Orasi Buruh Perempuan Lajang

Sebuah pertarungan yang sering kali dihadapkan pada lawan yang tidak sebanding, yakni kemiskinan. Jutaan buruh gugur dalam kepasrahan dan cita-citanya berserakan tanpa pilihan. Karena itulah buruh tidak pernah menjadi sebuah impian. Karena tidak seorang pun menginginkannya.

Oleh Iroy Mahyuni

“Aku ini buruh perempuan. Tidak akan kubiarkan dunia melihat air mataku jatuh dari tebing pipi. Hanya boleh ada teriakan dan gema perjuangan, perlawanan, serta pertahanan hidup – seperti yang lain. Tidak ada yang akan tertawa di belakang punggungku. Aku akan tidur malam ini dan bangun besok pagi. Mungkin hujan akan turun dan aku akan berjalan di bawah jatuhannya. Jalan di depanku akan mengantar pada satu tempat yang menjadi tujuan jejak langkah. Biar bagaimana pun rupa rintangannnya, aku akan sampai seperti yang lain.”

Isi kepalaku berisik tanpa ada lawan bicara. Orasi berapi itu bahkan tidak menggerakkan bibirku biar satu incipun. Kenyataan mengambil seluruh kontrol emosi yang bahkan tidak terluapkan dengan suara. Demikianlah perasaan kehilangan pekerjaan, gaji tidak dibayar tuan, hutang tidak terlunaskan, tuntutan hidup mengirim pesan tagihan, dan pulang ke rumah tidak punya keberanian. Padahal menjadi buruh di sebuah kontraktor pertambangan saja sudah memakan hampir seluruh pertahanan hidup sebagai perempuan, dan aku hidup bertahun- tahun di antara mereka. Padahal aku sudah menjadi atasan dari ratusan laki-laki sebagai bentuk pembuktian bahwa pekerjaan yang sangat laki-laki tersebut sudah terpatahkan dan tidak lagi menjadi mitos menakutkan. Ada begitu banyak padahal lainnya yang menandai pencapaianku di tempat kerja. Dan semua itu berakhir melalui sebentuk pemberitahuan dadakan penutupan projek yang sangat disayangkan. Bahkan tragis dengan pemenuhan hak pekerja yang tidak dijalankan sebagai mestinya oleh perusahaan.

“Harusnya sebelum bekerja kalian pelajari terlebih dahulu perusahaan yang hendak kalian masuki itu seperti apa. Sehingga kalian dapat bekerja di perusahaan yang jelas. Tidak seperti ini,” komentar Bhabinkamtibmas memberikan masukan saat berkunjung ke lokasi kerja.

Ada begitu banyak kata harusnya bagi seseorang yang mendambakan kesejahteraan hidup. Demi kata harusnya itu, para buruh mengadu nasib di banyak jalan dan dengan beragam cara agar bekerja di perusahaan raksasa, memiliki jaminan kesehatan dan keselamatan kerja sesuai dengan kaidah pertambangan yang baik dan benar, diberikan tempat tinggal yang nyaman, disiplin kerja yang manusiawi, dan upah yang layak. Sebuah pertarungan yang sering kali dihadapkan pada lawan yang tidak sebanding, yakni kemiskinan. Jutaan buruh gugur dalam kepasrahan dan cita-citanya berserakan tanpa pilihan. Karena itulah buruh tidak pernah menjadi sebuah impian. Karena tidak seorang pun menginginkannya.

“Masih beruntung jadi ibu ini, perempuan lajang dan tidak ada beban keluarga.
Solusinya tinggal cari pasangan,” lanjutnya menambahkan gurauan.

“Hahaha,” tawanya menularkan gurauan seksis kepada yang lain.

Gelegar tawa mendorong caci maki pada kenyataan diri. Hanya ada sebotol air minum hampir kandas dan sepotong roti sisa setengah itu saja yang kupunya. Itu juga makanan dari site yang kubawa sampai ke bandara. Perjalanan menempuh sungai dan laut yang mengaduk perut itu tidak menyisakan banyak ruang untuk membawa keluhan. Aku tidak bisa menenggelamkan kenyataan yang mengantarkanku sampai ke ruang tunggu bandara yang sepinya bukan buatan. Jadwal penerbangan domestik dengan tiket penerbangan harga selangit yang kuperoleh dengan cara berhutang itu pun tidak menghadiahkan lena barang sejenak. Potongan akan tiba pada gaji pertama yang dijanjikan seorang teman. Sesaknya bukan main. “Sakit berhutang lebih sengsara menganggur. Sial datang mengganjal dosa. Mungkin ada yang terlewatkan dan kau mendapatkan peringatan. Ini pelajaran berarti.”

