Memaknai Sisterhood Dalam Arena Juang Kita

Mengakui keberadaan sesama perempuan di ruang publik adalah hal politis. Menyapa, berkenalan, dan mengajak ngobrol sesama perempuan di tengah-tengah forum yang dominan laki-laki atau ketika perempuan itu tampak sendirian, adalah hal politis. Kita tidak boleh mengabaikan mereka yang termarjinalisasi atau terasing dalam forum yang sering kali berisi orang-orang sok paling mengenal banyak orang.

Oleh Launa Biru

Perempuan bisa melawan, bahkan dengan cara-cara paling sederhana. Kalimat demi kalimat di dalam tulisan ini berisi kecerewetan saya sebagai perempuan yang ingin melawan. Melawan dengan sederhana dan nyata agenda politiknya. Saya sering terbengong bengong dengan kelakuan perempuan yang lebih senang bercanda gurau, menyapa akrab–acapkali bahkan dengan nada dan kata-kata manja–, hingga berdempet jarak untuk duduk bersama ataupun colek mencolek ke kawan laki-laki.

Tidak, saya tidak sedang menjadi polisi moral atau perempuan dengan otak overprotective, kolot, atau religius–label yang kerap disematkan jika seseorang tidak menyukai perkawanan lawan jenis. Saya mendukung perkawanan lawan jenis. Tapi saya lebih mendukung perkawanan sesama perempuan, apalagi ditambah dengan perlakuan ramah tamah perempuan kepada perempuan lain. Bagi saya, hal itu politis. Saya akan memberikan ilustrasi dan menjelaskan argumentasinya.

Suatu hari, saya datang mengunjungi suatu kegiatan yang ternyata cuma saya perempuannya. Saya datang bersama suami. Selang satu jam lebih, seorang perempuan lain datang lagi. Sejak mula saya nongkrong di kursi tepat menghadap pintu dan menengok ke arah kedatangannya. Perempuan ini berjalan dan langsung menyebut nama kawannya, tentunya laki-laki. Dalam beberapa langkah saja, perempuan itu menuju ke arah saya. Dia tahu saya ada di sana. Saya menunggu aba-aba untuk melempar senyum. Dia menengok, saya tersenyum, tapi dia melengos, masuk ke pintu itu menghampiri kawan laki-lakinya yang tengah berkumpul. Saya heran. Perempuan itu tak lama keluar lagi berdiri di belakang saya, entah melakukan apa. Saya tengok ke belakang sebentar, dia mengecas hape. Beberapa menit kemudian, perempuan ini bolak balik melewati pintu dan jelas melewati saya juga.Tidak ada sepatah katapun keluar untuk menyapa saya.

Saya tidak marah. Saya hanya heran. Di kegiatan itu, setidaknya ada 30 peserta dan semuanya laki-laki. Saya datang hanya sebagai penonton. Hanya 5 sampai 7 orang yang saya kenal dan ngobrol tipis dengan mereka. Selebihnya untuk orang-orang yang belum saya kenal, kami saling bersalaman, tanda umum menyapa orang baru kenal.

Mau tak mau, saya membandingkan pengalaman dengan perempuan tadi. Ia perempuan tapi menolak kehadiran perempuan lain, yang jelas-jelas melempar senyum lebih dulu. Apa saya tak terlihat di matanya? Apa saya hantu? Tapi laki-laki yang lain melihat saya, kok.Saya merenung .

Lama-lama agak kesal juga. Bukan karena karakter orangnya, tapi hal sederhana persoalan berkenalan saja ternyata tidak dibayangkan sebagai agenda politis. Agenda politis untuk saling mengakui keberadaan sesama perempuan. Agenda politis untuk memberi nyata kehadiran perempuan oleh perempuan. Agenda politis untuk menambah perkawanan antara perempuan.

Di kasus lain, perempuan malah jelas-jelas mengabaikan keberadaan dan kehadiran perempuan lain di satu ruangan yang sama. Alih-alih sesederhana bertegur sapa, teman perempuan ini memilih laki-laki dengan posisi kekuasaan tertinggi untuk disapanya dan menjadi teman bercanda. Konyolnya lagi, ia jelas-jelas mengenal kami. Ketika itu, ia melihat kami, tapi tidak mengakui keberadaan dan kehadiran kami. Ia melihat kami, tapi menolak menjalin relasi dengan kami. Perempuan ini melihat kami, tapi sepertinya tidak cukup penting untuknya. Jika begitu pilihannya, lalu agenda politisnya untuk apa dan siapa?

