Venezuela dan Masa Depan Sosialisme Abad 21

Marta Harnecker (almarhum) yang pernah menjadi penasehat Kementerian Partisipasi atas Kapitalisme, menyoroti tentang misi Mercal. “Salah satu misi terpenting adalah Mercal. Mercal adalah sesuatu hal yang berkebalikan dengan logika kapital. Merkal berupaya untuk memberi bahan pangan kepada rakyat dengan harga yang tidak ditentukan oleh hukum permintaan, tetapi lebih pada dibawah harga pasar

Sudah hampir sebulan semenjak Amerika Serikat di bawah operasi militer Absolute Resolve menyerang Venezuela dan telah menewaskan 100 orang. Dalam persidangan di New York, Nikolas Maduro membantah tudingan AS dan menyatakan bahwa ia merupakan Presiden sah Venezuela. Rakyat dunia kini sedang dipertontonkan rangkaian adegan banal, tentang bagaimana sebuah negara adidaya bisa seenaknya sendiri menculik dan menyidang Presiden negara lain. Mengabaikan hukum negara yang diserang, sekaligus menghina hukum internasional. Pemboman Amerika Serikat ke Venezuela bukan hal baru, melainkan puncak dari serangan embargo ekonomi selama dua dekade terakhir yang berakibat pada hancurnya perekonomian Venezuela sehingga rakyat Venezuela menghadapi krisis berkepanjangan – kelaparan, hilangnya penghasilan, tergerusnya hak anak dan perempuan.

Lebih jauh lagi, serangan ekonomi dan pemboman ini bagian dari politik lama Amerika Serikat terhadap negara – negara di Amerika Latin, seperti Kuba dan Nicaragua. Agresi militer AS, tentu saja menjadi ancaman bagi negara – negara Amlat lainnya dan global south. Dengan penuh percaya diri, Trump menegaskan supaya negeri Amlat lainnya waspada karena bisa saja menjadi sasaran berikutnya. Selain itu, Trump secara terang benderang menyatakan kepentingannya terhadap minyak Venezuela yang merupakan cadangan minyak terbesar di dunia, melampaui Arab Saudi. Dengan pongah, ia mengumumkan niatnya mengelola pemerintahan Venezuela, seolah punya hak melanggar kedaulatan rakyat Venezuela. Dalam pernyataannya, Trump melontarkan bakal menjual 50 juta barel minyak Venezuela, dengan persetujuan Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez- sebelumnya, Wakil Presiden Venezuela.

Begitulah imperialisme, tanpa malu – malu melanggar kedaulatan negara lain demi mengeruk keuntungan dan menguasai geopolitik dunia. Tanpa peduli dengan tatanan global, Amerika Serikat dengan semena – mena melanggar piagam PBB dan baru – baru ini mengundurkan diri dari 63 badan dunia PBB. Kecaman PBB dan beberapa negara dunia terhadap AS hanya menjadi angin lalu. Seolah, Trump sedang menyatakan perang pada perdamaian dunia. Di tengah kecamuk ini, rakyat semua bangsa yang bakal berdiri di barisan depan untuk dikorbankan.

Imperialisme tidak pernah datang sendirian, namun dengan propaganda besar yang membingkai serangan Amerika Serikat sebagai tindakan bermoral demi menyelamatkan demokrasi Venezuela. Padahal, invasi ke sebuah negara berdaulat tidak boleh dibenarkan dengan alasan apapun. Sembari menebar teror perang ke dunia, tanpa tahu malu Amerika Serikat menempatkan dirinya sebagai polisi moral dunia.
Kini, masyarakat Venezuela, termasuk kaum buruhnya menanti perubahan berarti di bawah presiden pengganti Delcy Rodriguez. Alexander Breceno (Presiden SUNTIMAVEN, sektor kehutanan) menyampaikan selama ini buruh Veenezuela hidup dengan gaji yang sangat rendah – kurang dari 5 sen- dan berharap ada kebijakan perbaikan upah sehingga buruh bisa hidup lebih sejahtera.

Masa Depan Sosialisme Abad 21

Pada April 2002, dunia tersentak dan terkagum dengan jutaan rakyat Venezuela yang berhasil menggagalkan kudeta terhadap Hugo Chavez, Presiden Venezuela saat itu. Peristiwa tersebut sangat monumental dan membuat sebagian dunia yakin dengan hadirnya Sosialisme Abad 21 yang digemakan oleh Chavez.

Sosialisme Abad 21 menandai kehadirannya sebagai sebuah alternative dari Kapitalisme, menentang praktek imperialisme. Secara umum Sosialisme Abad 21 merupakan respon terhadap gagalnya neoliberalisme, kesenjangan sosial ekstrem dan dominasi imperialisme dan kapitalisme global. Sekaligus, menandai bahwa Sosialisme Abad 21 berbeda dengan Sosialisme klasik yang dinilai gagal.