Melihatku tidak tertawa, mereka mendiamkan diri dan pertemuan dengar pendapat berakhir. Ketika semua nama memutuskan untuk pulang, aku membawa itu semua di dalam cangkang kepalaku. Seketika penderitaan hidup menjadi sangat betina di antara seluruh keluhan yang keluar dari muncung pekerja yang mendaku diri sangat jantan.
“Bahwa setiap manusia, laki-laki dan perempuan memiliki penderitaannya sendiri- sendiri adalah kebenaran. Diam atau menceritakannya adalah sebuah pilihan yang membedakan. Itulah kita hari ini,” ucapku memberikan salam perpisahan kepada yang lain.
Dalam perjalanan menuju pertarungan berikutnya, orasiku menggema tidak tertahankan. “Tahu apa mereka tentang buruh perempuan lajang yang menjadi pengangguran!” seruku dari atas tempurung kepala. “Tidak ada yang mereka ketahui!” terusku masih tanpa lawan tandingan.
“Jadi lelapkan dirimu!” tegasku. Nyatanya kelopak mata mekar bagai musim durian di penghujung tahun. Lebat bukan main.
“Ambil kopimu dan kandaskan segera!” teriakku kembali. Faktanya sakuku rata.
“Isi kampung tengahmu dan jangan sampai hilang tenaga. Pekerjaan pengganti harus dicari!” dengung seruan mendorong nyali.
“Hahaha!!!”

Dunia berputar dan aku tidak menjawab teman perempuan yang pernah menjadi anggota divisi di bawah monitoringku. Hanya saja pesannya terus melintas dan seakan keluar dari telepon genggam yang terus memberitahukan bahwa paket internetku akan segera habis. “Cepat habiskan makananmu. Sulit jika harus makan di pesawat,” bujuk seorang penumpang di belakangku pada anak perempuannya. “Tidak mau,” balasnya.

Aku mendengarkan percakapan itu tanpa menoleh. Semua yang terjadi di belakang punggungku terlihat begitu jelas tanpa perlu menggunakan kedua mata. Aku tidak perlu berbalik untuk menyaksikan seorang ibu berlarian mengajar anak kecil dengan satu sendok nasi berkuah di tangan kanannya.

“Ini ada ayamnya,” terus sang ibu melakukan negosiasi. Tidak ada yang peduli dengan usahanya. Bahkan suami yang hanya sesekali mengatakan ‘biarkan saja’. Tidak ada yang memahami kekacauan pikiran istri yang serba salah saat anaknya membuat keributan di dalam pesawat. Pasangan yang selalu menanggapi sesekali itu dipastikan tidak akan terlibat memberitahu anak perempuannya bahwa dilarang menyemburkan makanan dari mulut. Karena itu akan menciptakan sampah di mana-mana.

“Perempuan bahkan dipaksa harus mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Itu semua karena di kepala perempuan sudah ditanamkan kerja domestik dengan seluruh kewajiban di dalamnya. Tidak ada hak di sana. Karena itu pekerjaan mulia dengan surga sebagai balasannya. Itulah yang membuat kedudukan buruh perempuan lajang pengangguran kurasa lebih baik daripada mengutuk diri dalam diam!” seruku kembali berorasi.

“Apa kalian bodoh? Mata kalian buta? Semua itu terdengar jelas dari tarikan nafas tunggalnya yang berat. Ia bahkan takut anak perempuannya tidak makan dengan cukup. Sayang derita itu menyemai ilusi dalam kebahagiaan yang sangat manipulatif.”
Mataku liar ingin membentak suami yang terus fokus bermain game solitaire yang terdengar nyaring di daun telingaku. Sesekali ia berteriak tanpa sadar bila kalah dalam permainan.

“Ayah hebat sudah pasti menang,” puji istrinya menempelkan anak perempuannya yang telah kenyang.

Aku selesai dengan orasi pembelaan dari atas tempurung kepalaku. Ibu, ayah, dan anak perempuan itu tidak membutuhkan pertolongan. Setidaknya mereka tidak kelaparan dan tidak juga tampak bingung dengan tujuan dan pilihan hidup. Tidak ada alasan untuk dipedulikan. “Permisi,” ucap seseorang datang menempatkan tas jinjingnya sebagai pembatas dengan diriku.

