Pasca Tragedi Ledakan Smelter IWIP, Buruh Dinilai Perlu Tingkatkan Kekuatan Politik

Yuzril Muksin, Ketua Exco Partai Buruh Provinsi Maluku Utara, saat diwawancarai menyampaikan, kondisi kerja di kawasan IWIP sangat tidak manusiawi. "Buruh-buruh di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park dipaksa kerja dengan jam kerja yang panjang. Jam kerja yang panjang ini merupakan faktor yang menyebabkan kecelakan kerja itu bisa terjadi. Tragisnya, upah buruh IWIP tidak sesuai dengan apa yang mereka kerjakan." ucapnya.

Mengawali tahun 2023, ledakan smelter di kawasan IWIP kembali terjadi dan berujung tragis. Pasalnya, ledakan smelter tersebut mengakibatkan tujuh orang terluka. Tubuh mereka terbakar, dua di antaranya diterbangkan ke Jakarta untuk dirawat.

Banyak pihak menilai, ledakan smelter yang mengakibatkan kecelakaan kerja (kecelakaan tambang) merupakan akibat dari buruknya pengelolaan K3 (keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan). Namun, fakta menunjukkan kepada kita semua bahwa tragedi itu bukan semata karena buruknya pengelolaan K3.

Hal yang paling fundamental ialah karena adanya kepemilikan alat produksi yang hanya terpusat pada segelintir orang. Akibatnya, buruh yang menjadi komoditas penting bagi pengusaha dan tidak dijamin hak-haknya. Proses produksi menjadi dikuasai pemilik alat produksi (pemodal) demi tujuan profit tanpa memperhitungkan aspirasi buruh secara berarti.

Yuzril Muksin, Ketua Exco Partai Buruh Provinsi Maluku Utara, saat diwawancarai menyampaikan, kondisi kerja di kawasan IWIP sangat tidak manusiawi. “Buruh-buruh di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park dipaksa kerja dengan jam kerja yang panjang. Jam kerja yang panjang ini merupakan faktor yang menyebabkan kecelakan kerja itu bisa terjadi. Tragisnya, upah buruh IWIP tidak sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” ucapnya.

Bung Yuz, demikian sapaan akrabnya, menambahkan, pemerintah, DPR dan perusahaan, hanya mementingkan keuntungan dibandingkan nyawa buruh. “Nyawa buruh di kawasan IWIP tak lebih berharga dari harga tambang. Pemerintah, DPR dan perusahaan hanya mengejar penumpukan keuntungan. Sedangkan nasib buruh tidak pernah diperdulikan,” ungkap bung yus.

Ali Akbar Muhammad, Wakil Sekretaris Partai Buruh, Exco Provinsi Maluku Utara, saat dimintai pandangan, menuturkan, kejadian berulang-ulang di kawasan IWIP. Itu menujukan negara dan pengusaha tidak pernah berpihak pada kepentingan buruh.

“Demi mengejar akumulasi modal. Negara dan pengusaha mengorbankan nyawa buruh. Kecelakaan kerja berulang-ulang tersebut menunjukkan negara dan pengusaha tidak berpihak pada keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan buruh IWIP”, tegasnya.

Bung Ali lalu menegaskan pandanganya, hak-hak normatif ekonomis buruh dan kondisi kerja yang baik, hanya bisa dicapai jika buruh bersatu. “Untuk menyelesaikan kompleksitas masalah buruh di kawasan IWIP. Hanya bisa dicapai jika buruh bersatu membangun organisasi. Organisasi-organisasi buruh di kawasan IWIP tidak hanya memenuhi syarat formal. Namun ia harus menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan buruh. Masalah-masalah normatif buruh itu lahir juga dari hasil kebijakan politik.

Persatuan buruh tersebut juga memerlukan alat politik untuk memperjuangkan hak-hak keselamatan kerja buruh. Ali menekankan Partai Buruh akan senantiasa menjadi otot politik bagi kelas pekerja untuk memperjuangkan keselamatan dan nyawa para pekerja.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Suara Buruh Edisi 16 Januari 2015

Suara Buruh Edisi 16 Januari 2015 memuat berita terkait kekerasan di dalam pabrik baik kekerasa fisik maupun kekerasan seksual. Serta pemogokan buruh PT. Buana Trianggun

Bukan Suratan

Meski rintih perih tak redup,
Majikan makin bringas tanpa jeda,
Dipanggilnya PRT-PRT lain,
Diperintahnya mereka untuk merantai kaki dan tanganku di kandang anjing,
Dengan segala sumpah serapah.

Jalan Terjal Mencari Keadilan

Sore yang cerah, angin yang semilir, gemerisik suara dedaunan menemani setiap langkah kakiku Di setiap putaran, beberapa ekor kucing gembul tampak rebah bersantai di bawah

Orasi Buruh Perempuan Lajang

Sebuah pertarungan yang sering kali dihadapkan pada lawan yang tidak sebanding, yakni kemiskinan. Jutaan buruh gugur dalam kepasrahan dan cita-citanya berserakan tanpa pilihan. Karena itulah buruh tidak pernah menjadi sebuah impian. Karena tidak seorang pun menginginkannya.

Jaminan Sosial untuk Perempuan

Oleh: Dian Septi Trisnanti Malam itu, pelataran taman Fatahilah, Kota Tua tampak gemerlap dengan lampu temaram berwarna pelangi. Di setiap sudut sekumpulan anak muda menebar