Layar

‘Layar’ berupa pembacaan karya sastra pendek tentang persoalan dan perjuangan buruh perempuan, dari sastra popular atau karya kiriman pendengar. Mengudara tiap hari Rabu dan Sabtu malam jam 8 sampai 9 malam. Lamoy Farate, dari Sanggar Tipar, adalah pengelolanya.

lami

Lamoy, demikian nama udaranya. Tak hanya gemar membaca naskah novel di program siaran Layar namun juga gemar berteater, membaca puisi, menulis puisi dan lain sebagainya. Jadi tak perlu heran, bila tengah malam anda terbangun karena terkejut mendengar suara Lamoy berteriak. Bukan karena sedang marah atau histeris, tapi itu sedang latihan vokal.

Lamoy sempat mewarnai media massa dengan aksinya melawan bos di tempat kerja ketika tidak diperbolehkan sholat di ruang detektor. Akibat dari aksinya, ia kehilangan pekerjaan. Namun buat Lamoy itu bukan hal memalukan yang harus disesali. Lebih malu lagi kalau tak bisa melawan kebengisan para bos yang semena-mena pada kaum buruh.

Novel yang paling digemari Lamoy adalah karya Pram, tak heran Lamoy senang sekali ketika mendampu program siaran layar yang merupakan program membacakan novel, puisi dan karya sastra lainnya. Ia sudah pernah membacakan novel Bumi Manusia dan kini sedang membacakan novel Arus Balik. Harapannya, ia tetap bisa berkarya dan berjuang meski banyak hal menghadang. Selain berkarya, anak semata wayang adalah kesayangannya. Anak lelaki yang kini berusia 9 tahun tersebut ia harapkan bisa menikmati hidup yang jauh lebih baik.

 

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

1965: Luka yang Masih Menganga, dan Ironi antara Nama Soeharto dan Marsinah

Kini, wacana pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional kembali menguji nurani bangsa. Soeharto adalah arsitek sistem kekuasaan yang menindas kebebasan berpikir, membungkam pers, dan menyingkirkan lawan politik. Dan ironinya, nama itu disebut bersamaan dengan Marsinah, buruh perempuan yang dibunuh di bawah sistem represif yang sama.

12 Smart ideas for breakfast on the go

At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti quos dolores et quas molestias excepturi sint occaecati

Tenda Perjuangan Petani Rembang

tenda perjuangan/dok. politik rakyat Oleh : Thin Koesna Menanam  Adalah  Melawan Sebelum mendirikan Tenda Perjuangan ibu petani  Rembang ini melakukan aksi  memasung kaki mereka dengan

Jalan Terjal Mencari Keadilan

Sore yang cerah, angin yang semilir, gemerisik suara dedaunan menemani setiap langkah kakiku Di setiap putaran, beberapa ekor kucing gembul tampak rebah bersantai di bawah

Buruh Perempuan Itu adalah Septia Dwi Pertiwi

Tidak hanya dilarang berjualan, Septia dan rekan kerjanya yang lain harus melakukan pekerjaan tanpa cacat alias zero mistake. Ketidakpuasan klien adalah landasan dasar untuk melakukan pemotongan gaji. 

“Misalkan ada klien komplain kita dipotong gajinya. Entah klien itu sudah kita bereskan, permasalahannya sudah kita bereskan atau belum itu tetap kita potong gaji. Karena klien komplain, beliau tidak suka kalau ada klien yang komplain jadi seperti itu. Jadi ibaratnya zero mistake gitu,” paparnya.

“ … [S]aya tetapkan tanggal 20 Februari sebagai Hari Pekerja Nasional.” (3)

Oleh  Syarif Arifin Baca juga http://dev.marsinah.id/saya-tetapkan-tanggal-20-februari-sebagai-hari-pekerja-nasional-1/ http://dev.marsinah.id/saya-tetapkan-tanggal-20-februari-sebagai-hari-pekerja-nasional-2/ 1985: Demokrasi tapi profesional? Dalam Kongres II November 1985 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, FBSI dibubarkan diganti