Gelar Panggung Bebas, Buruh Usulkan Marsinah Jadi Pahlawan

24 Maret 2014 | 12:15 wib | Semarang
 
SEMARANG, suaramerdeka.com – Kematian pejuang buruh PT Catur Putra Surya, Marsinah masih menjadi tanda tanya besar dan tak tuntas tanpa keadilan. Kematiannya pun menginspirasi buruh masa kini untuk terus berjuang dan berani menuntut hak-hak yang dikebiri oleh para pengusaha.

“Sampai saat ini kasus Marsinah belum terungkap secara tuntas meski beberapa orang sudah dijadikan sebagai terdakwa. 21 tahun sudah kematian Marsinah, tak tuntas tanpa keadilan. Atas hal ini, tak salah Marsihan diperjuangkan untuk jadi pahlawan karena dia pejuang rakyat, pejuang upah, kesejahteraan dan pejuang demokrasi,” kata aktifis LBH Semarang, Zaenal Arifin, Senin (24/3).

Marsinah diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.

Kematian Marsinah berawal ketika awal 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya.

Pada pertengahan April 1993, karyawan PT Catur Putera Surya pun membahas surat edaran tersebut dan memutuskan untuk menggelar unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993 menuntut kenaikan upah per hari dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250.

Marsinah sendiri merupakan salah seorang karyawati PT Catur Putera Surya yang aktif dalam aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada 2 Mei 1993 di Tanggul Angin Sidoarjo.

Pada tanggal 3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh.

Pada 4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250.

Sampai dengan 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan.

Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan. Pada 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo.

Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim.

Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap. Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada 8 Mei 1993.

Reli Obor Marsinah  

Berkaca dari kegigihan Marsinah itulah, berbagai elemen masyarakat bersatu dalam satu komite yang kemudian disebut Obor Marsinah (Koalisi Bersama Politik Kerakyatan untuk Marsinah), akan menuntut untuk status Marsinah sebagai pahlawan.

Aksi Obor Marsinah ditandai dengan menyalakan obor, sebagai bentuk pernyataan bahwa nyala api Marsinah akan selalu hidup di jiwa rakyat Indonesia Sabtu (22/3) di Jakarta dan Surabaya.  

Di Jakarta Malam Obor Marsinah digelar pada pukul 19.00 di Bundaran HI. Sementara di Surabaya digelar pada pukul 17.00 di sekitar Jl. Basuki Rahmat hingga Grahadi.

Menurut salah satu aktifis Obor Marsinah, Budi Wardoyo atau yang akrab disapa Yoyok, adalah bagian dari rangkaian reli Obor Marsinah yang akan berlangsung 1 sampai 10 Mei 2014 mendatang, dari Jakarta menuju Surabaya.

Di Semarang sendiri, reli Obor Marsinah akan disambut para aktifis dari berbagai elemen dengan membuat panggung atau mimbar terbuka dan bebas di Jalan Pahlawan pada Senin 5 Mei 2014. Menurut Zaenal, dalam penggung itu berbagai elemen akan membaca puisi, bernyanyi, berorasi, aksi teatrikal dan musik.

“Kita juga menuntut kepada pemerintah untuk menyelesaikan kasus Marsinah, karena kasus itu menyangkut pelanggaran HAM dan kekerasan seksual. Marsinah adalah pejuang dan pahlawan rakyat,” tandas Zaenal.  

Ia juga berharap, elemen pergerakan di Kota Semarang dan sekitarnya yang ingin bergabung dapat menghubungi dirinya di nomor 085727149369.
Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Oligarki dan Peluang Pembangunan Politik Alternatif

Usman Hamid, dalam sebuah diskusi “Partai Politik Alternatif: Hanya Slogan?” yang diselenggarakan oleh KPBI (Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia), menyatakan, untuk menghadapi kekuatan oligarki,maka gerakan sosial,

KOPERASI KITA KOPERASI BERSAMA

ex buruh PT. Makalot I.I membangun Koperasi Sejahtera  Di Tengah Himpitan Rentenir dan Bank Buruh di KBN Cakung rentan terlilit utang ke rentenir. Adalah pandangan

Lagu Nusantara

“Lagu Nusantara”,  program siaran untuk lagu-lagu daerah di nusantara. Tiap hari jumat jam 8 malam sampai 10 malam. Dikelola oleh Salira Salira, bernama asli, Kurniati.

Lagi-lagi, Hanya Kabar Buruk yang Terdengar

Malam ini, lagi-lagi aku mendapat kabar buruk. Sebenarnya memang sudah dari bulan Februari lalu. Kabar buruk ini terus berkelanjutan, entah puncaknya sampai kapan. Merenung sedikit,

Pekerja Rumahan Adalah Pekerja

Lem yang dipergunakan untuk mengelem alas kaki tidak diberikan secara gratis, tapi setiap perantara wajib membeli lem yang sudah disediakan oleh pabrik. 1 kaleng lem dihargai Rp.450.000 dan ini dibayarkan setelah semua pekerjaan selesai. Biaya ini belum mencakup transportasi untuk mengambil barang, gunting untuk memotong, kuas untuk menyapu lem ke alas kaki. Semua ongkos itu semuanya ditanggung oleh si pekerja rumahan.