Suara dari Gaza – Shahd Al-Naami

Dari beberapa tulisannya, Shahd bercerita tentang bagaimana kehidupan sehari-hari di Gaza seringkali beriringan dengan ketidakpastian.

Penulis: Shamira

Sumber Foto: shahd-ahmad-alnaami

Ditengah lajunya berita tentang konflik dan perang di Gaza, kita sering luput bahwa dibalik angka-angka kematian korban dan kekerasan kemanusiaan yang dilakukan Israel, tersembunyi berita tentang manusia yang menjalani kehidupannya hari demi hari. Dibalik itu, ada seorang perempuan muda Palestina bernama Shahd Al-Naami yang bersuara tentang bagaimana keadaan di gaza dengan menceritakannya dari sisi kemanusiaan.

Shahd dikenal sebagai penulis perempuan Palestina yang menuangkan hal-hal yang ia alami menjadi sebuah esai, yang kemudian banyak dipublikasikan melalui media Al Jazeera. Dalam tulisannya ia tidak berbicara dari kacamata politik maupun analisis geopolitik yang rumit. Namun ia menuliskan tentang hal-hal yang dekat dengan kehidupan: keluarga, rumah, kehilangan, dan upaya bagaimana untuk tetap bertahan ditengah situasi dimana Gaza tidak pernah benar-benar tenang.

Dari beberapa tulisannya, Shahd bercerita tentang bagaimana kehidupan sehari-hari di Gaza seringkali beriringan dengan ketidakpastian. Hal-hal kecil yang mungkin tidak disorot dalam berita sehari-hari, seperti listrik yang tiba-tiba padam, suara pesawat di langit malam, dan keluarga yang saling menunggu kabar menjadi bagian dari realitas yang ia tuliskan dengan jujur.

Salah satu tema yang paling sering muncul dalam karya Shahd adalah tentang kehilangan. Ia menulis dari pengalaman pribadi sebagai seseorang yang harus menghadapi duka di usia muda. Melalui esai-esainya, pembaca diajak melihat bagaimana kehilangan tidak hanya menjadi peristiwa satu waktu, tetapi sesuatu yang terus membentuk cara seseorang memandang dunia, keluarga, dan masa depan.

Tulisannya tidak hanya berbicara tentang kesedihan. Disela-sela cerita tentang konflik duka yang dirasakan, ada juga tentang harapan. Ia menulis tentang mahasiswa yang tetap pergi ke kampus, keluarga yang masih mencoba merayakan hari raya, dan orang-orang yang berusaha menjaga kehidupan tetap berjalan meskipun keadaan tidak mudah.

Dari sinilah gagasan untuk menghadirkan tulisan-tulisan Shahd dalam bentuk zine muncul. Zine ini berusaha mengumpulkan sebagian kisah yang pernah ia tulis, bukan sebagai laporan berita, melainkan sebagai potongan pengalaman manusia. Lewat format yang sederhana dan mandiri, zine ini ingin membawa pembaca lebih dekat pada suara seorang penulis muda yang menuliskan kehidupannya dari dalam Gaza.

Zine “The Writings of Shahd Al-naami” adalah kumpulan puisi, memoar, dan refleksi yang menceritakan pengalaman hidup di Gaza selama perang, tentang kehilangan, trauma, tetapi juga tentang harapan dan ketahanan rakyat Palestina. Membaca tulisan Shahd Alnaami bukan hanya tentang memahami sebuah tempat yang sering muncul di berita. Lebih dari itu, tulisan-tulisannya mengingatkan bahwa di tengah konflik yang panjang, selalu ada orang-orang yang tetap mencoba menceritakan hidup mereka dengan kata-kata, dengan ingatan, dan dengan harapan bahwa cerita itu akan sampai kepada pembacanya.

.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

PHK Itu Akhirnya Kutemui Juga

Hampir 12 tahun aku bekerja di salah satu perusahaan di KBN Cakung. Dengan latar belakang pendidikan yang tidak tinggi, aku mendapatkan pekerjaan menjahit sesuai keahlianku.

Suara Ibu Indonesia Kecam Kekerasan Aparat, Dukung Aksi Mahasiswa Tolak Revisi UU TNI

“Kehadiran ibu-ibu dalam gelombang protes ini bisa dilihat sebagai sesuatu yang genting: kalau ibu-ibu sudah turun ke jalan, pasti ada situasi kritis yang memaksa mereka bertindak. Secara naluriah, perempuan memiliki sifat melindungi keluarga, terutama anak-anak yang dicintainya. Dalam keadaan genting, seorang ibu akan bersedia ‘pasang badan’, menjadi tameng untuk melindungi anak-anaknya,” Karlina Supelli

PERINGATI HARI HAM SEDUNIA, BURUH USUNG 9 TUNTUTAN

Aksi ini akan diikuti berbagai elemen organisasi seperti KSPI, ORI KSPSI, KPBI, (K)SBSI, SPI, Organisasi Perempuan PERCAYA, organisasi pekerja rumah tangga, miskin kota, organisasi pemuda/mahasiswa, dan berbagai elemen yang lain. Selain di Jakarta, aksi juga akan dilakukan di berbagai kabupaten/kota lain di Indonesia.