Rest In Power John Tobing, Sang Darah Juang

Tahun 1991, lagunya berjudul Darah Juang berhasil membakar amuk perlawanan. Petikan gitar dan setiap baitnya tumpah di jalan-jalan dan memekik di tengah aksi.

Semesta menurunkan hujan dalam sebuah panggilan duka kepada aktivis 98 yang karib dipanggil John Tobing. Tepatnya Rabu, 25 Februari 2026, pukul 20:45 WIB, pejuang kemanusiaan yang bernama lengkap Johnsony Marhasak Lumbantobing tutup usia di Rumah Sakit Akademi Universitas Gadjah Mada (RSA UGM).

Binjai, Sumatera Utara, adalah tempat tumpah tangis dan tawa John Tobing. Ia lahir pada 1 Desember 1965. Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga adalah kedua orang tua yang merawat dan membesarkan seluruh imaji dan perjuangannya. Langkah mudanya berlabuh di Kota Pelajar alias Yogyakarta sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat UGM angkatan 1986.

Sang Juang Sepanjang Hayat

61 tahun lamanya, sebaik-baiknya kesempatan semesta menempa perjalanan dan menuliskan takdir di kedua telapak tangannya. Kiprahnya sebagai anak muda tidak pernah diragukan. Ia merupakan salah satu mahasiswa akfit yang membuat gelombang perlawanan dalam gerakan mahasiswa di bawah rezim diktator Soeharto. Rupanya hadir di garda depan, dan terbukti tak pernah ciut dalam banyak kesempatan melawan. Dirinya bergabung menjadi bagian gelombang konsolidasi akbar, kritiknya tajam dalam nyanyian dan orasi. Represifitas negara ia hadapi dalam banyak periode pembredelan pers, penangkapan, penculikan, kekerasan aparat terhadap peserta aksi, sampai jadi abu ia menolak bungkam! Gema suara dan gaung lagunya bertalu-talu, berulang-ulang, dan abadi melawan.

Tahun 1991, lagunya berjudul Darah Juang berhasil membakar amuk perlawanan. Petikan gitar dan setiap baitnya tumpah di jalan-jalan dan memekik di tengah aksi. Kepalan tangan kirinya menyulut deru, menyentak langkah gerakan mahasiswa dan seluruh rakyat untuk bersatu. Lagu ini adalah masterpiece yang menjadi jembatan dan mengikat perlawanan lintas generasi. Tentu karena setiap lirik dan baitnya lahir dari situasi keterpurukan, kemiskinan, dan ketimpangan akibat rezim Orde Baru yang otoriter.

John Tobing tidak berhenti di bawah kepopuleran satu lagu. Ratusan lagu lahir dalam usahanya merajut harap dan semangat masa depan. Tidak peduli betapa buruk dan semakin kacaunya negeri ini hari demi hari, ia terus hadir meyakinkan perlawanan akan sampai pada tujuan hanya dengan satu syarat, yakni pantang menyerah.

Amerta John Tobing

Berat untuk mengatakan bahwa kenyataan hidup telah memberitahukan kepada seluruh yang berjuang, bahwa salah satu di antara yang bertahan sudah berpulang. Akan tetapi nyanyian dan pekik perlawanan itu sudah ditunaikan dengan seadil-adilnya, sekuat-kuatnya, dan tanpa rasa takut sampai akhir hayatnya.

Kesetiaan berlawan itu adalah teladan dan bukti hidup seorang pejuang bernama John Tobing. Dalam gelombang sejarah republik ini, ia telah memegang teguh bakti juangnya, dan hidup penuh martabat.

Selamat mengabadi, John Tobing. Damai dan bahagia. Nyanyianmu abadi dalam derap perlawanan dan kepalan tangan kiri.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Buruh Mengenal Jurnalistik

Bagi kebanyakan buruh, mungkin istilah jurnalistik tidak familiar di telinga. Padahal kalau kita mengamati media sosial (medsos), banyak juga buruh yang menggunakan media sosial baik

Pimpinan DPR Menolak Memberikan Perlindungan Bagi PRT?

Ajeng, seorang PRT di Jakarta, mengungkapkan rasa frustrasinya, “Sudah terlalu lama kami menunggu, 20 tahun.” Ia dan para PRT lainnya merasa janji-janji pimpinan DPR hanya omong kosong tanpa aksi nyata. Aksi ini dilakukan dengan membentangkan spanduk tuntutan serta aksi teatrikal yang menggambarkan kehidupan sehari-hari para PRT.

Bumi Manusia Episode 1

Bumi Manusia adalah karya almarhum Pramudya Ananta Toer yang dibacakan di Marsinah FM dalam program siaran Layar. Berikut ini adalah Bumi Manusia Episode 1, dibacakan

Puluhan Buruh PT Graha Fortuna Purnama Gelar Aksi di Jakarta, Tuntut Keadilan atas PHK Sepihak

Ketua SBB-FSBKU-KSN, Endang Muhidin, yang telah bekerja selama 40 tahun di PT GFP, menyatakan kekecewaannya terhadap perusahaan. Meskipun telah bekerja selama puluhan tahun, para buruh hanya diberikan pesangon sebesar Rp25 juta, jauh di bawah ketentuan Undang-undang. “Lebih dari separuh usia kami dihabiskan untuk membesarkan perusahaan ini, tetapi kami dibuang begitu saja dengan alasan rugi,” ujar Endang dengan nada kecewa.