Kemerdekaan Buruh Kontrak

Aku warga negara merdeka

Hidup punya pilihan

Pilihan memberi harapan

Aku warga merdeka

 

Pilihan itu datang padaku

Menjawab kebutuhan

Mau makan atau kelaparan?

Aku pilih menolak lapar

 

Tak kenal lelah, pilihan ada lagi untukku

Mau menyebut diri apa, kaya atau miskin?

Tanpa ragu, kupilih menyebut diri ini miskin

 

Selanjutnya, tak perlu lagi aku memilih

Mereka telah membantu menjelaskan

Miskin artinya tak bisa utang bank

Miskin tak boleh jadi pemerintah

Miskin harus kerja

Pekerjaan harus diperebutkan

 

Lalu mereka tambahkan penjelasan

Sebagai pekerja aku masih punya pilihan

Katanya, mau kerja kontrak atau tidak?

Katanya lagi, kalau tidak mau jadi kontrak

Berarti tidak mau pekerjaan.

 

Aku buruh kontrak,

di negeri merdeka

di negeri penuh kebebasan

 

Aku bebas dari hitungan masa kerja

Bebas dari pesangon jika selesai kerja

Bebas dari tunjangan

Bebas dari bayangan masa depan

Bebas tidak berserikat

Bebas tak memiliki apa-apa

 

Aku dibebaskan dari arti kemerdekaan

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

NASIB BURUH KONTRAK HAMIL

Oleh Sri Sulastri (Adon)  Tak kunjung usai perjuangan seorang perempuan yang bekerja di pabrik dengan keadaan yang semakin sulit mendapatkan ‘Hak’, sebagai perempuan yang sedang

Kejanggalan Sidang Perdana Kriminalisasi Septia

Direktur LBH Pers, Ade Wahyudin, yang juga merupakan kuasa hukum Septia, menyatakan bahwa proses persidangan hari ini jauh dari harapan. Ade menekankan bahwa hakim seharusnya sudah memberikan keputusan terkait penangguhan penahanan terhadap Septia, mengingat tim kuasa hukum telah menyerahkan surat permohonan penangguhan tersebut. Namun, majelis hakim menunda keputusan tersebut dengan alasan komposisi hakim yang tidak lengkap. Ade juga mengkritik dakwaan JPU, yang menggunakan pasal-pasal dari UU ITE tahun 2016 yang sudah tidak berlaku karena telah direvisi.

Dongeng Perempuan

gambar diambil dari http://www.deviantart.com/tag/sundelbolong Ini dongeng bukan sembarang dongeng. Karena dongeng ini selalu ada, selalu hidup, di setiap jaman. Padahal.. kalian tahu,  ini dongeng tentang

Narasi Panjang Perjuangan May Day dari Chicago hingga Indonesia

Perayaan 1 Mei pertama kali terekam pada tahun 1918 di Semarang oleh serikat buruh kereta api VSTP. Tokoh-tokoh seperti Semaoen dan Alimin melihat bahwa penindasan buruh oleh kapitalis kolonial adalah dua sisi dari koin yang sama dengan penjajahan politik. Bagi mereka, May Day adalah perlawanan terhadap kolonialisme.

Mengenang Kamerad Timothy dan Eskalasi Perlawanan yang Tak Pernah Mati

Selepas kepergian kamerad Timothy, cuplikan video tentangnya tersebar di dunia maya. Tampak almarhum menyampaikan orasi di sebuah unjuk rasa tentang persoalan pertentangan kelas antara Pemilik modal dan pekerja yang tak akan pernah berdamai. Di video lain, ia dengan lantang menyerukan peningkatan perlawanan terhadap kapitalisme, di sebuah dialog publik tentang militerisme. Bagi kamerad Timothy, alasannya jelas, karena Kapitalisme adalah akar dari militerisme.

Mewarisi Pemikiran Kartini, Berani Mengembangkan Gagasan Progresif 

Di balik dinding pingitan, Kartini mengembangkan gagasan yang berani dan progresif melampaui jamannya. Di tengah kultur sosial masyarakatnya yang kolot, mengecilkan makna gagasan dan pemikiran apalagi dari seorang perempuan, Kartini punya keberanian menggoreskan pena. Lalu apakah menggoreskan pena, jauh lebih tidak berani dari pertarungan gagah berani di medan perang? Medan perang pun butuh siasat dan strategi, sebuah pemikiran yang jitu untuk memenangkan pertarungan. Demikianlah, perjuangan dengan pena adalah sama tajam dan beraninya dengan aksi di medan perang.