Karakteristik utama Sosialisme Abad 21 adalah penguasaan sektor strategis seperti minyak, gas, listrik; penolakan terhadap neoliberalisme dan dominasi AS yang dianggap memiskinkan rakyat; penekanan terhadap keadilan sosial dan redistribusi kekayaan, demokrasi partisipatoris yang mengutamakan partisipasi rakyat melalui komunitas, referendum, dewan rakyat, bukan hanya melalui mekanisme elektoral; pengakuan terhadap kedaulatan nasional dan regional.
Penopang utama Sosialisme Abad 21 adalah lingkar bolivarian dan revolusi bolivarian. Lingkar Bolivarian ini terinspirasi dari Simon Bolivar, pahlawan anti kolonialisme di Amerika Latin. Lingkar Bolivarian terwujud dalam bentuk komunitas – komunitas, organisasi akar rumput, dibentuk untuk wadah pendidikan politik, solidaritas sosial, dan mobilisasi rakyat. Lingkar – lingkar bolivarian ini mengambil peran untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat, menjadi basis pendukung revolusi bolivarian dan mendorong partisipasi rakyat dan pengambilan keputusan lokal.

Revolusi Bolivarian sendiri punya tahapan program strategis seperti Nasionalisasi industri minyak (PDVSA); Program sosial besar-besaran (misiones sociales); Konstitusi baru (1999); Aliansi regional seperti ALBA. Semua program ini diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Venezuela; menolak bergantung pada kekuatan imperialis; dan mengintegrasikan kekuatan politik Amerika Latin yang terlihat dengan terbentuknya ALBA.

Revolusi Bolivarian bukan tanpa capaian. Bahkan program kerakyatannya, sempat menjadi inspirasi bagi gerakan sosial di dunia. Selain keberhasilan rakyat Venezuela menggagalkan kudeta April 2002 yang didokumentasikan dalam sebuah film “Revolution Will Not Be Televised”, Venezuela menjalankan berbagai program (misi) sosial untuk rakyat. Diantaranya, Mission Barrio Adentro, perawatan kesehatan di perkampungan miskin Caracas yang kemudian diperluas melalui komunitas – komunitas rakyat seperti Mission Robinson (misi melek huruf), Mission Ribas (sekolah menengah), dan Mission Sucre (universitas). Misi lain yang dibentuk untuk mengatasi penderitaan masyarakat adat (Mission Guicapuro), dan perjuangan campesinos (petani) untuk tanah (Mission Zamora). Program sosial lainnya menjadi rujukan berbagai gerakan sosial. Program Banmujer (kredit mikro tanpa agunan) semisal yang ditujukan bagi perempuan miskin, Ibu rumah tangga dan ekonomi komunitas. Selain itu Banmujer juga mendorong berdirinya koperasi dan ekonomi komunitas. Secara khusus Banmujer merupakan program yang fokus membangun kemandirian ekonomi perempuan, melindungi mereka dari hantaman kapitalisme besar.

Marta Harnecker (almarhum) yang pernah menjadi penasehat Kementerian Partisipasi atas Kapitalisme, menyoroti tentang misi Mercal. “Salah satu misi terpenting adalah Mercal. Mercal adalah sesuatu hal yang berkebalikan dengan logika kapital. Merkal berupaya untuk memberi bahan pangan kepada rakyat dengan harga yang tidak ditentukan oleh hukum permintaan, tetapi lebih pada dibawah harga pasar”

Produk-produk di outlet Merkal biasanya dijual dengan harga 40 persen dibawah harga pasar. Lebih lanjut, Marta Harnecker mengungkapkan bahwa gagasan Merkal berasal dari kebutuhan akan kedaulatan pangan yang muncul akibat pemogokan para bos pada Desember 2002.

Semua misi sosial itu dihasilkan dari sebuah praktek demokrasi yang menempatkan rakyat sebagai sentral dari setiap pengambilan keputusan, Demokrasi Partisipatoris. Demokrasi Partisipatoris menggantikan demokrasi keterwakilan melalui kemenangan pemilu 1998. Menurut Chavez, demokrasi partisipatoris merupakan demokrasi protagonis dimana rakyat bisa merebut kuasa atas hidupnya, melalui komunitas – komunitas. Pemerintahan komunitas mempunyai wewenang untuk mendistribusikan (mendesentralisasi) tugas – tugas dan sumber daya seperti pengumpulan sampah dan perawatan, pembayaran persediaan listrik. Komite – komite komunitas ini dibentuk untuk mengatasi masalah kesehatan, pendidikan, olahraga dan isu lainnya yang berkaitan erat dengan misi – misi sosial.

Di masa 2000an, saat Chavez berkuasa, menentang imperialisme, Chavez berhasil mensentralisasi keuntungan sumber daya alam minyak dengan merebut kontrol PDVSA, untuk membiayai misi – misi sosial. Terlebih, kala itu harga minyak relatif tinggi. Hasilnya, Kemiskinan dan kemiskinan ekstrem turun signifikan; Akses pendidikan, kesehatan, dan pangan meningkat tajam; Buta huruf diberantas (diakui UNESCO); Perempuan dan rakyat miskin jadi subjek kebijakan; Kedaulatan nasional diperkuat (anti-IMF, anti-neoliberal).

