Tuyul dan Target

Tuyul dalam dunia kurir jangan dibayangkan adalah makhluk gaib berupa anak-anak gundul yang gemar mencuri duit seperti dalam film-film horor Indonesia. Ia adalah pembantu kurir yang bekerja secara tidak resmi. Seorang kurir biasanya memiliki satu atau dua tuyul yang membantu mengantarkan paket.

Penulis: Kim Al Ghozali

Saya pernah bekerja sebagai kurir selama 3,5 tahun di perusahaan e-commerce besar. Mulai dari berstatus “karyawan mitra” (istilah yang aneh!) sampai “karyawan kontrak”. Mulai dari target kiriman lima puluh lima paket sampai tiga ratus paket per hari (bahkan empat ratus paket di momen tertentu setiap bulannya). Dalam kurun waktu itu, saya menyaksikan bagaimana pekerjaan ini berubah cepat. Saya pun hafal seluk-beluk ekspedisi, tipikal buyer/pelanggan, sampai cara mengatasi target kiriman (jumlah paket) maupun target waktu (SLA). Namun, di tulisan ini bukan hal-hal seperti itu yang akan saya ceritakan. Saya ingin bercerita tentang “tuyul”.

Ya, tuyul!

Tuyul dalam dunia kurir jangan dibayangkan adalah makhluk gaib berupa anak-anak gundul yang gemar mencuri duit seperti dalam film-film horor Indonesia. Ia adalah pembantu kurir yang bekerja secara tidak resmi. Seorang kurir biasanya memiliki satu atau dua tuyul yang membantu mengantarkan paket. Mereka bukan pegawai perusahaan, tidak terdaftar dalam sistem, dan secara aturan perusahaan praktik ini sebenarnya dilarang karena melanggar SOP, meski atasan di HUB biasanya “tutup mata”. Dan hampir semua kurir di lapangan mempraktikkannya—saya termasuk yang tidak memiliki tuyul reguler, hanya melakukannya di saat-saat tertentu.

Seorang kurir bisa membawa tiga ratus paket dalam sehari, tetapi mungkin hanya mengantar seratus paket sendiri. Selebihnya dibagi kepada dua tuyul yang masing-masing membawa seratus paket. Hitungan upahnya sederhana: per paket. Jika kurir dibayar Rp1.500 per paket oleh perusahaan, tuyul juga dibayar Rp1.500 per paket. Jika ia membawa tiga ratus paket dan dua ratus dikerjakan tuyul, maka secara ekonomi ia hanya menerima upah dari seratus paket yang ia antar sendiri. Sisanya hanya menjadi arus uang yang mengalir dari perusahaan ke tangan lain melalui dirinya. Uang numpang lewat.

Fenomena ini seperti trik kecil untuk menyiasati pekerjaan. Tapi mari kita amati dalam kerangka teori yang besar. Jika dicermati lebih dalam, ia menunjukkan sesuatu yang penting tentang cara kapitalisme modern bekerja. Marx mengatakan bahwa kapitalisme selalu berusaha meningkatkan produktivitas tenaga kerja, salah satunya dengan meningkatkan intensitas kerja. Buruh tidak hanya diminta bekerja lebih lama, di sisi lain juga lebih cepat dan lebih padat dalam waktu yang sama. Target pengiriman adalah alat paling efektif untuk melakukan itu.

Bagi perusahaan, target tentu dalam laporan. Tapi bagi pekerja, tak lain merupakan mekanisme pendisiplinan tubuh. Target membuat waktu terasa sempit. Membuat setiap menit menjadi penting. Semua kurir tahu bahwa jika paket tidak selesai hari itu, masalah akan muncul: evaluasi, teguran, atau bahkan pemutusan kontrak dan di-kick dari pekerjaannya. Target menjadi tekanan yang terus-menerus hadir dalam kepala pekerja.Ketika target semakin tinggi sementara waktu dan tenaga tetap sama, kurir harus mencari cara menyelesaikan pekerjaan. Dalam logika sederhana, jika satu orang tidak cukup, harus ada orang lain yang membantu. Tetapi perusahaan tidak menambah pekerja secara resmi. Dan di sinilah peluang tuyul mulai masuk. Solusi yang muncul dari bawah: kurir merekrut pekerja sendiri, menciptakan sistem subkontrak kecil-kecilan di dalam pekerjaan mereka.

