Pernak – Pernik Kerja di Konveksi

Dulu, aku  buruh garment. Bertahun- tahun aku bekerja di sana dan tiba saatnya perusahaan tempatku berakhir tutup.  Aku pun mencoba bekerja di konveksi dengan produksi pakaian muslim wanita (baju gamis)

Bekerja di Konveksi dan perusahaan garment sangat jauh berbeda meski sama – sama memproduksi baju, karena hasil atau upah yang kita dapat benar- benar  tergantung dari tenaga yang kita -keluarkan. Benar -benar dari skill yang kita punya.

Sebenarnya bekerja  di konveksi sangat jauh dari sejahtera. Tidak ada tunjangan dalam bentuk apapun, tidak ada K3, BPJS, tunjangan kesehatan, dll. Penghasilan yang diperoleh sangat minim. Tempat kerja kurang layak untuk keselamatan kita

Kini,hampir  1 tahun sudah aku bekerja di konveksi..

Sistem penggajian di konveksi adalah borongan. Penghasilan yang kudapat jauh dari cukup karena harga baju per piecenya sangat murah, yaitu @Rp 5000. Kalau lagi dapat model baju yang simple, tidak banyak proses, penghasilan cukup lumayan, sekitar Rp 300.000 sampai Rp 400.000 per minggu, tapi kalau dapat order baju yang ribet, tambah lagi baju pesanan khusus, per hari hanya bisa menyelesaikan 5 baju (Rp 25.000), bayangkan 1 minggu hanya dapat penghasilan berapa?  Itupun kalau bajunya belum selesai sesuai target, belum boleh pulang tak peduli berapa jam waktu yang dibutuhkan. Harga baju per piecenya sama baik untuk baju simple atau ribet, tetap Rp 5000, bahkan ada yang Rp 3.000.

Yaah.. kalau mau dapat gaji sedikit besar, tenaga benar – benar dikuras. Nggak ada istirahat karena jam istirahat pun digunakan untuk menjahit. Tak jarang, untuk sekedar mengganjal perut lapar kami bawa cemilan.

Hari Minggu dan Hari Libur Tetap Masuk

Bila hari Minggu tiba, kami masuk seperti biasa tanpa dihitung lembur. Begitu juga dengan hari bertanggal merah di kalender kita. Di malam tahun baru, kita banyak warga mempersiapkan perayaan tahun baru, kami masih berkutat dengan pekerjaan. Hari itu, Selasa, 31,Desember 2019, saat gajian bersamaan dengan tahun baru. Gaji belum diberikan sampai  malam tiba, padahal si pengelola konveksi sudah janji, kalau hari Minggu masuk dan baju dijahit tepat waktu, gaji akan diberikan jam 17.00 WIB, tapi si pemilik ingkar janji. Di sela – sela hujan besar, bocor di mana-mana kami terus bekerja dengan rasa was – was takut kesetrum karena air menggenang akibat bocor. Di sisi lain pembuangan airnya mampet. Kami menanti gajian hingga pukul 20.30 WIB, itupun gaji yang diberikan hanya separuh, padahal  total gaji kami hanya kisaran 300 –  400 ribu per minggu.

“Kalo nggak terima keluar saja dari sini” Itu ucapan sang pemilik konveksi.

Posisi kami serba salah karena kami butuh kerja. Mayoritas buruh konveksi tempat aku bekerja di atas usia 35 tahun, yang terlempar dari kerja pabrik garment sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Ternyata, semakin lama kita hidup, semakin bertambah penindasan.

Oleh Anggi

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Berburu Makan di Jam Istirahat

[Best_Wordpress_Gallery id=”1″ gal_title=”Buruh Makan”] Waktu istirahat adalah waktu yang dinanti kaum buruh, di tengah target yang kian meninggi dari para bos. Demi target, buruh berburu

Hari Kelahiran dan Bunda Maria Itu

gambar : https://pin.it/5Lnlt7v Celia terlahir dari keluarga kaya yang bermukim di ibukota. Garis keturunannya cukup makmur, dia mewarisi silsilah perternak besar di Buenos Aires. Celia

Renungan Badha Ketupat

Di bangku kayu, kami berkumpul menganyam ketupat sambil nonton TV, pas menyala muncul berita perang dari luar negeri. Emakku bilang, “Dunia apa ini?”

How to eat the right amounts of healthy fats

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet ut et voluptates repudiandae sint et molestiae non recusandae. Itaque earum rerum hic

Buruh DKI Siap Kawal Kenaikan Upah

Hari ini, Rabu, 12 November 2014, siang hingga malam hari, FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik) bersama aliansi lain telah menghadiri aksi untuk pengawalan sidang UMP

KONSOLIDASI BAWAH POHON

Kita sebut ini dengan nama “Bawah Pohon”, ini adalah tempat makan siang buruh-buruh di KBN Cakung, di bawah pohon sekitaran pabrik, karena kantin tidak cukup