Teleponnya berdering dan seketika berjalan ke pojok ruangan meninggalkan tasnya. Aku sama sekali tidak peduli dengan percakapan yang terjadi. Hanya saja keberadaan tas jinjing sialan itu sangat mengganggu keberadaanku yang duduk lebih dulu. Aku tidak ingin tertuduh melakukan pencurian di dalam kondisi tidak punya pilihan kehilangan pekerjaan. “Hei!” pekiknya tanpa menghiraukan penumpang lain di ruang tunggu. Pria itu terus berteriak dan menudingkan telunjuk pada lawan bicara yang tidak ada di depannya. Tindakan tidak berguna ini sering dilakukan tanpa sadar dan ruang tunggu tanpa banyak papan peringatan itu dibuat tidak berkutik.

Berselang menit ia kembali duduk dan tersenyum ke arahku. “Anak buahku tidak becus bekerja,” ceritanya meluncur tanpa bertanya apakah aku bersedia menjadi lawan bicaranya atau tidak. Menyunggingkan bibir 1 cm adalah respon paling sopan yang dapat terpikirkan olehku. “Kondisi sulit. Tidak tahu prioritas. Semua harus berkorban. Bukan begitu?” lanjutnya menawarkan pembicaraan.

“Binatang! Kau dengar ya! Aku baru saja di-PHK oleh pemilik perusahaan yang bahkan memberhentikan karyawannya saja harus mengirim seorang utusan yang tidak bisa mengambil keputusan. Seisi dunia kau beritahu rugi, seisi perutmu yang kenyang kau diam saja. Kau pikir hanya kau saja yang ingin sejahtera di dunia ini?” secara otomatis orasi dimulai. Lokasinya masih berada di atas tempurung kepala.

“Buruh-buruh menggila memenuhi tuntutan kerja. Kau menggajinya tidak seberapa untuk pekerjaan paling berbahaya nomor dua. Cari otakmu, taruh di tempurung kepala, baru kau bicara!” kekesalanku hampir mencapai puncaknya dalam sunggingan bibir yang bergerak 2 cm dan kaki menyilang mempertahankan ketenangan diri.

Orasiku terhenti tatkala bayangan tempat kerja yang kutinggalkan melintas di depan mata dan membentur tembok kaca. Di ujung dermaga yang dipisahkan laut dengan jarak satu setengah jam perjalanan itulah dukaku tersimpan. Harapan melunasi material bangunan untuk memperbaiki rumah sirna, rencana perjalanan merayakan wisuda adik bungsu menjadi kacau, serta mimpi untuk melanjutkan pendidikan tidak lagi terjangkau angan. Satu-satunya tempat menyelamatkan diri adalah lokasi pekerjaan baru untuk mengumpulkan modal. Mode hidup kembali ke awal setelah tidak ada persenan pertahanan hidup yang tersisa. Dan bibirku tidak bergerak 1 cm pun guna menahan ledakan di kedalaman dada.

“Tidak perlu ada kemarahan ataupun teriakan. Buruh perempuan lajang sudah harus berpikir panjang. Menyerah bukan spek perempuan sepertiku! Ini belum ada apa-apanya. Lebih sulit daripada ini sudah pernah terjadi. Apa yang aku takutkan? Tidak perlu itu!”

Mungkin hatiku tidak keberatan menerima orasi demikian. Walau agak canggung membayangkannya. Tentu semua orang menghindari situasi terburuk dan mencoba melewatinya dengan cara paling gagah dan berani.

“Aku perempuan. Aku tidak akan patah berkeping-keping!” seruku berkali-kali dan mengulang pekik yang sama. “Tidak ada yang membuatku tergeletak tanpa daya! Aku sudah menegakkan kepalaku dan mengarahkan lubang hidung ke langit biru. Tidak akan kubiarkan mendung mengacaukannya.”

Orasi bersambut kepada diri sendiri terus membuncah menakar kemampuan personal.

Tidak ada kekalahan yang didahului sikap menyerah. Walaupun kenyataan menyertai ingatan yang tidak akan melupakan gaji yang tidak dibayar perusahaan. Melawan tidak memiliki modal, memakan waktu sama saja memiskin diri, dan mencari pekerjaan pengganti adalah kepasrahan melihat peluang pertahanan hidup. Seseorang tidak akan datang menyelamatkanku. Aku harus terus bergerak menuju tempat baru untuk kembali bergulat. Bernafas lebih panjang untuk memastikan kehidupan dari bulan ke bulan atau esok kepada hari berikutnya.

“Aku adalah buruh perempuan lajang. Aku tidak boleh melupakannya,” orasiku menurunkan intonasi memberikan penghiburan di tengah hempasan gelombang yang mengajak berdamai.

Sayangnya, gelombang yang beralun menjemput ke bibir pantai itu tidak berhasil menarik perdamaian di antara pecahan karang.

