Simak Suara Buruh Edisi 26 Agustus 2015. Menghadirkan Peristiwa Urut Sewu, Buruh Pelabuhan Masih Memprihatinkan, dan Mundurnya Gerakan Sosial Indonesia
Facebook Comments Box
Simak Suara Buruh Edisi 26 Agustus 2015. Menghadirkan Peristiwa Urut Sewu, Buruh Pelabuhan Masih Memprihatinkan, dan Mundurnya Gerakan Sosial Indonesia






“Di Indonesia, sudah kurang lebih 73 dokter yang telah meninggal karena terpapar Covid-19 dan itu belum dihitung dengan perawat”, tutur Elisa Sutanudjaja, Direktur Eksekutif Rujak

Pengawas: Hey Srintil, besok kamu jangan ikutin gaya orang serikat ya, datang jam 7 pulang jam 4. Udah seperti bos aja. Srintil: Lho kenapa, Mbak?

22 tahun mengarungi mahligai rumah tangga, Melati hanya mengecap manisnya hidup bersama di 5 tahun pertama. Ketika ujian datang dengan buruknya kondisi ekonomi, suami berubah

‘UNION’ berupa talkshow interaktif tentang aktivitas berkumpul dan berorganisasi. Hari Minggu tiap minggu II dan IV, jam 7 malam – 8 malam, dipandu oleh Bro

Oleh Atly Serita Ramadhan Tiba, Pengaduan Marak Sudah menjadi tradisi, setiap bulan puasa dan menjelang Hari Raya Idul fitri, banyak sms pengaduan. Bahkan ada yang

Aku (seperti halnya perempuan di manapun berada) dan Kartini secara pragmatis sama-sama perempuan. Kita hanya berbeda status sosial. Tapi penderitaan yang dialami semua perempuan sejak kematiannya sampai kepada hari ini tidak berubah.

Melihat ketidakadilan ini, serikat buruh terbesar saat itu, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang berafiliasi dengan PKI, mulai bergerak. Mereka mengorganisir aksi mogok dan protes besar-besaran pada 13 Februari 1952 menuntut THR untuk semua pekerja