Demi Bertahan Hidup, Pemulung Dipaksa Tidak Mengeluh

Pak Boneng, salah satu pemulung di Sukapura.

Pandemi covid-19 begitu berdampak bagi lapisan masyarakat luas, apalagi untuk orang-orang yang mengais rejeki harian guna menyambung hidup. Salah satunya adalah pemulung. Seperti sepenggal cerita yang saya tuliskan hari ini, sebut saja ia Ibu Murtiah, 40 tahun, warga Sukapura, Jakarta Utara.

“Sebelum ada corona saja penghasilan kami tidak menentu, pendapatan bisa mencapai Rp 300.000,- dalam satu minggunya, tapi selama adanya corona, pendapatan turun drastis. Karena sejak diberlakukannya PSBB, warga banyak yang tidak keluar rumah, barang-barang bekaspun berkurang. Sekarang, kadang Rp 100.000,-, bahkan Rp 40.000,-. per minggu, dari hasil penjualan botol-botol aqua bekas yang diambilnya dari rumah-rumah warga. Dulu bisa Rp 6000 per kilonya, sekarang hanya Rp Rp 1000 per kilonya,” celoteh Murtiah panjang lebar, ketika saya mampir ke kosnya yang berukuran 3 x 3 meter guna mendistribusikan sembako sekedar untuk meringankan beban hidup.

“Yah, terpaksa dicukup-cukupin, gali lubang tutup lubang, minta panjar dulu sama pengepul, nanti dibayar saat barang dijual.”

Murtiah, sudah 20 tahun lebih bertahan hidup di Jakarta dan bekerja sebagai pemulung di wilayah Gg Pancong, Sukapura, Jakarta Utara. Ibu dari dua orang anak, yang suaminya kerja serabutan. Untuk membantu suami terpaksa jadi pemulung, karena tidak ada pekerjaan lain. Bantuan pemerintahpun tidak pernah ada.

“Anak pertama saya putus sekolah karena tidak ada biaya, hanya sampai SMP, itupun ijazah belum bisa saya tebus. Anak kedua saya SD, tapi juga tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah karena diharuskan belajar dari rumah, kami tidak sanggup membeli kuota. Jangankan untuk kuota, untuk makan saja susah,” ucap Murti lirih, sambil mata menerawang ke jalanan depan kosnya yang ramai dengan orang berlalu – lalang.

Hal senada pun dikatakan Boneng, kakek berusia 70 tahun, asli Jakarta. Semenjak usia muda, ia sudah menjadi pemulung di wilayah Sukapura. Ia tinggal di sebuah gang sempit yang jauh dari kata bersih, apalagi sehat.

“Sejak saya terkena penyakit sejenis lepra, saya berhenti memulung. Bukannya tidak mau mulung lagi, tapi saya sudah tidak kuat. Untuk berjalan saja susah, jangankan untuk berobat. Saya tidak punya uang, makan sehari-hari saja dari anak-anak saya yang kerjanya juga serabutan, apalagi sejak adanya corona ini, sulit sekali mencari rupiah,” tambah Boneng.

“Sebenarnya, rasa takut itu ada karena wabah ini. Tapi mau gimana lagi, pemerintah buat PSBB, tapi tidak menepati janji untuk memberikan bantuan sosial guna meringankan beban kebutuhan sehari-hari,” keluhnya.

Boneng hanya bisa berharap pemerintah tidak terus mengabaikan rakyat kecil, rakyat miskin, yang hanya jikalau ada Pemilu saja dilibatkan ikut andil untuk memilih.

Oleh Anggie

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Mengenal Pemikiran Clara Zetkin, Pencetus Hari Perempuan Internasional

Clara Zetkin adalah pejuang perempuan asal Jerman yang lahir pada tahun 1857. Ia dikenal sebagai tokoh perempuan sosialis yang sangat berpengaruh dalam sejarah gerakan buruh dan gerakan perempuan. Clara aktif sebagai kader politik di Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) serta berperan sebagai editor surat kabar partai yang secara khusus mengangkat isu-isu perempuan dan buruh.

Teh Pahit di Kertamanah: Menipisnya Lahan dan Ketidakpastian Hidup Buruh

Sebagai buruh borongan, penghasilan Dedi bergantung pada jumlah pucuk teh yang bisa dipetik. Dengan sistem upah per kilogram, pendapatannya semakin menurun seiring berkurangnya luas lahan yang bisa digarap. Harga pucuk teh sendiri berkisar antara Rp500 hingga Rp800 per kilogram, tergantung kualitasnya. Total sebulan, Dedi hanya memperoleh sekitar Rp2 juta. Jika lahan semakin menyusut, penghasilannya pun bisa semakin tergerus.  

Partai Buruh Exco Maluku Utara: “PT. KMS Harus Bayar Upah Buruh”

Bung Yuzril menambahkan ” Kami akan membawa kasus ini melalui Exco Pusat Partai Buruh ke Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Hukum Dan Ham karena merupakan kejahatan terhadap Hak Asasi Manusia. Serta akan menggerakkan Lembaga Bantuan Hukum kami untuk bersama dengan LBH Marimoi memproses hukum Direktur PT.KMS”

Kesehatan Ibu Hamil

Tiga hari lalu, tepatnya hari Selasa, pukul 13:00, langit gelap dan hujan deras. Tampak, beberapa relawan posko sudah sibuk dengan tugasnya menjadi panitia diskusi publik

“Dan …Akhirnya Saya Keguguran”

Oleh Lami (Lamoy Farate)  Pagi itu, kala mentari bersinar malu – malu, rombongan bus kawan-kawan dari Jakarta menuju Karawang untuk menghandiri KPP (Konfrensi Prempuan Pekerja)