“Sudah dua minggu berlalu. Aku bahkan memberi tambahan waktu satu minggu. Aku menagihnya baik-baik padamu,” pesan seorang teman yang memberikan pinjaman menghentikan orasi di kepalaku.

“Aku minta maaf temanku. Saat ini aku sedang dalam perjalanan ke tempat kerja baru. Gaji pertama masuk dan aku akan membayarnya,” balasku tak sanggup menemukan alasan lebih baik.

“Aku akan datang ke rumahmu dan mengambil sepeda motormu sebagai jaminan,” cepatnya mengirim balasan.

“Temanku, sepeda motor digunakan adik-adikku berangkat ke sekolah dan ke kampus.
Percaya padaku,” cobaku terlihat meyakinkan.

“Aku tidak akan meminjamkanmu uang jika aku tidak percaya,” balasnya. “Ambil apa saja asalkan jangan sepeda motor,” tegasku.

“Memangnya kau punya barang lebih berharga? Sudah kusarankan agar tidak perlu mementingkan pendidikan. Habis seluruh hasil pekerjaanmu dan tidak ada satupun yang menjadi jalan duit. Kau tidak akan kaya raya. Melainkan makin sengsara,” sambungnya menceramahi pilihanku.

Aku tidak mengubah posisi duduk. Orasi di kepalaku menganjak diri menjadi renungan. Selain buruh perempuan lajang yang menganggur, temanku menambah daftar panjang statusku, miskin, pengutang, dan merupakan generasi sandwich. Orasiku bergejolak ingin meyakinkan diri bahwa pendidikan adalah jalan satu-satunya merubah keadaan dari miskin menjadi kaya. Paling tidak dari si miskin yang bodoh menjadi si miskin yang sedikit lebih pintar. Sedikit kepintaran yang menguatkan pertahanan dari gempuran negara yang senang memelihara kemiskinan. Aku masih duduk dengan tenang. Tidak tersenyum adalah cara terbaik meredam gejolak tekanan beban. Tidak membiarkan orang lain membaca penderitaan di tebing wajah adalah kemenangan selain berorasi tanpa pendengar.

“Kehidupan harus berlanjut dan orang-orang tidak diperkenankan memandang rendah pada penderitaan buruh perempuan lajang!” seruku mendapatkan kembali ritme orasi di cangkang kepala.

“Orang besar harus menghadapi badai yang garang. Orang besar tidak membutuhkan pengampunan. Perempuan lajang yang menjadi orang besar itu tidak memiliki tradisi mandi kembang tujuh rupa membuang sial,” cobaku menekan keyakinan semakin dalam.
Rencana yang sibuk di kepala memberitahu isi hati untuk meregangkan diri pada hal- hal yang menjadi mungkin untuk dilakukan.

“Jangan memejamkan mata dan merenungkan beban berat. Hal buruk akan datang tanpa perlu diundang. Jadi jangan pejamkan matamu dalam renungan. Getaran di kedalam dada akan menggoyangkan pertahanan kelopak mata yang sedang menjalankan tugasnya menjaga stabilitas telaga,” musikalisasi isi hati menjeda orasi.

“Muka susah jangan dipelihara. Masalah tidak diundang sudah datang sendiri. Penderitaanmu jangan dikatakan. Karena itu membuat banyak orang senang. Hadapi duniamu dengan seluruh tragedi yang jika tidak terpeluk oleh kedua tanganmu, maka letakkan ia sebentar untuk kembali menjemputnya setelah sampai di tujuan,” sambungku mengalunkan kepingan harap.

“Lebih baik pecah di perut daripada pecah di mulut,” ingatku pada petuah ibu dan bapak saat mengiring anak perempuannya menempuh perjalanan tiga hari dua malam untuk sampai ke sebuah perguruan tinggi di pulau yang jauh dari rumah.

Peristiwa itu seperti bunga mimpi yang mengantar banyak sekali kecemasan jika besoknya aku tidak bangun dan gagal menjadi anak perempuan kebanggaan ibu dan bapak. Anak perempuan yang dibesarkan dengan seluruh pertaruhan hidup serba paspasan keluarga petani tidak diperkenankan mundur dalam pertempuran. Lebih baik aku mati bersimbah darah dalam kekalahan.

“Penumpang yang membawa anak dipersilakan masuk ke pesawat lebih dulu,” pemberitahuan itu menunda musikalisasi isi hati untuk memanjangkan usulan dan harapan.

