Layar

‘Layar’ berupa pembacaan karya sastra pendek tentang persoalan dan perjuangan buruh perempuan, dari sastra popular atau karya kiriman pendengar. Mengudara tiap hari Rabu dan Sabtu malam jam 8 sampai 9 malam. Lamoy Farate, dari Sanggar Tipar, adalah pengelolanya.

lami

Lamoy, demikian nama udaranya. Tak hanya gemar membaca naskah novel di program siaran Layar namun juga gemar berteater, membaca puisi, menulis puisi dan lain sebagainya. Jadi tak perlu heran, bila tengah malam anda terbangun karena terkejut mendengar suara Lamoy berteriak. Bukan karena sedang marah atau histeris, tapi itu sedang latihan vokal.

Lamoy sempat mewarnai media massa dengan aksinya melawan bos di tempat kerja ketika tidak diperbolehkan sholat di ruang detektor. Akibat dari aksinya, ia kehilangan pekerjaan. Namun buat Lamoy itu bukan hal memalukan yang harus disesali. Lebih malu lagi kalau tak bisa melawan kebengisan para bos yang semena-mena pada kaum buruh.

Novel yang paling digemari Lamoy adalah karya Pram, tak heran Lamoy senang sekali ketika mendampu program siaran layar yang merupakan program membacakan novel, puisi dan karya sastra lainnya. Ia sudah pernah membacakan novel Bumi Manusia dan kini sedang membacakan novel Arus Balik. Harapannya, ia tetap bisa berkarya dan berjuang meski banyak hal menghadang. Selain berkarya, anak semata wayang adalah kesayangannya. Anak lelaki yang kini berusia 9 tahun tersebut ia harapkan bisa menikmati hidup yang jauh lebih baik.

 

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Foto oleh Jala PRT

DPR RI Tak Mau Akui PRT Sebagai Pekerja

RUU PPRT sudah diperjuangkan selama 20 tahun dan DPR masih tidak mau mengakui PRT sebagai pekerja dan mengesahkannya RUU PPRT menjadi UU, padahal sebagai pekerja, para PRT mengalami pelanggaran atas hak-haknya baik sebagai manusia, pekerja dan warga negara.

Bermula Dari Serpihan Semangat Juang

Rapat Akbar FBLP  pada tahun 2011 Oleh Dian Septi Trisnanti  untuk semua kawan yang mendukung dan terlibat dalam perjuangan FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik) Ini

Sajak untuk Atma

  Bila memang waktu sudah tidak berarti, Dan hidup sudah tiada lagi, Dan kematian menghampiri, Maka hiduplah dalam ketiadaanmu, Hiduplah dalam matimu. Selamat jalan kamerad,

Dear, 30 September 2019

Aku AL, Pelajar STM di daerah Kabupaten Bogor. Aku bersama ke-3 temanku berencana akan mengikuti demo di depan gedung DPR/MPR RI di Jakarta. Waktu itu