Ironi Digital: Saat Kritik Investigasi Dibungkam dengan Dalih “Ruang Sehat”

Penjelasan Komdigi melalui Dirjen pengawasan Ruang Digital, Alexander Sabar, terasa seperti kaset rusak yang diputar ulang. Alasannya seragam: “disinformasi”, “provokatif”, dan “berpotensi memicu ketidakpercayaan terhadap institusi negara.”

Oleh Samira

Minggu ini, publik kembali disuguhi tontonan ironis dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Ditengah sorotan tajam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, Komdigi justru memilih peran sebagai “polisi moral digital” dengan memblokir konten investigasi milik media Magdalene.

Langkah ini bukan sekadar urusan teknis pembersihan konten ; ini adalah alarm bahaya bagi demokrasi dan kemerdekaan pers yang mulai tergerus oleh otoritarianisme digital.

Dalih Klasik yang Sudah Usang

Penjelasan Komdigi melalui Dirjen pengawasan Ruang Digital, Alexander Sabar, terasa seperti kaset rusak yang diputar ulang. Alasannya seragam: “disinformasi”, “provokatif”, dan “berpotensi memicu ketidakpercayaan terhadap institusi negara.”

Mari kita bedah secara logis. Jika setiap kritik atau hasil investigasi yang mengungkap kebobrokan institusi dianggap sebagai “pemicu ketidakpercayaan,” maka peran pers sebagai Watchdog (anjing penjaga) praktis sudah mati. Tugas pers memang untuk mempertanyakan institusi negara, bukan menjadi humas pemerintah yang hanya mentebarkan kabar manis.

Misinformasi Komdigi Soal “Status Media”

Klaim Komdigi yang menyatakan Magdalene tidak terdaftar di Dewan Pers adalah argumen yang sangat dangkal. Secara hukum, UU No.40 Tahun 1999 tentang pers tidak mewajibkan pendaftaran sebagai syarat sebuah perusahaan pers untuk mendapatkan perlindungan hukum. Kemerdekaan pers adalah hak asasi, bukan izin administratif yang bisa dicabut sepihak oleh kementerian.

Memblokir konten jurnalistik tanpa melalui mekanisme hak jawab atau mediasi di Dewan Pers adalah tindakan bypass hukum. Komdigi seolah-olah mengambil alih peran hakim, jaksa sekaligus eksekutor dalam satu meja.

Komentar Menohok untuk Komdigi

Sangat menggelikan melihat Komdigi begitu gesit memblokir konten media kritis dengan alasan “menjaga ruang digital tetap sehat” namun seringkali tampak ompong dan lamban ketika berhadapan dengan badai judi online atau kebocoran data pribadi warga negara yang masih masif.“

Komdigi seharusnya membersihkan sampah digital seperti judi online dan phising, bukan malah sibuk membungkam suara-suara kritis yang mencoba mencari keadilan bagi korban kekerasan.”

Memblokir konten kasus investigasi Andrie Yunus hanya akan melahirkan satu kesimpulan di benak publik: Ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Semakin dibungkam, narasi tersebut justru akan semakin liar dan dipercaya. Ini adalah Streisand yang nyata; usaha menyembunyikan informasi justru membuatnya semakin viral.

Sensor Bukan Solusi

JIka Komdigi benar-benar ingin membangun ekosistem digital yang “sehat dan bertanggung jawab,” mulailah dengan menghormati supremasi hukum dan kemerdekaan pers. Jangan jadikan kewenangan pemblokiran sebagai senjata untuk melindungi kenyamanan institusi atas kritik pedas. Negara yang sehat tidak lahir dari ruang digital yang disterilkan dari kritik, melainkan dari keterbukaan informasi dan keberanian mengakui kesalahan. Membungkam Magdalene tidak akan menyembuhkan luka Andrie Yunus, ia justru menambah luka baru pada wajah demokrasi kita.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Tjitjih, Berkesenian Hingga Akhir Hayat

gambar diambil dari https://seputarteater.wordpress.com/2015/09/06/aneka-1954-memperkenalkan-sandiwara-miss-tjitjih/ Tjitjih, Gadis Seniman Multi Talenta Bila kita melewati wilayah Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Kabel Pendek, maka kita akan

Beberapa Solusi Alternatif Tanpa Penggusuran Paksa

https://kartunmartono.wordpress.com/2009/12/28/karikatur/ Problem penggusuran di wilayah Indonesia bukan hal baru. Baru-baru ini, Kampung Pulo, Jakarta, digusur dengan paksa. Warga Pulo hendak dirusunkan, seolah rusun adalah solusi

Melawan Calo Bandit

Lami, berdemo depan PT. Myungsung/dok.Marsinah FM Melawan Karena Benar Jika kami ditanya kenapa berani melawan pengusaha garmen? maka kami  menjawab,karena itu hasil penindasan yang dilakukan

Suara Buruh Edisi 17 Februari 2015

Suara Buruh edisi 17 Februari 2015 menyajikan berita terkait Aksi Save KPK, Pengusutan Tragedi 1965,dan Pelecehan Seksual Juga Terjadi di Kampus Facebook Comments Box

Kejanggalan Sidang Perdana Kriminalisasi Septia

Direktur LBH Pers, Ade Wahyudin, yang juga merupakan kuasa hukum Septia, menyatakan bahwa proses persidangan hari ini jauh dari harapan. Ade menekankan bahwa hakim seharusnya sudah memberikan keputusan terkait penangguhan penahanan terhadap Septia, mengingat tim kuasa hukum telah menyerahkan surat permohonan penangguhan tersebut. Namun, majelis hakim menunda keputusan tersebut dengan alasan komposisi hakim yang tidak lengkap. Ade juga mengkritik dakwaan JPU, yang menggunakan pasal-pasal dari UU ITE tahun 2016 yang sudah tidak berlaku karena telah direvisi.

Hari Kelahiran dan Bunda Maria Itu

gambar : https://pin.it/5Lnlt7v Celia terlahir dari keluarga kaya yang bermukim di ibukota. Garis keturunannya cukup makmur, dia mewarisi silsilah perternak besar di Buenos Aires. Celia