Ibu dengan anaknya yang sudah kenyang itu berjalan di sampingku. Suaminya melenggang sambil terus memantau permainan di telepon genggam miliknya. Keduanya seperti dua orang asing yang tidak sengaja bertemu dalam satu penerbang dengan tujuan yang sama. Atasan arogan sialan di sampingku membuat barisan pertama sebagai penumpang kelas bisnis. Ia berlalu tanpa merasa perlu meminta maaf padaku yang sangat terganggu dengan teriakan dan ocehannya. Orang kaya tidak membutuhkan rasa keberatan apalagi bersalah. Mereka harus menemukan celah untuk melakukan pengawasan dan penekanan. Dapat kubayangkan seorang bawahan yang bekerja mati-matian tengah menunggu kedatangan sang tuan dengan cemas. Tidak ada kebenaran yang menyelamatkannya di sana. Aku sudah lebih dulu berada di situasi demikian. Sehingga dapat dirunut dengan jelas bagaimana kecemasan itu membuat pekerjaan serba salah dan caci maki menghujani diri sampai sang atasan kehabisan energi.

Aku melihat maaf yang selalu tidak berguna dan jatuh sia-sia. Pada langkah yang membawa rekahan bibir 1 cm itu, kutegaskan tujuan dan pertahanan buruh perempuan lajang sekali lagi.

Saya adalah perempuan independen, progresif, berani, dan setara. Senantiasa berusaha adil sejak dari dalam pikiran sampai kepada perbuatan. Dalam berjuang, kalah biasa, mundur tidak akan.

Profil singkat yang kutuliskan pada pengantar CV itu membawa tujuan keberangkatan pesawat ke pertarungan selanjutnya. Lawan-lawan berpenis adalah karakter dominan untuk pekerjaan yang dikatakan sangat laki-laki, yakni buruh kontraktor pertambangan. Tidak ada belas kasih di antara kepentingan untuk menerima manfaat dari kebaikan yang tidak akan pernah tulus. Maka dari itu tidak dibenarkan mengucapkan terimakasih pada pekerjaan yang sudah semestinya dilakukan tanpa kesalahan. Kau mendapatkan bayaran untuk pekerjaan yang diselesaikan dengan penuh tanggungjawab. Tangis tidak memecahkan persoalan dan tidak memberikan pertolongan. Dan kenyataan itu kembali menyadarkanku bahwa perintah patuh, disiplin, pelayan, dan kesabaran yang diajarkan kepada anak perempuan adalah pembodohan yang tidak bertujuan menyelamatkan. Biar terlambat, aku senang berhasil menyelamatkan harga diri sebagai manusia yang lahir dengan jenis kelamin perempuan.

“Kuucapkan selamat kepada buruh perempuan lajang pengangguran yang terus berlawan mengalahkan tirani patriarki dan bertahan mengikuti tantangan hidup sebagai manusia – dalam suka dan duka.”

Orasiku terhenti saat menyebutkan nomor kursi kepada salah satu pramugara. Ia meminta izin membantuku menaruh barang bawaan dan aku menolak.

“Tidak terimakasih. Sungguh menaruh barang bawaan sendiri tidak membutuhkan tenaga berlebih,” jawabku tidak bermaksud merendahkannya.

Ia tersenyum dan aku membawa diri pada sebuah kursi di samping jendela. Pesawat bergerak dan katup mataku berdoa untuk diri dan rentetan masa depan yang ingin kuselamatkan. Pertaruhanku mengudara dan meninggalkan kemenangan melewati ruang tunggu dengan air muka tidak terbaca. Aku duduk dengan tenang dan tidak perlu melakukan senyuman.

“Jangan sampai pecah di pelupuk mata dan menjadi telaga di dagu. Kau itu buruh perempuan lajang yang akan mati dengan gagah dan berani. Tidak ada yang dapat membuatmu tergeletak tanpa daya. Hidup buruh perempuan lajang!” seruku menutup orasi di atas cangkang kepala.

Panggung orasi kehidupan itu senyap dalam deru tujuan yang melepaskan diri di ujung landasan pacuan. Buruh perempuan tidak mengucapkan selamat tinggal. Sampai bertemu dan bertarung kembali.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Melawan Calo Bandit

Lami, berdemo depan PT. Myungsung/dok.Marsinah FM Melawan Karena Benar Jika kami ditanya kenapa berani melawan pengusaha garmen? maka kami  menjawab,karena itu hasil penindasan yang dilakukan

Bukan Suratan

Meski rintih perih tak redup,
Majikan makin bringas tanpa jeda,
Dipanggilnya PRT-PRT lain,
Diperintahnya mereka untuk merantai kaki dan tanganku di kandang anjing,
Dengan segala sumpah serapah.