Perempuan Serukan Aksi 18 Juni:Turunkan Harga, Ciptakan Lapangan Kerja, Hentikan MBG

API mengajukan tujuh tuntutan utama kepada pemerintah, yaitu menurunkan harga BBM dan biaya hidup rakyat, menghentikan dan mengevaluasi total program MBG, menciptakan lapangan kerja layak, menghentikan represi terhadap gerakan rakyat, mencabut kebijakan diskriminatif, menghentikan pembangunan ekstraktif yang merusak ruang hidup, serta memastikan negara bertanggung jawab atas berbagai bentuk kekerasan dan pemiskinan struktural yang dialami rakyat.

Perempuan Indonesia (API) menyerukan aksi massa pada Kamis (18/6/2026) untuk mendesak pemerintahan Prabowo Subianto bertanggung jawab atas memburuknya kondisi hidup rakyat. Dalam siaran pers yang dirilis pada 17 Juni 2026, API menilai kenaikan biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan layak, hingga menyempitnya ruang demokrasi merupakan bagian dari krisis yang lahir dari kebijakan negara yang gagal melindungi rakyat.

Aliansi yang terdiri dari jaringan perempuan, komunitas LGBTIQ, mahasiswa, buruh, masyarakat adat, petani, pekerja informal, pembela HAM, dan kelompok miskin kota itu menyoroti kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar. Menurut mereka, kenaikan harga BBM, listrik, transportasi, obat-obatan, dan kebutuhan pokok semakin memperberat beban hidup masyarakat, terutama perempuan yang selama ini memikul tanggung jawab kerja perawatan di rumah tangga.

API juga menyoroti krisis ketenagakerjaan yang mendorong semakin banyak orang masuk ke pekerjaan rentan. Perempuan, anak muda, dan pekerja informal disebut terjebak dalam kerja kontrak, freelance berupah rendah, magang berkepanjangan, hingga pekerjaan digital tanpa perlindungan ketenagakerjaan yang memadai.

Dalam situasi tersebut, pemerintah dinilai gagal menyediakan lapangan kerja layak bagi rakyat.Di tengah kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat, API mengkritik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap menyerap anggaran besar namun minim transparansi dan pengawasan. Mereka menilai program tersebut berpotensi menimbulkan persoalan tata kelola dan rentan terhadap praktik korupsi jika tidak diawasi secara ketat.

Selain persoalan ekonomi, API juga menyoroti menguatnya represi negara dan penyempitan ruang demokrasi. Revisi UU Polri disebut membuka ruang yang lebih luas bagi anggota kepolisian aktif untuk menduduki jabatan sipil. Kondisi ini dinilai mengancam kebebasan sipil karena gerakan rakyat, mahasiswa, perempuan, buruh, dan pembela HAM semakin rentan mengalami pengawasan, intimidasi, hingga pembungkaman ketika menyampaikan kritik terhadap pemerintah.

Dalam pernyataannya, API menghubungkan krisis ekonomi dengan berbagai bentuk ketidakadilan lain yang dialami kelompok rentan. Mereka menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan, femisida, diskriminasi terhadap kelompok LGBTIQ, serta ancaman yang terus dihadapi masyarakat adat akibat ekspansi proyek ekstraktif dan pembangunan yang merusak lingkungan.

Karena itu, API mengajukan tujuh tuntutan utama kepada pemerintah, yaitu menurunkan harga BBM dan biaya hidup rakyat, menghentikan dan mengevaluasi total program MBG, menciptakan lapangan kerja layak, menghentikan represi terhadap gerakan rakyat, mencabut kebijakan diskriminatif, menghentikan pembangunan ekstraktif yang merusak ruang hidup, serta memastikan negara bertanggung jawab atas berbagai bentuk kekerasan dan pemiskinan struktural yang dialami rakyat.

Sebagai bentuk perlawanan, Aliansi Perempuan Indonesia akan menggelar aksi pada Kamis, 18 Juni 2026 pukul 09.00 WIB dengan rute Dukuh Atas menuju Istana Negara. Peserta aksi diminta mengenakan daster dan membawa panci serta perlengkapan dapur sebagai simbol semakin sulitnya rakyat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.“Kami tidak mau menanggung krisis. Negara harus bertanggung jawab,” tegas Aliansi Perempuan Indonesia dalam pernyataannya.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

1500 Peserta Dari Berbagai Negara Akan Menghadiri KCIF 2024

Diah Irawaty menyatakan, salah satu ekspektasi LETSS Talk dan Konde.co dalam penyelenggaraan KCIF adalah kehadiran agenda berpengetahuan feminisme yang tidak eksklusif, tapi terbuka bagi semua elemen dan entitas feminisme Indonesia. KCIF diharapkan selalu menekankan semangat volunterisme, kolaboratif, kolektif, inklusif, dan interseksional, yang aware pada pluralitas, marginalitas, “vulnerabilitas,” disabilitas, dan “invisibilitas.” Melalui KCIF, gagasan, ide, dan agenda feminisme semakin familiar dan populer, bukan dianggap asing apalagi menakutkan, termasuk di kalangan masyarakat umum.

Surat untuk Ibu, di Hari Ibu

Hmm Desember, bulan ke-12 di tiap tahunnya. Setiap kita dengar bulan Desember, terlintas di benak kita dengan hari Natal, cuti bersama di penghujung tahun. Begitu?

Malam Marah Marsinah

Setiap tahun, kematian Marsinah selalu mengundang aksi dari kaum buruh. Namun, setelah 22 tahun berselang, kasusnya tak kunjung menuju titik terang. Bukan karena upaya dari

Mengenang Kamerad Timothy dan Eskalasi Perlawanan yang Tak Pernah Mati

Selepas kepergian kamerad Timothy, cuplikan video tentangnya tersebar di dunia maya. Tampak almarhum menyampaikan orasi di sebuah unjuk rasa tentang persoalan pertentangan kelas antara Pemilik modal dan pekerja yang tak akan pernah berdamai. Di video lain, ia dengan lantang menyerukan peningkatan perlawanan terhadap kapitalisme, di sebuah dialog publik tentang militerisme. Bagi kamerad Timothy, alasannya jelas, karena Kapitalisme adalah akar dari militerisme.

Seruan Mogok Awak Mobil Tanki Pertamina

Seruan   kepada seluruh Awak Mobil Tanki Pertamina yang ada di seluruh depot-depot Indonesia dan juga kepada seluruh gerakan rakyat : Kepada seluruh kawan-kawan AMT di

Rasinah dan Tari Topeng

Tari Topeng Adakah di antara kita yang mengetahui tari tradisional kita bernama Tari Topeng? Namanya juga tari topeng, tentu saja para penarinya mengenakan topeng. Topeng