Dua ilustrasi di atas terjadi di ruang para aktivis bekerja. Dan perempuan yang saya maksud juga bagian dari aktivisme itu. Menarik bukan? Jadi, tepat di situlah kekesalan saya berakar. Saya menggumamkan tagline gerakan “women supporting women”. Apakah mendukung sesama perempuan harus selalu di kondisi saat seorang perempuan sedang terpuruk? Apakah mendukung sesama perempuan harus melulu se-heroik melontarkan frase “Berantas Patriarki?” Rasanya tidak. Untuk menjadi suatu gerakan bermakna, bernilai guna, dan berdampak, “women supporting women” harus memiliki kekuatan operasional. Salah satunya ya ilustrasi yang telah saya tuturkan di atas.

Mengakui keberadaan sesama perempuan di ruang publik adalah hal politis. Menyapa, berkenalan, dan mengajak ngobrol sesama perempuan di tengah-tengah forum yang dominan laki-laki atau ketika perempuan itu tampak sendirian, adalah hal politis. Kita tidak boleh mengabaikan mereka yang termarjinalisasi atau terasing dalam forum yang sering kali berisi orang-orang sok paling mengenal banyak orang. Di tingkat kerja aktivisme harian, maskulinitas dan patriarki masih berlangsung. Dominasi sekaligus subordinasi terhadap perempuan belum pernah benar-benar hilang. Perempuan dan lelaki sama-sama bisa melakukannya. Tapi kita perempuan, bisa mengikisnya dengan hal-hal sederhana. Sehingga, persoalan menyapa dan tidak menyapa antara sesama perempuan itu bukan persoalan moral, norma, apalagi karakter. Itu persoalan politis. Jika kita sudah punya basis moral, norma, dan karakter yang mendukung hal seperti itu, maka memasukkan unsur politik perjuangan akan semakin membuat tindakan kita berdaya juang. Toh, politisi juga sering caper kalau ada maunya. Sebaliknya, kalau gagasan politik kita sudah matang, apa lagi berjuang untuk gerakan “women supporting women”, maka kita wajib belajar pengoperasionalisasi nya. Jangan sampai agenda politik ini berakhir jargon kosong tanpa praktek yang politis di ranah harian. Ya kira-kira boleh lah kita mulai ‘caper’ ke sesama perempuan, bukan untuk akumulasi pribadi, tapi untuk melipatgandakan subjek/kawan dan meluaskan arena perjuangan.

Pengetahuan kita tentang melawan harus diujicobakan terus menerus sebagai praktek harian agar kita tahu dimana celah teori dan konsep yang telah kita pelajari. Dan bukankah dengan pengetahuan, tindakan kita jadi lebih bermakna dan tidak sekedar ritual belaka? Bukankah basa basi jadi lebih berkekuatan mengubah alih alih sekedar framing personality semata? So, akhir kata, a woman’s existence is political. It needs to be seen, acknowledged, and amplified by her woman counterparts. Woman who sees, acknowledges, and amplifies her woman counterpart’s existence is working for her, their, our: women’s (plural) rights and gender justice. This may be the start to empower our sisterhood.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Celia Sanchez

Celia Sanchez adalah salah satu dari sekian pejuang perempuan dalam revolusi Kuba menggulingkan diktator bernama Batista. Celia adalah salah satu pejuang perempuan Kuba yang punya

“LAWAN ATAU DITINDAS”

Bermuka dua di pabrik semakin banyak Buruh pun semakin ditindas Tenaga,pikiran semakin dikuras Upah tidak layak kamu berikan kami Hak kamipun kamu rampas BBM pun

Pekerja Rumahan Adalah Pekerja

Lem yang dipergunakan untuk mengelem alas kaki tidak diberikan secara gratis, tapi setiap perantara wajib membeli lem yang sudah disediakan oleh pabrik. 1 kaleng lem dihargai Rp.450.000 dan ini dibayarkan setelah semua pekerjaan selesai. Biaya ini belum mencakup transportasi untuk mengambil barang, gunting untuk memotong, kuas untuk menyapu lem ke alas kaki. Semua ongkos itu semuanya ditanggung oleh si pekerja rumahan.

Saya dan Film Senyap

Film SENYAP, film sederhana namun sangat bagus, bercerita berdasarkan kesaksian pelaku dan korban secara jelas serta punya pesan yang sangat bagus. Terlibat menjadi panitia merupakan

Merajut Ingatan Melalui Dokumenter “Ingatan Dari Timor”

Azizah terhenyak, dunia terasa berhenti saat kebenaran terpampang tepat di depan matanya. Indonesia, negeri yang melahirkannya adalah serupa penjajah, menindas bangsa lain secara  keji. Maaf terucap, air mata berderai namun keduanya tidak akan pernah cukup menebus penderitaan rakyat,termasuk anak – anak Timor Leste.