Dari sudut pandang Marxis, ini bisa dibaca bagaimana buruh dipaksa mengorganisasi tenaga kerja lain demi memenuhi tuntutan produksi perusahaan. Secara formal, perusahaan hanya memiliki satu pekerja: kurir terdaftar. Tetapi secara faktual, pekerjaan itu sering dikerjakan oleh dua atau tiga orang. Selisihnya ditutup oleh praktik informal yang tidak tercatat. Yang menarik, kurir biasanya tidak mengambil keuntungan dari tuyul. Upah yang diberikan hampir selalu sama dengan yang ia terima upah per paket dari perusahaan. Tidak ada margin, tidak ada surplus. Kurir tidak berubah menjadi kapitalis kecil yang mengeksploitasi pekerja lain. Ia hanya berbagi beban pekerjaan yang terlalu besar untuk satu orang. Dalam bahasa sederhana: eksploitasi yang datang dari atas didistribusikan ke bawah.

Perusahaan tidak perlu memikirkan bagaimana pekerjaan itu dilakukan. Selama paket sampai ke tangan pelanggan, sistem dianggap berhasil. Tuyul menjadi cara menutup celah antara target tinggi dan kemampuan manusia yang terbatas. Praktik ini sudah menjadi rahasia umum di ekpedisi tempat saya bekerja, dan jarang mendapat teguran serius atasan selama target tercapai dan tidak ada komplain dari buyer.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana kapitalisme modern memindahkan sebagian tanggung jawab organisasi kerja dari perusahaan kepada pekerja itu sendiri. Perusahaan hanya menetapkan target dan sistem pembayaran. Sisanya diselesaikan kurir dengan cara mereka sendiri: punya motor dan ponsel sebagai alat kerja, mengatur rute, membagi paket, bahkan merekrut tenaga tambahan. Pekerja menjadi bukan hanya menjual tenaga kerja, lebih dari itu ia dipaksa mengelola proses kerja itu sendiri.Hal ini menciptakan bentuk baru kerja informal. Tuyul biasanya berasal dari kalangan yang sama: teman atau saudara yang tak memiliki pekerjaan. Mereka bekerja tanpa kontrak, tanpa jaminan, dan tentu tanpa perlindungan. Namun tanpa mereka, sistem pengiriman yang sangat cepat itu mungkin tidak akan berjalan efisien. Sebuah ironi teknologi digital, dipuji sebagai simbol kemajuan ekonomi modern—platform logistik dengan sistem distribusi canggih—di baliknya justru bergantung pada jaringan kerja informal yang tak terlihat.

*

Namun, tidak semua kurir mengalami hal yang sama. Lain kurir motor, lain kurir mobil. Jika kurir motor sehari-hari bergulat dengan target dan paket tanpa margin dari tuyul, kurir mobil menghadapi tekanan yang sama tetapi dengan peluang berbeda. Tarif per paket mereka lebih tinggi, misalnya Rp5.000, karena bobot dan dimensi paketnya lebih besar daripada paket kurir motor. Ketika mereka menggunakan tuyul (tuyulnya melakukan pengiriman menggunakan motor), biaya per paket untuk tuyul hanya separuh harga; Rp2.500. Artinya, meski kurir mobil tidak mengantar seluruh paket sendiri, mereka tetap memperoleh keuntungan bersih. Praktik yang bagi kurir motor hanya menutupi target, bagi kurir mobil menjadi sumber surplus pribadi.

Dalam kerangka Marx, ini bisa disebut petty bourgeois tendency—kecenderungan buruh kecil mengambil peran kapitalis dalam skala terbatas. Kurir mobil tetap buruh di bawah tekanan target, namun di sisi lain mereka mulai menempati posisi “semi-pemilik modal kecil”. Mobil sebagai alat produksi, tuyul sebagai tenaga kerja yang menciptakan nilai lebih. Mereka masih terikat sistem target perusahaan, tetapi sebagian nilai lebih yang sebelumnya “hilang” di tangan perusahaan kini masuk ke kantong mereka sendiri.

Tetapi tentu keuntungan ini tidak semata-mata menciptakan keadilan. Justru ia memperlihatkan stratifikasi internal di antara buruh. Kurir motor tetap menanggung beban target dan tekanan tanpa margin, sementara kurir mobil memetik keuntungan kecil dari perbedaan tarif dan kemampuan mengelola tenaga tambahan alias tuyul. Sistem platform atau perusahaan tidak berubah. Ia tetap menuntut semua pekerja memenuhi target tinggi dan memaksimalkan produktivitas. Yang berubah hanyalah posisi relatif dalam jaringan buruh itu sendiri.

Praktik demikian memperlihatkan “logika redistribusi informal” dalam kapitalisme digital. Perusahaan menetapkan target dan sistem pembayaran, lalu menyerahkan organisasi kerja kepada buruh. Pekerja yang mampu menyesuaikan diri dapat mengambil keuntungan kecil. Pekerja yang kurang beruntung, atau hanya membawa motor, tetap bekerja keras tanpa surplus. Sistem tampak adil secara algoritmik karena semua mengikuti aturan target, namun secara sosial-ekonomi ia menegaskan ketimpangan baru.

