[

“Ketika kita ditinggalkan sendirian di belahan bumi barat, 150km dari Amerika Serikat. Kita memutuskan untuk terus melangkah maju,”
Memimpin setelah revolusi lebih sulit ketimbang menggulingkan pemerintahan tirani. Perjuangan Fidel Castro dalam memimpin Kuba tersebut dipotret melalui cuplikan-cuplikan yang dirangkai menjadi sebuah film dokumenter singkat 100 Anos Con Fidel. Film tersebut diputar dalam sebuah acara peringatan satu abad kelahiran Fidel Castro yang digelar Kedutaan Besar Kuba untuk Indonesia. Peringatan itu digelar di Jakarta pada Kamis, 13 Agustus 2026 di Jakarta atau tepat 100 tahun setelah kelahiran Castro.
Terlahir dari keluarga pemilik perkebunan yang kaya, Fidel Alejandro Castro Ruz, justru memilih untuk berjuang bagi rakyat tertindas. Setelah melalui perjuangan unjuk rasa politik dan perlawanan bersenjata yang gagal, Ia mendirikan pemberontakan Gerakan 26 Juli (Movimiento 26 de Julio). Tokoh revolusioner legendaris Ernesto “Che” Guevera bergabung dengan gerakan ini ketika bertemu Castro di Mexico. Gerakan 26 Juli bersama dengan Partai Sosialis Popular dan Directorio Revolucionario 13 de Marzo akhirnya berhasil menggulingkan diktator militer Fulgencio Batista pada 1 Januari 1959. Setelahnya, Fidel Castro menjadi pemimpin pemerintahan revolusioner. Fidel Castro memimpin Kuba selama hampir 49 tahun sebagai perdana menteri (1959–1976), presiden (1976–2008), dan Sekretaris Pertama Partai Komunis Kuba (1961–2011).
Film dokumenter selama 30an menit tersebut menangkap gagasan-gagasan Castro dalam memimpin masa sulit setelah gerakan revolusioner itu memegang kendali pemerintahan. Sejak revolusi Kuba, setidaknya pemerintahan Amerika Serikat telah berkali-kali berupaya untuk menggulingkan pemerintahan tersebut melalui upaya kudeta, invasi, dan pembunuhan terhadap Fidel Castro.
Untuk Dunia yang Lebih Baik
Film itu dibuka dengan gambaran sebuah cita-cita revolusi Kuba. Ia mengutip video pidato Fidel Castro yang menekankan bahwa revolusi Kuba merupakan perjuangan untuk membela hak atas dunia yang lebih baik. “ “Fidel mengabdikan hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan, kedaulatan, dan penentuan nasib sendiri bagi seluruh rakyat di dunia,” kata Duta Besar Kuba untuk Indonesia Dagmar Gonzales Grau sesaat sebelum pemutaran film.
Rakyat Kuba mengalami setidaknya tiga tersulit dalam membangun revolusi sosialis. Pertama, setelah merebut kekuasaan, pemerintah revolusioner mendapat warisan kemiskinan struktural yang mengakar akibat dominasi imperialisme AS. Sistem ini memaksakan Kuba menjadi negara dengan pertanian monokultur dengan perkebunan raksasa (latifundia) untuk melayani kebutuhan gula negara adidaya itu. Hanya 3 persen petani Kuba di pedesaan memiliki tanah, banyak terserap dalam industri gula sebagai pemanen yang bekerja musiman dan menganggur setelahnya.
Akibatnya, hampir 35% angkatan kerja menganggur, dan di pedesaan, pendapatan tahunan rata-rata hanya USD 91, lebih 75 persen rumah di pedesaan gubuk kayu, dan hanya 2% yang memiliki akses air mengalir serta 9% yang menikmati listrik, hanya 4% penduduk pedesaan yang makan daging, 3% makan roti, dan kurang dari 20% makan telur. Dampaknya pada kesehatan sangat fatal: tingkat harapan hidup hanya 59 tahun, dan angka kematian bayi mencapai 60 per 1.000 kelahiran hidup, sementara 24% populasi masih buta huruf.
Dalam masa-masa tersebut, diceritakan bagaimana Castro berpidato menjelaskan soal revolusi Kuba dan program-program revolusionernya. Castro menyebut bahwa revolusi Kuba menyasar rakyat dan patriotisme Kuba beriringan dengan internasionalisme. Selain itu, film itu menjelaskan Castro ketika mengumumkan sejumlah pengambilalihan perusahaan-perusahaan asing oleh negara (nasionalisasi). Ketika itu, perusahaan AS menguasai 90% layanan telepon dan listrik, 50% kereta api, dan 40% produksi gula.
