Sajak untuk Atma

 

Bila memang waktu sudah tidak berarti,
Dan hidup sudah tiada lagi,
Dan kematian menghampiri,
Maka hiduplah dalam ketiadaanmu,
Hiduplah dalam matimu.

Selamat jalan kamerad,
Selamat jalan pejuang kemanusiaan,
Dibelakangmu menyertai doa-doa suci dari para petani Kendeng, dan rakyat tertindas lainnya.

Tenang saja, perjuanganmu akan kami teruskan..
Hidup ini akan berarti jika kita bisa membela yang lemah, seperti yang kau lakukan.
Meski resiko mati terkadang menghantui.
Tapi itulah hidup, kawan
Kita harus siap menghadapinya.

Walau aku tak mengenalmu, tapi kau lah kawanku
Beristirahatlah dengan tenang disana,
Dalam puing rasa sedih meratapi hidup,
Dan tetes air mata
Aku menulis puisi ini untukmu..

Selamat jalan, kawan..
Kau telah menunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai manusia,
Dan kau sudah membuktikan apa yang seharusnya dilakukan seorang pengacara.
Kami semua menghormatimu dan mendoakanmu.
Semoga Tuhan menyertaimu dan menerimamu di sisi-nya.
Selamat tinggal..
Yogyakarta, 24 oktober 2016

Restu (fpbi-kpbi Yogyakarta)

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Pernyataan sikap Perempuan KPBI

16 HAKTP : Lingkungan Aman dan Penghapusan Diskriminasi Bagi Buruh Perempuan   Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender

DISKRIMINASI UPAH BURUH PEREMPUAN

Sambil menikmati kopi pahit yang disuguhkan istri tercinta, aku mencoba menuliskan jeritan nasib buruh perempuan di bagian barat jakarta tepatnya di daerah Kabupaten Tangerang. Ipon,