Buruh Mengenal Jurnalistik

Bagi kebanyakan buruh, mungkin istilah jurnalistik tidak familiar di telinga. Padahal kalau kita mengamati media sosial (medsos), banyak juga buruh yang menggunakan media sosial baik itu Facebook (FB) maupun Instragram (IG).

FB menjadi arena untuk memposting foto aktivitas, posting perasaan, saling sapa antar pengguna Fb sampai saling memberi dukungan atas perjuangan buruh dan rakyat. Sayangnya disisi lain, Fb juga menjadi sarana untuk saling mencaci, menyindir, merendahkan atau mempermalukan pihak lain.

Nach, ini adalah “potensi” bagi buruh untuk mengenal Jurnalistik. Supaya bisa menggunakan medsos dengan baik dan bermanfaat. Medsos bisa menjadi ajang saling memberi informasi dan menguatkan, bahkan tanpa batas-batas wilayah, bahasa, agama ataupun golongan politik tertentu.

Disinilah peran buruh bisa “dimaksimalkan” untuk menggunakan medsos. Ada istilah yang lazim digunakan buruh misalnya adalah “ga keren kalau ga nulis status” atau “ga gaul kalau belum apload foto”. Terdengar aneh memang ungkapan ini, tapi hal ini jugalah yang ada di lapangan.

Marsinah FM sebagai salah satu media komunitas yang didirikan oleh buruh, mendukung upaya buruh untuk menggunakan medsos dengan baik. Marsinah FM selain membangun komunitas dengan bersiaran, juga mempunyai website yang berisi tulisan-tulisan yang inspiratif untuk buruh perempuan dan buruh secara umum. Dari sinilah buruh belajar bagaimana menulis dan menghargai tulisan sebagai karya cipta.

Oleh karena itu, dalam pendidikan Jurnalistik yang di selenggarakan di Balong Kabayan Bogor tanggal 20-21 Januari lalu, Ari Widiastari selalu ketua panitia menyampaikan bahwa “Marsinah FM sebagai media komunitas, selain bersiaran juga mengelola website dan meminta kawan-kawan lebih kreatif dalam menulis, agar semakin banyak buruh yang bisa menulis dengan baik dan benar, dengan menggunakan ejaan yang disempurnakan (EYD)”.

Sementara itu Dian Septi Trisnanti selaku koordinator Marsinah FM juga menyampaikan “selain menulis status, buruh juga bisa membagikan tulisan-tulisan inspiratif kepada kawan-kawan lainnya di medsos, dengan begitu propaganda kita akan semakin luas dibaca oleh pihak lain”.

Lebih lanjut Dian menyampaikan bahwa “…membuat tulisan bisa dimulai dengan hal-hal yang bersifat keseharian, yang mengandung makna (maksud) dan tidak usah panjang-panjang dulu, yang penting memulai menulis dengan ejaan yang benar dulu”.

Penggunaan istilah seperti “keles”, “bingiiit”, “sesuatu”, “zaman now”, “akoohhhh” adalah politik bahasa untuk memundurkan pemahaman, mengaburkan makna. Dan dalam penggunaan singkatan-singkatan sebaiknya diminimalkan untuk kemudian dihilangkan. Jangan pernah malu dianggap “kuno” atau “jadul” jika tidak menggunakan istilah-istilah yang sedang ngetrend. Kita justru bangga karena tidak terbawa arus, bangga menggunakan bahasa Indonesia dengan benar, karena kitalah yang harus mencintai bahasa kita. Karena bahasa mempunyai pengaruh penting dalam membangun kesadaran anak negeri.

Jadi apa pentingnya buruh mengenal Jurnalistik? Tentu saja sangat penting, karena buruh harus memberi kontribusi dalam pembangunan kesadaran, dan salah satu media yang bisa digunakan adalah dengan menulis. Jika buruh salah dalam memberikan informasi, atau tidak tepat dalam membangun keberpihakan melalui tulisan, maka akan salah juga dalam membuat kesimpulan. Karena menulis adalah kerja untuk keabadian. Kemampuan menulis juga bisa menjadi media untuk melakukan kerja-kerja advokasi (pembelaan).

Selamat menulis untuk para buruh. Selamat berkontribusi dalam karya-karya anak negeri.

Gadis Merah

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

MINTEN

Minten, Apakah malam ini kau juga menggulung kasur lantaimu? Sama seperti yang kulakukan karena hujan angin begitu derasnya. Apakah malam ini dikostmu juga mati lampu?

Berbagai Dinamika Pasca Pengesahan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual

Tuti Wijaya menyatakan kasus kekerasan seksual sangat banyak. LBH Semarang mencatat pada tahun 2021-2022 kasus kekerasan mengalami lonjakan yang cukup signifikan, dimana pada tahun 2021 aduan kekerasan seksual sebesar 19 aduan dan di tahun 2022 mengalami lonjakan sebesar 142% dan setelah pengesahan UU TPKS ini, LBH Semarang juga mencatat ada 49 aduan pasca pengesahan UU TPKS ini. 

Teh Pahit di Kertamanah: Menipisnya Lahan dan Ketidakpastian Hidup Buruh

Sebagai buruh borongan, penghasilan Dedi bergantung pada jumlah pucuk teh yang bisa dipetik. Dengan sistem upah per kilogram, pendapatannya semakin menurun seiring berkurangnya luas lahan yang bisa digarap. Harga pucuk teh sendiri berkisar antara Rp500 hingga Rp800 per kilogram, tergantung kualitasnya. Total sebulan, Dedi hanya memperoleh sekitar Rp2 juta. Jika lahan semakin menyusut, penghasilannya pun bisa semakin tergerus.  

PRIIIITT!!

  Priiit! Dengar dan rasakan senandung lima dasar pengupahan Karena dari kecil biasa dilarang Maka tidak sulit, buruh memahami larangan-larangan ini Panca Jangan Pertama, Jangan