Ketika itu, sejumlah program dilancarkan untuk mengatasi akar kemiskinan struktural itu, di antaranya reforma agraria, sentralisme ekonomi dengan nasionalisasi perusahaan asing, investasi pada SDM termasuk pemberantasan buta huruf, pelayanan kesehatan universal, dan reformasi universitas.
Sosialisme yang Sendirian di Pelupuk Mata Amerika Serikat
Masa sulit kedua bagi rakyat Kuba dalam membela revolusi adalah ketika Uni Soviet runtuh. Pada masa perang dingin, Kuba menjual sejumlah komoditas pertanian ke Uni Soviet dan sebagai gantinya mendapatkan minyak dalam harga murah untuk menggerakan ekonomi.
Setelah Uni Soviet bubar, Produk Domestik Bruto (PDB) Kuba merosot 35% hanya dalam tiga tahun (1990–1993), kapasitas manufaktur turun hingga 90%, konstruksi 74%, dan pertanian 47%. Total impor anjlok 75%, termasuk impor mesin dan peralatan transportasi yang turun 91%, bahan bakar dan pelumas 65%, serta makanan dan minyak 51%. Pasokan minyak dari Rusia menyusut dari 13 juta ton pada 1989 menjadi hanya 1 juta ton pada 1992, menyebabkan pemadaman listrik bergilir selama 8–12 jam sehari, pabrik lumpuh, dan transportasi umum lumpuh. Rata-rata asupan kalori penduduk turun sepertiga, dan banyak orang kehilangan berat badan hingga 5,5 kg. Selain itu, Kuba kehilangan 86% perdagangan dan investasinya, dan harus berjuang untuk bertahan di tengah blokade AS yang diperketat, tanpa akses ke pinjaman internasional.
Tapi rakyat Kuba tidak tinggal diam. Fidel Castro dalam pidatonya, sebagaimana ditampilkan dalam film itu menyampaikan, “Ketika kita benar-benar tertinggal sendiri di Barat, 150 km dari AS, kita memutuskan untuk maju. Hidup Kuba!”
Selama Periode Khusus, pemerintah Kuba mengambil langkah-langkah darurat yang pragmatis. Di antaranya melegalkan dolar AS, membuka izin pariwisata untuk swasta, mendorong pertanian pangan (termasuk pertanian organik perkotaan), impor 1,2 juta sepeda dari Tiongkok. Semua kebijakan ini dibarengi dengan mobilisasi politik melalui Parlemen Buruh yang melibatkan 3 juta pekerja dalam diskusi nasional, hingga reformasi diterima rakyat meski sangat berat, dan Kuba berhasil menghindari kelaparan serta keruntuhan total, meskipun meninggalkan luka berupa ketimpangan.
Film peringatan 100 tahun Fidel Castro itu juga menggambarkan bagaimana interaksi akrab antara Fidel Castro dengan Presiden Venezuela Hugo Chavez. Setelah terpilih pada 1999, Chavez menjadikan sosialisme sebagai arah pembangunan Venezuela dan membangun kerja sama erat dengan Kuba.
Dalam jatuh bangun pembangunan bangsa Kuba itu, film dokumenter itu juga menggambarkan prestasi dan pencapaian yang diraih. Di antaranya adalah pencapaian Kuba dalam dunia medis, olahraga, dan pendidikan.
Film itu menyebutkan bahwa Castro menegaskan patriotisme Kuba bersifat internasionalisme. Dalam dunia medis, Kuba dikenal banyak memberikan bantuan dokter pada lokasi-lokasi bencana dan bahkan pada masa sulit seperti ketika wabah EBola.
Duta Besar Republik Kuba untuk Indonesia Dagmar González Grau dalam pidato pembukaan 100 tahun Fidel Castro]
Fidel yang Tidak Tergantikan dan Tantangan Kuba, Periode Istimewa Ke-2?
Film dokumenter itu ditutup dengan pidato Raul Castro setelah transisi kekuasaan. Raul merupakan adik Fidel Castro sekaligus Presiden Kuba 2008-2018 yang menggantikan Fidel. “Saya menerima tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya dengan keyakinan bahwa panglima tertinggi revolusi Kuba hanyalah satu. Fidel adalah Fidel. Kita semua tahu itu dengan baik. Fidel tak tergantikan,” ujar Raul Castro. Pidato Raul Castro dalam film itu juga menyebutkan, bahwa perjuangan revolusi akan terus dilanjutkan.
