kawan sehingga latihan-latihan yang di selenggarakan bisa berjalan baik, penuh komitmen dan kesabaran.
Nabur II, seperti NABUR I, diselenggarakan dalam rangka ulang tahun ketiga Marsinah FM dan menyambut Hari Buruh International 1 Mei 2015.

Minggu pagi panitia bergegas ke lokasi. Lapangan cukup lebar dekat makam Kampung Kandang menjadi lokasi penyelenggaraan NABUR II. Para mahasiswa yang mendukung pementasan ini pun mengambil bagian untuk membagikan undangan ke warga sekitar.

Dari Tenda Roboh Hingga Hujan Deras, Tak Hentikan Langkah

Tenda sederhana mulai didirikan, namun kemudian roboh membuat panitia panik. Tak lupa kami men-setting panggung supaya lebih menarik. Namun begitu acara baru saja di mulai tiba-tiba hujan deras, sehingga sound panggung tergenang air hujan. Para buruh dan warga yang sudah hadir ke lokasi menjadi kalang kabut berusaha meneduh di bawah tenda yang rupaya juga bocor.

Namun berbeda situasinya dengan anak-anak kecil warga kampung kandang, datangnya hujan menjadi arena bermain yang sangat menyerukan, penuh canda tawa dengan keceriaan yang luar biasa. Panitia pun sigap menyikapi situasi ini, segera menyelamatkan barang-barang elektronik, dan berupaya bisa mendapakan sound lagi, supaya NABUR bisa dilanjutkan. Pementasan yang direncanakan di sore hari menjadi berubah jadwal, dan menjadi pementasan malam hari. Habis Magrib warga mulai berdatangan lagi, sehingga lapangan mulai penuh terisi.

Segera setelah segala sesuatunya siap, pementasan dimulai dengan sambutan pembukaan dari Koordinator Marsinah FM yaitu Dian Septi Trisnanti. Dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, pementasan teater, orasi-orasi serta puisi.

Yang paling mengesankan adalah pementasan teater, yang dikemas sebagai  teater dangdut, mengangkat keseharian buruh, namun dikemas dengan sangat lucu dan menghibur. Dicampur dengan lagu-lagu dangdut dan tari India, semua dikemas mnjadi pementasan yang Luar Biasa. Hmmmm ga sia-sia latihan kawan-kawan yang sangat militan, menghafal naskah, memadukan dengan musik dan properti. Luar biasa menakjubkan hasilnya. Selamat ya untuk sutradara Lanang Jagad dan Ari Widiastari.

Secara keseluruhan acara berjalan lancar, apalagi sambutan Warga kampung Kandang terutama pemudanya sangat terbuka. Sehingga muncul harapan ke depan, untuk bisa melakukan kerjasama dengan para pemuda setempat menyelenggarakan agenda serupa, yang muaranya adalah mengajak rakyat seluas mungkin untuk berjuang.

Bravo Sanggar Tipar, Berjuang bersama untuk kesejahteraan dan kesetaraan.

Jakarta, 24 April 2015

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Gelombang Perlawanan Perempuan Iran, Tentang Mereka yang Menolak Redam

Kematian Amini memicu gelombang aksi protes di berbagai kota. Di sepanjang aksi – aksi protes,  pengunjuk rasa meneriakkan slogan “Perempuan, Hidup dan Kebebasan” (Woman, Life, Freedom). Slogan ini mengejewantahkan amarah pengunjuk rasa kepada rejim yang sibuk merepresi perempuan dan abai mengeluarkan kebijakan yang lebih fundamental seperti perbaikan kesejahteraan rakyat, padahal satu dari tiga warga Iran hidup di bawah garis kemiskinan. Lebih jauh lagi, slogan tersebut berasal dari gerakan pembebasan perempuan Kurdish di Turki dan Syria yang mengalami penindasan berbasis etnik selama puluhan tahun.

Dari Angka Menjadi Suara

Dari Angka Menjadi Suara Berangkat dari Konferensi Perempuan Jakarta bertajuk “Melawan dan Bebas Kekerasan Seksual” yang digagas oleh Perempuan Mahardhika pada 19 Oktober 2013, semangat

Keadilan untuk Buruh Harus Tegak!

Tepat jam 18.05 hari ini, Kamis, 25 Februari 2021 Hakim tunggal dalam sidang perkara cepat, kasus pemukulan terhadap Khamid Istakhori dengan terdakwa Peri Prayogi, membacakan

JUMAT MILITAN

Tentang Sebuah Gerakan tadinya aku pengen bilang aku butuh rumah tapi lantas kuganti dengan kalimat: setiap orang butuh tanah ingat: setiap orang! aku berpikir tentang