Stratifikasi ini juga menimbulkan dilema etis di antara buruh. Kurir motor mungkin iri melihat kurir mobil untung, tetapi mereka sendiri tidak bisa melakukan hal yang sama tanpa modal (mobil). Sistem menciptakan ketegangan internal, memperkuat logika kompetisi, dan sekaligus menutupi kontradiksi struktural: perusahaan mendapatkan surplus dari semua pekerja, sementara pekerja bersaing satu sama lain hanya untuk bertahan hidup.

Buat kurir mobil, keuntungan ini adalah strategi bertahan hidup dalam sistem yang menindas. Keuntungan yang didapat hanya muncul karena mereka memanfaatkan celah sistem (bukan karena keramahan dan keadilan sistem). Sementara itu, mayoritas buruh tetap bekerja keras, sebagian tanpa margin, dan tetap terasing dari nilai penuh kerja mereka.

Poin terakhir ini bisa disebut sebagai bentuk baru alienasi tenaga kerja. Pekerja tidak hanya terasing dari hasil kerjanya, juga dari struktur kerja itu sendiri. Mereka bekerja dalam sistem yang sangat besar, sedangkan posisi mereka di dalamnya tetap rapuh. Setiap hari mereka mengantarkan ratusan paket yang menjadi bagian dari perputaran ekonomi digital yang sangat besar. Namun di akhir hari, yang mereka terima tetaplah angka kecil per paket. Dalam kasus kurir mobil yang menggunakan tuyul sekalipun, keuntungan yang mereka peroleh tidak mengubah fakta bahwa mereka tetap alien terhadap sistem yang lebih besar—perusahaan yang mengatur target.

Karena itu istilah “tuyul” mungkin terasa begitu pas. Dalam cerita mistik, tuyul adalah makhluk kecil yang membantu seseorang mengambil uang dari tempat lain secara diam-diam. Si pemelihara tuyul biasanya menjadi kaya. Bedanya dalam dunia kurir, tuyul yang dipelihara bekerja diam-diam, membantu sistem ekonomi yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri untuk mengumpulkan laba bagi kapitalis. Sementara para kurir—baik yang bermotor maupun bermobil—hanyalah bagian dari mesin besar kapitalisme platform, di mana kemenangan kecil individu tidak menghapus eksploitasi sistemik. Ia hanya menjadi cermin dari kontradiksi kapitalisme modern, buruh dipaksa menjadi manajer kecil atas tenaga kerja informal dan atas ketimpangan yang diciptakan di antara mereka.[]

Biodata: Kim Al Ghozali, penyair kelahiran di Probolinggo dan kini mukim di Surabaya. Buku terbarunya: Setelah Deru Paku dan Palu (JBS, 2025)

Facebook Comments Box

Artikel Lainnya

Bekerja dan Mogok untuk Hidup

Voni. Ketika Berkunjung ke Taman Baca Anak  Bekerja, Jalan Keluar Dari Himpitan Ekonomi Menjadi buruh KBN Cakung sudah menjadi keinginan saya, jadi saya pun mencari

Kabar May Day dari Berlin

Mulai Dari Keberagaman Hingga Keikutsertaan Anak Oleh: Muthmainnah (Mahasiswa Bidang Labour Policies and Globalization di Berlin School of Economics and Law) Izinkanlah dalam tulisan ini,

Buruh Belajar Berserikat

Oleh Atly Serita  Berserikat untuk Hak  Beberapa hari lalu,  aku menerima sms dari salah satu kawan yang bekerja di KBN Cakung. Dulu, aku dan ia

Layar

‘Layar’ berupa pembacaan karya sastra pendek tentang persoalan dan perjuangan buruh perempuan, dari sastra popular atau karya kiriman pendengar. Mengudara tiap hari Rabu dan Sabtu

TOLAK PERPPU CIPTA KERJA, JOKOWI PENGKHIANAT RAKYAT & KONSTITUSI

Melalui Perppu Cipta Kerja, Pemerintah mencabut UU Cipta Kerja namun tetap memberlakukan peraturan pelaksana UU Cipta Kerja, untuk memberi jaminan kepastian hukum pada investor di Indonesia. Disebutkan dalam keterangan pers Pemerintah, bahwa penerbitan Perppu Cipta Kerja dibuat karena masalah ekonomi global dan geopolitik yang berdampak besar pada perekonomian Indonesia, yang tidak memiliki kepastian hukum pasca UU Cipta Kerja dinyatakan inkonstitusional.