Menentang imperialisme, sama artinya melawan kekuatan dunia dengan segala resikonya. Tak terhindarkan. Krisis mulai menghampiri Venezuela, dimulai sejak 2012 – 2013, dan meninggalnya Chavez. Krisis memuncak pada 2014 ketika harga minyak anjlok. Anjloknya harga minyak ini berimbas pada runtuhnya pendapatan negara, sementara Venezuela masih sangat bergantung pada minyak. Di sisi lain, embargo ekonomi yang terus menerus dilancarkan Amerika Serikat meruntuhkan daya tahan Venezuela. Sanksi AS diantaranya membatasi ekspor minyak; akses ke sistem keuangan global, impor obat dan pangan; aset Venezuela dibekukan, pendapatan negara diputus. Selain itu, Venezuela dikeluarkan dari mekanisme kredit internasional dan dipaksa membeli barang lewat jalur mahal dan tidak stabil.

Di tengah hantaman krisis dan serangan ekonomi imperialis, Maduro memilih politik bertahan. Dengan tertatih – tatih berusaha meneruskan misi sosial pemerintahan Chavez sebelumnya. Namun, di saat bersamaan mempersempit demokrasi partisipatoris dan cenderung otoritarian. Padahal, nafas dari revolusi bolivarian adalah demokrasi partisipatoris. Saat desentralisasi tugas kepada rakyat desentralisasi ke tangan segelintir elit dan birokratisme menguat, di situlah peluang atau celah korupsi akan merajalela karena jauh dari pengawasan rakyat. Rakyat kembali mulai dijauhkan dari kekuasaannya untuk turut mengambil keputusan dan mengelola sumber daya di sekitarnya. Di sisi lain, dalam kondisi perang ekonomi, kontrol harga dimanipulasi oleh spekulan dan pasar gelap.

Birokratisme dan korupsi bukan masalah moral. Keduanya adalah problem sistemik warisan demokrasi ala kapitalisme yang bercokol selama bertahun – tahun, dan tengah coba diganti dengan demokrasi partisipatoris. Namun, masa transisi gagal melanjutkannya secara konsisten. Ini adalah kelemahan proyek transisi, bukan kegagalan sosialisme Abad 21.

Memori perjuangan rakyat Venezuela dalam melawan imperialisme dengan membangun Sosialisme Abad 21 adalah bekal untuk kembali memenangkan kedaulatan rakyat. Pengalaman juang itu tidak akan mudah lenyap begitu saja. Meski tertatih – tatih, kita bisa melihat bagaimana rakyat miskin Venezuela mulai turun ke jalan – jalan pasca serangan bom AS. Di saat media barat menyoroti para orang kaya Venezuela merayakan tindakan politik Trump, rakyat miskin Venezuela tumpah ruah di jalan menolak intervensi AS.

Di situlah, Sosialisme ala Amerika Latin (Sosialisme Abad 21) masih bergeliat menemukan jalannya. Perjalanannya bisa saja panjang dan penuh luka tapi bagi rakyat miskin Venezuela luka adalah pengalaman harian. Luka yang acap kali tumbuh menjadi perlawanan. Sejarah dunia telah mencatat, luka rakyat miskin dan tertindas telah membuahkan perlawanan anti kolonialisme yang melahirkan bangsa – bangsa merdeka, termasuk Venezuela. Semangat serupa juga telah berhasil menggagalkan penggulingan Chaves di tahun 2002. Dan, bukan tidak mungkin luka bertubi – tubi yang dilancarkan imperialis AS ke Venezuela, akan membuahkan perlawanan. Bukan hanya di Venezuela namun juga di dunia.


Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

OBOR MARSINAH: Marsinah fm siap jadi media centre

Marsinah FM, siap menjadi media centre OBOR MARSINAH buruh perempuan, tonggak demokrasi, pejuang upah, lambang solidaritas buruh, korban kekerasan seksual, korban militer ORBA, rakyat biasa

Mengupas Citra TNI di Mata Masyarakat

Ruang digital yang seharusnya menjadi ruang demokratis, justru dikendalikan oleh kekuatan modal dan militer. Internet bukan ruang yang netral: “dari awal, internet itu proyek militer,” ujar Evy.

Bekerja dan Mogok untuk Hidup

Voni. Ketika Berkunjung ke Taman Baca Anak  Bekerja, Jalan Keluar Dari Himpitan Ekonomi Menjadi buruh KBN Cakung sudah menjadi keinginan saya, jadi saya pun mencari

“KDRT Berujung Femisida, Bagaimana Melawannya?” 

Femisida atau pembunuhan atas dasar kebencian pada perempuan terjadi karena tingginya ketimpangan relasi kuasa antara laki laki dan perempuan. Dalam hal ini, banyak kasus femisida terjadi dengan diawali KDRT. Namun, adanya kecenderungan masyarakat menganggap KDRT sebagai “masalah rumah tangga masing-masing” dan bahkan “aib dalam rumah tangga” menyebabkan banyak kasus femisida tak dapat dicegah. Tingginya pengabaian akan peringatan KDRT yang dapat berdampak lebih jauh pada terbunuhnya perempuan menjadi salah satu penyebabnya.