KETIKA PERLAWANAN BUKAN SEKEDAR UNTUK MENANG! (1)

“Menang dalam sebuah perjuangan itu satu hal. Tetapi memulai sebuah perlawanan, dan mensetiainya sampai akhir adalah sebuah kemenangan dengan sendirinya.”

                          -Yohana Sudarsono-

Nama saya Yohana Sudarsono. Anak perempuan petani dari sebuah desa kecil di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta. Tumbuh besar bersama seorang ibu yang seumur hidupnya menjanda  sepeninggal Ayah. Sesudah menyelesaikan pendidikan SMA, saya mendapatkan bonus indah dari kehidupan ketika Ibu saya mengijinkan saya melanjutkan pendidikan di sebuah Perguruan Tinggi Negri di Kota Gudeg ini setelah saya masuk melalui Jalur Bibit Unggul Daerah, dimana yang masuk jalur ini akan diterima di Perguruan Tinggi berdasarkan seleksi prestasi di sekolah, tanpa tes tertulis.

Perlawanan saya terhadap ketidakadilan di tempat bekerja (lembaga pendidikan) dimulai pada tahun 2000-2001,  ketika saya melakukan protes terhadap perlakuan tidak adil dan diskriminatif yang dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan internasional di Jakarta. Cerita ini adalah sebuah perjalanan tentang melawan yang menindas dan meluruskan yang bengkok. Perlawanan sebagai sebuah bentuk pernyataan sikap bahwa PENJAJAHAN itu SUDAH HARUS dihapuskan dari muka bumi Indonesia. PENJAJAHAN yang saat ini mengambil bentuk yang lebih modern, lebih diam-diam dan lebih anggun itu, terjadi di tempat-tempat kerja mewah dengan kamuflase lembaga pendidikan canggih itu, TETAPLAH PENJAJAHAN, PENINDASAN. Dan, MELAWAN, menurut saya adalah HAK dan Kewajiban saya.

PERLAWANAN TERHADAP SEKOLAH AUSTRALIA

Perlakuan diskriminatif di lembaga pendidikan internasional saya saksikan dan alami pertama kali pada saat saya bekerja di lembaga pendidikan ini pada tahun 2000-2001. Perlakuan tidak adil, tidak hanya terjadi dalam operasional sehari-hari di lembaga tersebut, dimana pekerja lokal diperlakukan buruk. Salah satunya, tidak diberikannya kontrak kerja meskipun sudah bekerja berbulan-bulan. Ketika pekerja mengeluh tentang perlakuan diskriminatif terhadap pekerja lokal, baik mengenai perlakuan sehari-hari maupun hak-hak ketenagakerjaannya, managemen yang notabene orang lokal mengatakan:”Masih untung kamu bisa kerja disini. Kalau tidak kerja disini, mau kerja dimana lagi?!”. Sementara, orang asingnya cenderung memandang sebelah mata terhadap kami.

Puncak perlakuan yang tidak adil akhirnya terjadi pada saat sekolah sedang melakukan pindahan kampus.Kami, asisten Guru yang terdiri dari 7 orang perempuan ditugaskan melakukan persiapan kampus. Kami ditugaskan untuk mengepel seluruh kampus, mengangkat perabot dari ruang satu ke ruang lain, dari lantai dasar ke lantai di atasnya, membersihkan perabotan dan seluruh furniture, mengecat, dan semacamnya. Sekolah tidak menyediakan tenaga cleaner dengan alasan mereka toh sudah membayar kami sebagai staf pendidikan. Kami harus masuk seminggu sebelumnya dan melakukan semua persiapan itu, sementara para staf asing masih menikmati liburan mereka.

Dampak dari protes yang saya lakukan saat itu, selama bekerja saya diisolasi dari  pekerja yang lain (untuk menghindari saya mempengaruhi yang lain). Kemudian, saya dihadapkan ke bos asing, dimana saya dimaki-maki dengan mengatakan kami adalah pekerja-pekerja yang tidak becus, dsb.

Pada akhirnya saya keluar dari sekolah tersebut dan pada saat saya keluar, saya sempat mengirimkan Surat Pembaca ke beberapa Koran Nasional yang membuat goncang sekolah tersebut, sehingga mereka memberikan kenaikan upah kepada pekerja lokal 100% dan perlakuan-perlakuan hiburan lainnya.

Oleh Yohana Sudarsono

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Cerita Duka di Balik Imlek

http://gambar.web.id/religius/gambar-imlek-banner.html Aku Jumisih, 11 tahun lalu adalah juga seorang buruh pabrik garment, PT ELAINE nama pabrikku di KBN Cakung. Satu-satunya pabrik yang memproduksi gaun Pengantin,

Perempuan Berjuang

Seperti ban ditengah kali Hantaman datang berkali-kali Jiwa mu tegar dan tak peduli Kekuatan hati mu menggerakkan mereka Perempuan yang menderita Korban patriarki dan kekerasan

Orde Baru Ditolak. Orde Bau Bertindak

foto diambil dari http://media.nationalgeographic.co.id/daily/640/0/201505210903343/b/foto-pisowanan-agung-rakyat-yogyakarta-20-mei-1998.jpg Oleh Ambar Catatan buruh 18 tahun reformasi Seingat kita, dulu gerakan 1998 meledak perlawanan untuk menolak korupsi, kemiskinan, dan lainnya, termasuk

KONSOLIDASI BAWAH POHON

Kita sebut ini dengan nama “Bawah Pohon”, ini adalah tempat makan siang buruh-buruh di KBN Cakung, di bawah pohon sekitaran pabrik, karena kantin tidak cukup

Mengenal Nyai Ontosoroh, Dalam BUMI MANUSIA

Nyai Ontosoroh, gundik seorang totok, diletakkan sebagai perempuan hina, tak bersusila, bermoral rendah. Tentang stigma negatif gundik, Minke menurutinya sebagai pendapat umum. Memang demikianlah gundik, bermoral rendah, tak berpendidikan, pun tak berpengetahuan. Namun, kekukuhan pendapat itu tergugat dengan hadirnya Nyai Ontosorah di hadapannya. Seorang Nyai, fasih berbahasa Belanda, yang berpengetahuan tinggi, berwawasan luas, bahkan lebih dari dirinya sendiri. Minke digugat oleh kenyataan dan ia terhuyung, galau dan bingung.

Mengenal Comandante Ramona

Comandante Ramona adalah seorang pedagang jalanan pribumi yang berubah menjadi seorang pimpinan revolusioner dengan kisahnya yang memberi harapan dan inspirasi bagi ribuan rakyat terpinggir di