Peringatan 100 tahun kelahiran Fidel Castro tiba saat pemerintahan revolusioner Kuba masih terus mengalami gangguan dari Amerika Serikat. Setelah kembali menjadi presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melakukan intervensi pada sekutu dekat Kuba, Venezuela, dengan menculik Nicolas Maduro yang saat itu menjabat sebagai presiden. Pada Januari 2026, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menyebut Kuba sebagai “ancaman luar biasa dan tidak umum” bagi Amerika serikat.
Berdasarkan perintah itu, Trump mengancam akan menerapkan tarif impor bagi negara-negara yang mengirimkan minyak pada Kuba. Akibatnya, sumber minyak utama Kuba, Venezuela dan Meksiko, menghentikan pasokan minyak. Trump bahkan mengusulkan, “pengambilalihan bersahabat” untuk memaksa Kuba mengganti pemerintahannya. Akibat blokade itu, PBB melaporkan adanya gangguan pada produksi pangan, ketersediaan obat, air bersih, dan pasokan listrik. Miguel Díaz-Canel menyebutkan upaya perundingan telah berlangsung namun menghadapi kebuntuan. Dalam hal ini, pidato Fidel Castro dalam film dokumenter tersebut kembali menemukan relevansi.
Tapi seperti yang Castro bilang, Kuba tidak diam dan terus bergerak maju. Dalam artikelnya, Cuba after Six Months of Oil Blockade, Prashad menyebutkan bahwa negara itu telah mulai mendiversifikasi sumber impor dan energinya. Kontrak dengan sejumlah produsen, pembelian bersama negara lain di Karibia, dan cadangan penyimpanan regional dinilai mampu menekan biaya sekaligus menahan guncangan gangguan pasokan yang tiba-tiba. Di sisi teknis, kerja sama teknologi membantu menstabilkan peralatan pembangkit listrik tua sembari membangun kapasitas baru. Dalam jangka menengah, jawaban ada pada energi terbarukan yang terdesentralisasi.
Rakyat Kuba telah bertahan dari tekanan selama enam dekade melalui organisasi sosial, solidaritas internasional, dan daya tahan yang luar biasa. Namun, daya tahan tersebut tidak boleh diromantisasi. Jalan keluar yang adil bukanlah isolasi, melainkan penghentian sanksi ekonomi dan kerja sama internasional yang berlandaskan kesetaraan.
Jalan itulah yang dapat menyalakan kembali lampu-lampu di Kuba, sekaligus menjaga hak kedaulatan bangsa-bangsa. Di tengah gempuran imperialisme Amerika Serikat dan campur tangannya pada negara-negara berkembang, termasuk Kuba dan Venezuela, bangsa-bangsa di dunia ini pada dasarnya memiliki, seperti yang diungkapkan Castro, hak untuk dunia yang lebih baik; termasuk dalam kedaulatan menentukan pembangunannya masing-masing demi kesejahteraan rakyatnya.
Sanksi sekunder dan ancaman tarif Amerika Serikat merupakan preseden berbahaya yang harus dihentikan. Intervensi itu hanya menegaskan bahwa negara adidaya seolah berhak mendikte mitra dagang sah bagi negara-negara lain. Oleh karena itu, membela hak Kuba untuk membeli energi dan bebas berdagang adalah bagian dari upaya mempertahankan tatanan internasional yang demokratis.
Semangat internasionalisme yang diperjuangkan Fidel Castro juga kembali menemukan ruang dalam seruan untuk solidaritas antar bangsa yang dibutuhkan guna melawan bentuk penjajahan melalui blokade ekonomi dari negara-negara hegemonik terutama pada negara-negara berkembang. “Ia teguh menentang kolonialisme, eksploitasi, dan ketidakadilan, sambil memajukan pembangunan manusia dan kerja sama internasional, selalu dengan keyakinan bahwa dunia yang lebih baik itu mungkin,” kata Duta Besar Dagmar Gonzales Grau.
Daftar Pustaka
Al Jazeera. (2026, 30 Juni). Cuba’s foreign minister observes ‘no progress’ in US negotiations. https://www.aljazeera.com/news/2026/6/30/cubas-foreign-minister-observes-no-progress-in-us-negotiations
Prashad, V. (2026, 14 Agustus). Cuba after six months of the oil blockade: Crisis and the road to recovery. CounterPunch. https://www.counterpunch.org/2026/08/14/cuba-after-six-months-of-the-oil-blockade-crisis-and-the-road-to-recovery/
Yaffe, H. (2020). We are Cuba!: How a revolutionary people have survived in a post-Soviet world. Yale University Press.











