Feminisme Mengubah Masyarakat

Seperti dikatakan bell hooks, feminisme berangkat dari kesadaran bahwa penindasan tidak bersifat individual, melainkan terstruktur dalam sistem sosial.

Feminisme sebagai Cara Membaca Penindasan Buruh Perempuan

Selain sebagai gerakan, Feminisme juga dipahami sebagai kerangka analisis untuk membaca bagaimana penindasan bekerja dalam kehidupan perempuan. Seperti dikatakan bell hooks, feminisme berangkat dari kesadaran bahwa penindasan tidak bersifat individual, melainkan terstruktur dalam sistem sosial. Dengan perspektif ini, pengalaman buruh perempuan tidak dilihat sebagai nasib pribadi, tetapi sebagai bagian dari relasi kuasa antara gender, kelas, dan negara.

Feminisme sebagai pisau analisa juga memberi bacaan, bagaimana eksploitasi buruh perempuan terjadi akibat pertemuan antara patriarki dan kapitalisme. Heidi Hartmann menyebut relasi ini sebagai “perkawinan tidak bahagia” antara sistem ekonomi dan sistem gender. Patriarki menempatkan perempuan sebagai pihak yang tunduk dan patuh, sementara kapitalisme memanfaatkan posisi ini untuk menciptakan tenaga kerja murah, fleksibel, dan mudah digantikan. Tubuh perempuan menjadi objek kontrol sekaligus sumber keuntungan.

Kerja Ganda dan Krisis Perawatan

Menurut Nancy Fraser, kapitalisme bergantung pada kerja perawatan yang tidak dibayar di rumah tangga. Buruh perempuan bekerja di ranah produksi tetapi tetap memikul tanggung jawab domestik. Beban ganda ini bukan sekadar masalah individu, melainkan krisis sistemik ketika produksi ekonomi mengorbankan keberlanjutan kehidupan sosial. Tubuh perempuan menjadi medan konflik antara kerja upahan dan kerja perawatan.

Dalam konteks global, eksploitasi buruh perempuan meluas melalui migrasi tenaga kerja. Rhacel Parreñas menjelaskan bahwa perempuan dari negara berkembang menopang kehidupan keluarga di negara maju melalui kerja perawatan. Fenomena ini membentuk “global care chains”, dimana kasih sayang, tenaga, dan emosi diperdagangkan lintas batas negara. Kapitalisme global tidak hanya memindahkan barang, tetapi juga memindahkan kerja reproduksi perempuan.

Kerja Tidak Terlihat yang Dianggap Alamiah

Silvia Federici menunjukkan bahwa kerja domestik perempuan disembunyikan agar tampak sebagai kodrat, bukan sebagai kerja ekonomi. Ketika merawat dianggap tugas alami perempuan, maka eksploitasi menjadi tidak terlihat.

Feminisme membongkar ilusi ini dengan menegaskan bahwa memasak, merawat anak, dan menopang keluarga adalah kerja yang menopang sistem produksi. Tanpa kerja ini, kapitalisme tidak dapat berjalan.

Dari Kesadaran ke Perubahan Kebijakan

Pengalaman tubuh perempuan yang sebelumnya dianggap urusan privat kemudian menjadi agenda publik melalui perjuangan feminis. Carole Pateman menjelaskan bahwa negara modern dibangun di atas kontrak sosial yang mengecualikan perempuan. Karena itu, kebijakan seperti cuti melahirkan, perlindungan dari kekerasan kerja, dan hak kesehatan reproduksi lahir dari kritik feminis terhadap negara yang netral secara palsu. Teori berubah menjadi alat politik.

Dengan feminisme, eksploitasi buruh perempuan dapat dipahami secara utuh; dari rumah ke pabrik, dari lokal ke global. Kimberlé Crenshaw menunjukkan bahwa penindasan tidak tunggal, melainkan berlapis melalui gender, kelas, dan migrasi. Dengan kata lain, feminisme memberi jalan menuju perubahan masyarakat yang lebih setara, tanpa penindasan.

Feminisme memberi bahasa untuk menamai penindasan, sekaligus membangun kesadaran kritis, sebagaimana dikatakan Paulo Freire, bahwa pembebasan dimulai dari memahami struktur yang menindas.

catatan: tulisan singkat ini dibawakan di Diskusi Perempuan Mahardhika “Feminisme Mengubah Masyarakat”, Jumat, 13 Februari 2026

Referensi

Crenshaw, K. (1989).Demarginalizing the intersection of race and sex: A Black feminist critique of antidiscrimination doctrine, feminist theory and antiracist politics. University of Chicago Legal Forum, 1989(1), 139–167.

Federici, S. (2012).Revolution at point zero: Housework, reproduction, and feminist struggle. Oakland, CA: PM Press.

Fraser, N. (2016).Contradictions of capital and care. New Left Review, 100, 99–117.

Hartmann, H. (1979).The unhappy marriage of Marxism and feminism: Towards a more progressive union. Capital & Class, 8(2), 1–33. https://doi.org/10.1177/030981687900800102

hooks, b. (2000).Feminism is for everybody: Passionate politics. Cambridge, MA: South End Press.

Parreñas, R. S. (2001).Servants of globalization: Women, migration and domestic work. Stanford, CA: Stanford University Press.

Pateman, C. (1988).The sexual contract. Stanford, CA: Stanford University Press.

Freire, P. (1970).Pedagogy of the oppressed. New York, NY: Continuum.

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Jam Molor Peradilan Sesat

dari kiri ke kanan, Ibnu Basuki Widodo, Suradi dan Djaniko. Ketiganya adalah majelis hakim peradilan sesa/dev.marsinah.id Oleh Ambar Angka jarum jam di ruang sidang menunjuk

Meena, Melawan Sistem Kasta Dengan Menulis

Sahabat marsinah tentu sebagian menggemari lagu dan film India, pun juga pasti suka dengan Bolliwood Hits yang menyuguhkan lagu-lagu India. Nah, Perempuan Pelita yang hadir

Mengenal Seluk Beluk Upah

Mau nanya kak, apa sih bedanya UMP, UMK dan UMR. Terus kenapa sih kak, beda-beda jumlahnya? Apa yang bikin beda dan gimana sih nentuinnya kak? Kalau misal teman aku di Bekasi, dia ikut UMK bekasi atau UMP Jabar ya kak?

Cerita May Day Pertamaku

Oleh Atly Serita May Day Pertamaku dan Pasti Bukan Yang Terakhir Pengalaman pertama pasti berkesan bagi siapa saja. Begitu pula dengan May Day pertamaku. Aku

Eyang Lestari, Berjuang Sepanjang Usia

Eyang Lestari (tengah). foto diambil dari http://www.thejakartapost.com/news/2012/09/29/ignorance-helps-excuse-mass-killings.html Pejuang Perempuan Tangguh Itu Akhirnya Tiada Mugiyanto, seorang aktivis HAM sekaligus korban penculikan 1998  menuliskan untaian duka melalui akun

Melawan Patriarki

Aku seorang buruh pabrik plastik sekaligus ibu rumah tangga. Usia pernikahanku sudah berjalan kurang lebih 8 tahun. Tetapi aku merasa baru hidup setahun belakangan ini.