Sajak untuk Atma

 

Bila memang waktu sudah tidak berarti,
Dan hidup sudah tiada lagi,
Dan kematian menghampiri,
Maka hiduplah dalam ketiadaanmu,
Hiduplah dalam matimu.

Selamat jalan kamerad,
Selamat jalan pejuang kemanusiaan,
Dibelakangmu menyertai doa-doa suci dari para petani Kendeng, dan rakyat tertindas lainnya.

Tenang saja, perjuanganmu akan kami teruskan..
Hidup ini akan berarti jika kita bisa membela yang lemah, seperti yang kau lakukan.
Meski resiko mati terkadang menghantui.
Tapi itulah hidup, kawan
Kita harus siap menghadapinya.

Walau aku tak mengenalmu, tapi kau lah kawanku
Beristirahatlah dengan tenang disana,
Dalam puing rasa sedih meratapi hidup,
Dan tetes air mata
Aku menulis puisi ini untukmu..

Selamat jalan, kawan..
Kau telah menunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai manusia,
Dan kau sudah membuktikan apa yang seharusnya dilakukan seorang pengacara.
Kami semua menghormatimu dan mendoakanmu.
Semoga Tuhan menyertaimu dan menerimamu di sisi-nya.
Selamat tinggal..
Yogyakarta, 24 oktober 2016

Restu (fpbi-kpbi Yogyakarta)

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Disanjung Tidak Terbang, Dicaci Tidak Jatuh

Marsinahfm, Jakarta – Selain lincah dalam meramu perlawanan dijalanan, pegiat serikat buruh dituntut untuk mampu berunding dengan elegan di hadapan pengusaha, birokrasi, atau bahkan preman.

Eyang Lestari, Berjuang Sepanjang Usia

Eyang Lestari (tengah). foto diambil dari http://www.thejakartapost.com/news/2012/09/29/ignorance-helps-excuse-mass-killings.html Pejuang Perempuan Tangguh Itu Akhirnya Tiada Mugiyanto, seorang aktivis HAM sekaligus korban penculikan 1998  menuliskan untaian duka melalui akun

Oleh Rahmad

Mak Batu Ampar Membela Ruang Hidup

25 Oktober 2023 adalah kebangkitan yang mendorong perlawanan mak-mak. Mereka secara spontan bergerak meluapkan kemarahan dan melawan ketertindasan.