“Dan …Akhirnya Saya Keguguran”

Oleh Lami (Lamoy Farate) 

Pagi itu, kala mentari bersinar malu – malu, rombongan bus kawan-kawan dari Jakarta menuju Karawang untuk menghandiri KPP (Konfrensi Prempuan Pekerja) melaju kencang di jalanan yang tidak rata, membuat rombongan teriak kaget di sertai tawa dan canda. Hari itu, cuaca mendung dengan gerimis kecil. Di sepanjang jalan, kota Karawang diramaikan kampanye pilkada dengan arak arakan barongsai, leang leong bendera dan kaos dari berbagai partai yang awalnya kami pikir demo buruh.

Setelah beberapa saat, sampailah rombongan bus di kantor Disnaker kota Karawang yang akan dijadikan tempat acara KPP. Bus berhenti, rombongan pun turun hendak mencari toilet. Setelahnya, satu persatu kami memasuki ruangan dan mengisi buku daftar tamu dan sebagian masih mengantri di toilet belakang. Bangku besi tersusun rapi menunggu untuk kami duduki.

Sementara itu, salah satu anggota Sanggar Tipar sedang berganti kostum di belakang, menggunakan daster, berperan sebagai ibu hamil sesuai dalam tema KPP.

Untuk pembukaan acara, akan diisi dengan monolog tentang pelanggaran hak ibu hamil di tempat keerja dan tamu undangan yang hadir pun fokus menyimak isi cerita dalam monolog.

Selesai monolog, acara dimulai dengan berbagi pengalaman sebagai buruh hamil yang mengalami pelanggaran di tempat kerja. Salah satu kawan buruh dari PT EUNSAN memberanikan maju ke depan dan bercerita tentang kisah dan pengalamannya sebagai ibu hamil di tempat kerja.

Perempun berperawakan mungil berkerudung warna kuning mulai bercerita ’’Assalamualaikum waarahmatullahi wabarakatu, kenalkan nama saya Ressa, saya berkerja di PT EUNSAN APAREL, waktu itu saya telat datang bulan, lalu saya periksa ke bidan dan dinyatakan positif hamil. Seperti biasa, saya masih kerja dan lembur malam. Waktu itu, saya bilang ke atasan kalau saya hamil dan minta pulang  jam 6 sore,’’

Saya bilang ke atasan,  ‘’mbak, saya ijin pulang, tolong cari orang buat gantiin jahitan saya. Jahitanya gampang kok mba. Tolonglah mba, kasihan sama orang hamil, mba kan prempuan pasti pernah ngrasain hamil”

Namun, pengawas itu marah dia bilang ’’Trus aku harus bagaimana kalo kamu hamil, pokoknya kamu harus lembur, nggak ada orang yang gantiin. Akhirnya, ya aku diam aja ikutin lembur.”

Ressa bercerita sambil menahan isak dan airmatanya. Sambil mengenang kejadian itu, dia lanjutkan ceritannya ‘’Padahal ya, pengawas saya itu perempuan, pasti pernah ngrasain hamil. Masa nggak bisa usahain cari anak buah untuk gantiin jahitan saya yang gampang. Setelah saya habis lembur malam itu badan saya terasa nggak enak, mungkin kecapean. Trus keluar flek dari bagian intim saya. Saat itulah saya kehilangan anak saya yang baru berumur dua bulan setengah. Saya keguguran. Bahkan gaji saya hampir 4 bulan nggak dibayar, ditinggal kabur sama pengusahanya. Inilah kisah dan cerita saya. Kalau bisa, jangan sampai temen-temen ngalamin. Kita harus sering ikut diskusi tentang perempuan, biar kita lebih tahu tentang hak-hak perempuan.”

Saat Ressa bercerita kehilangan anaknya sambil menangis, teman-teman yang hadir di acara KPP juga ikut mengeluarkan air mata. Rata-rata, hampir sama pelanggaran ibu hamil di tempat kerja lainya. Misalnya, dipaksa lembur dan mengangkat yang berat-berat dan tidak ada perlakuan khusus dari perusahaan untuk buruh yang  hamil muda dan rentan dengan keguguran. Hanya kepedulian dari temen-temen kerjanya saja, buruh hamil dapat perhatian di tempat kerja.

Selesai berbagi pengalaman tentang pelanggaran buruh hamil di tempat kerja dari berbagai organisasi yang hadir kami peserta KPP, peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk menggali lebih dalam tentang pelanggaran burh hamil di tempat kerja, misalnya keluhan setelah melahirkan dan menyusui biaya anak lahir dan keperluan lainya yang tidak ditanggung oleh perusahaan. Di selang istirahat makan siang, acara kemudian dilanjutkan dengan presentasi-presentasi dari setiap kelompok. Lalu, jam tiga sampai jam lima sore, acara selesai dengan tuntutan yang di kerucutkan dengan program ke depan.

Aku berharap semoga dengan program yang dirumuskan di KPP ke dua ini, bisa terlaksana dan membawa hasil berupa perbaikan bagi nasib buruh perempuan.

 

 

 

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Mari Bertemu dalam ‘ANGKA JADI SUARA’

Pemutaran Film ‘Angka Jadi Suara’ dalam Dialog (Buruh) Perempuan Membawa kisah dari KBN Cakung, FBLP dan Perempuan Mahardhika ingin mengajak beragam komunitas perempuan bisa bertemu

Solidaritas Buat Guru Global Mandiri

Kami mengecam dgn keras tindakan perusahaan Sekolah Global Mandiri yg tlh mem-PHK sepihak ke-23 Gurunya. Salah satunya ibu Guru Munawati ketika sedang hamil tua, dan

Posisi Buruh didalam Rantai Nilai Global

Fatimah Fildzah Izzati seorang peneliti perburuhan dalam Talkshow Union di Marsinah FM dengan tema “Buruh Dalam Rantai Nilai Global” yang membahas apa itu sebenarnya rantai nilai global serta posisi buruh dalam rantai nilai global mengungkapkan bahwa rantai nilai global memiliki banyak istilah antara lain rantai nilai pasok, rantai nilai komoditas dan masih banyak yang lain akan tetapi maknanya tetap sama. Rantai nilai global membicarakan tentang barang-barang atau komoditas yang diproduksi oleh kelas buruh diseluruh dunia dalam sebuah rantai nilai yang saling terhubung.

Foto oleh Jala PRT

DPR RI Tak Mau Akui PRT Sebagai Pekerja

RUU PPRT sudah diperjuangkan selama 20 tahun dan DPR masih tidak mau mengakui PRT sebagai pekerja dan mengesahkannya RUU PPRT menjadi UU, padahal sebagai pekerja, para PRT mengalami pelanggaran atas hak-haknya baik sebagai manusia, pekerja dan warga negara.

Lolita: Buruh Jahit Jadi Aktivis

Selamat malam Sahabat Marsinah, bagaimana kabar sahabat  malam hari ini setelah giat bekerja? Semoga baik – baik saja ya. Sambil melepas lelah, stay tune deh