RUMAH HANTU

buruh pabrik sedang menginap depan pabrik yang sedang tutup/Marsinah

Pintu pabrik tertutup rapat,
Dua satpam terduduk lesu,
Sesekali berdiri, menerima telpon, berjalan,
Gontai,
Berusaha menembus kebisuan.

Di depan sana,
Gerbang pabrik tertutup rapat,
Gembok bergelantung berkarat,
Rumput liar mendapat celah, Untuk tumbuh, merambat, Tanpa dipangkas oleh Mang Dadu petugas kebersihan.

Dari celah jendela kulihat,
Deretan mesin jahit mulai berdebu,
Laba-laba mulai bersarang,
Mesin jahit jadi rongsokan,
Tak ada lagi suara deru mesin jahit,
Tak terdengar bentak dan cacimaki pengawas karena tak dapat target.

Di ujung sana,
Ratusan buruh bercakap tentang upah yang belum diterima,
Tentang janji-janji pesangon, 0.5 PMTK bagi buruh tetap,
0 PMTK bagi buruh kontrak,
Tentang kehamilan Bu Murni yang masuk bulan ke 5,
Tentang Pak Dayat yang sakit stroke berkepanjangan,
Tentang Anisah, anaknya Pak Mardi yang mau ujian sekolah dan musti bayar 2 juta Rupiah,
Tentang Mira yang diusir dari kost,
Dan banyak lagi masalah buruh menumpuk,
Namun Pengusaha tak tahu entah dimana?
Pemerintah juga tak bersuara.

Mataku nanar menerawang,
16 Tahun silam aku ditinggal kabur pengusahaku ke Taiwan,
Hingga hari ini,
Deretan nama-nama Pabrik yang sebagian besar asal Korea susul- menyusul,
PT Elaine,
PT Victoria,
PT Gerindo,
PT Nortbay,
PT Sambo,
PT Comport,
PT Pandu Dewanata,
PT Myung Sung,
PT Misung,
PT Merindo,
PT Doko,
PT Tun Yun,
PT Fotexo,
PT Tae Yung,
PT Insan Apparel,
Dan segera menyusul,
PT Kwang Lim.

Kutarik nafasku dalam-dalam,
Pabrik-pabrik itu menjadi rumah hantu,
Puluhan ribu buruh perempuan kehilangan pekerjaan,
Kemana mereka?
Masuk konveksi tanpa jaminan sosial, jualan nasi uduk, atau jualan pecel keliling kampung.

Sementara,
Ratusan buruh laki-laki menjadi pedagang kopi keliling, tukang ojek online, atau alih profesi menjadi Pak Ogah di perempatan.

Sebagian buruh sesumbar,
“Karena kalian melawan,
maka Investor kabur,
jadilah buruh yang patuh !!”.

Sebagian menyahut,
“Pabrik tempatku bekerja ga pernah ada mogok, bahkan upah kami di bawah UMP, tapi pengusaha juga kabur, bukan salah kami para buruh mereka kabur,
tapi karena mereka suka mencari ladang basah ke daerah, karena birokrasi berbelit, karena pungli atau bahkan karena kalah saing sesama mereka sendiri”.

Tak perlu berlama-lama risau kawan,
Kesadaran dan pengalaman Juang buruh,
Menghendaki kita segera bertindak,
Terus melaju, berlari, atau bahkan mendaki.

Salam hormat,
Untuk para pejuang yang tiada henti mencari siasat juang,
Untuk memanusiakan manusia.

Jakarta, 28 Pebruari 2018
Gadis Merah

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Buruh Perempuan Menjadi Kepala Rumah Tangga

Namaku Maria, usia 35 tahun, lahir di Bogor. Aku mempunyai empat orang anak perempuan. Setelah ditinggal meninggal suami, aku harus menjadi kepala rumah tangga, pencari

Kesehatan Reproduksi Buruh Perempuan

Siang itu, sebut saja Ina, seperti biasa bekerja di sebuah pabrik garmen di KBN Cakung. Sebuah kawasan industri milik Pemrov DKI. Hari itu, Ina sedang

Bermula Dari Serpihan Semangat Juang

Rapat Akbar FBLP  pada tahun 2011 Oleh Dian Septi Trisnanti  untuk semua kawan yang mendukung dan terlibat dalam perjuangan FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik) Ini

Meretas Jalan Melawan PHK, Kejahatan Kemanusiaan

Dari tahun ke tahun, ribuan angka buruh di PHK dan gelombang PHK hari ini tidak jatuh dari langit, bukan sebuah musibah, bukan pula bencana alam. Ini adalah hasil kebijakan satu rezim kapitalis yang mengorbankan manusia untuk meraup keuntungan yang berlipat lipat ganda.